
Istilah “healing” semakin populer di kalangan Gen Z. Mulai dari liburan, nongkrong di kafe, menikmati alam, hingga sekadar mengambil waktu untuk diri sendiri, semuanya bisa disebut sebagai healing.
Tapi, mengapa Gen Z begitu dekat dengan fenomena healing?
Salah satu alasannya adalah tekanan kehidupan yang semakin kompleks. Gen Z harus menghadapi tuntutan pendidikan, pekerjaan, ekonomi, hubungan sosial, hingga tekanan dari media sosial. Melihat pencapaian orang lain setiap hari juga dapat memicu FOMO, rasa tertinggal, dan kelelahan mental.
Karena itu, healing menjadi cara untuk berhenti sejenak dan mengisi kembali energi.
Healing Tidak Harus Mahal
Menariknya, healing tidak selalu berarti pergi liburan atau menghabiskan banyak uang. Membaca buku, olahraga, mendengarkan musik, tidur cukup, menikmati kopi, bermain dengan hewan peliharaan, atau menghabiskan waktu sendirian juga bisa menjadi bentuk self-care.
Yang penting bukan seberapa mahal aktivitasnya, tetapi apakah aktivitas tersebut membuat diri merasa lebih tenang dan kembali berenergi.
Ketika Healing Menjadi Tren
Media sosial ikut membuat healing semakin populer. Foto sunset, traveling, café, staycation, hingga solo date sering ditampilkan sebagai bagian dari gaya hidup.
Masalahnya, healing bisa berubah menjadi tekanan baru jika dianggap harus selalu mahal dan Instagramable.
Padahal, healing bukan kompetisi gaya hidup.
Healing juga bukan berarti melarikan diri dari masalah. Istirahat memang penting, tetapi persoalan yang lebih serius tetap perlu dihadapi dan, bila diperlukan, dibicarakan dengan orang yang tepat atau tenaga profesional.
POV: Gen Z Bukan Malas, Mereka Hanya Berani Bilang Capek
Fenomena healing mungkin bukan sekadar tren.
Di balik istilah tersebut terdapat kebutuhan sederhana: Gen Z ingin punya waktu untuk berhenti sejenak dari kehidupan yang serba cepat.
Jadi, daripada menganggap Gen Z “dikit-dikit healing”, mungkin lebih menarik melihatnya dari perspektif lain:
Mereka bukan malas. Mereka hanya lebih berani mengakui bahwa dirinya sedang lelah.
Dan terkadang, berhenti sebentar bukan berarti menyerah. Kita hanya sedang mengambil napas sebelum kembali berjalan.
(EGA)
