
Ada pemandangan yang beberapa tahun lalu mungkin terasa aneh: seseorang pergi ke kafe, konser, liburan, atau sekadar nongkrong bersama teman, tetapi bukan smartphone terbaru yang paling sering digunakan untuk memotret. Di tangan mereka justru terdapat kamera digital kecil keluaran belasan tahun lalu, lengkap dengan bodi mungil, layar LCD yang sederhana, flash yang cukup menyala terang, bahkan terkadang baterai dan charger yang sudah sulit ditemukan.
Fenomena tersebut kini semakin mudah ditemui, terutama di kalangan anak muda. Kamera digital compact lawas atau yang lebih populer dengan sebutan digicam kembali menjadi barang yang dicari, bahkan kamera bekas dari era 2000-an yang dahulu dianggap sudah ketinggalan zaman kini justru memiliki nilai tersendiri.
Tren ini bukan sekadar nostalgia sesaat. Di Indonesia, Google Search untuk kata “digicam” disebut meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan 2022 dan mencapai puncaknya pada Maret 2025. Di TikTok, tagar #digicam juga telah mengumpulkan ratusan juta unggahan.
Menariknya, fenomena tersebut masih berlanjut hingga 2026. Sejumlah media fotografi bahkan mencatat bahwa pencarian terhadap istilah “digicam” dan “digi cam” mencapai level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Ketika Kamera Smartphone Justru Terlalu Sempurna
Ironisnya, kebangkitan kamera poket digital terjadi ketika kamera smartphone berada pada titik perkembangan yang sangat maju. Ponsel masa kini mampu menghasilkan foto dengan resolusi tinggi, HDR, stabilisasi, mode malam, pengolahan berbasis AI, hingga kemampuan memperbaiki wajah dan pencahayaan secara otomatis.
Namun justru kesempurnaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kamera digital lama kembali menarik perhatian.
Foto yang dihasilkan digicam biasanya memiliki keterbatasan yang dahulu dianggap sebagai kekurangan. Warna bisa sedikit meleset, pencahayaan tidak selalu sempurna, gambar dapat terlihat grainy, dan ketika objek bergerak cepat hasilnya mungkin sedikit blur. Flash bawaan juga sering menghasilkan pencahayaan yang keras dan khas.
Bagi pengguna masa kini, semua “ketidaksempurnaan” tersebut justru menjadi karakter.
Sejumlah pengguna muda misalnya, mengaku lebih menyukai hasil digicam karena terasa berbeda dari kamera smartphone yang dianggap terlalu bersih dan rapi. Efek grain, warna yang khas, serta pengalaman memotret menggunakan perangkat fisik memberikan sensasi yang tidak selalu diperoleh ketika menggunakan ponsel.
Dengan kata lain, ketika teknologi smartphone berusaha membuat foto semakin sempurna, digicam justru menawarkan sesuatu yang berlawanan: foto yang terasa lebih spontan, mentah, dan tidak terlalu dipoles.
Nostalgia Y2K Menjadi Bahan Bakar
Ada faktor lain yang membuat kamera poket lawas semakin menarik, yaitu kebangkitan estetika Y2K.
Gaya berpakaian, musik, desain, hingga perangkat teknologi dari akhir 1990-an dan awal 2000-an kembali masuk ke dalam budaya populer. Kamera digital yang dahulu menjadi simbol teknologi modern pada masanya kini ikut menjadi bagian dari estetika tersebut.
Bagi generasi yang tumbuh pada era smartphone, kamera digital lawas bahkan bisa terasa seperti benda vintage yang memiliki cerita. Sementara bagi generasi yang pernah menggunakan kamera semacam ini, perangkat tersebut membawa kembali kenangan ketika foto belum langsung masuk ke galeri cloud dan belum bisa dibagikan ke media sosial hanya dalam hitungan detik.
Ada proses yang lebih lambat ketika menggunakan digicam. Mengeluarkan kamera dari tas, menyalakannya, membidik, menekan tombol shutter, lalu memindahkan foto ke komputer atau perangkat lain membuat aktivitas memotret terasa sebagai sebuah kegiatan tersendiri.
Pengalaman semacam inilah yang membuat digicam tidak lagi sekadar dipandang sebagai alat fotografi.
Ia mulai menjadi bagian dari gaya hidup.

Foto Grainy Justru Dianggap Lebih “Hidup”
Salah satu daya tarik terbesar digicam adalah karakter visualnya.
Kamera compact generasi awal 2000-an umumnya menggunakan sensor kecil dan teknologi pemrosesan gambar yang jauh lebih sederhana dibandingkan kamera smartphone saat ini. Hasilnya bisa berupa warna yang lebih khas, highlight yang mudah terbakar, noise pada kondisi minim cahaya, serta detail yang tidak setajam kamera modern.
Namun justru karakter tersebut yang dicari.
Media fotografi Digital Camera World mencatat bahwa kamera digital compact berusia sekitar 20 tahun, termasuk model dengan resolusi hanya sekitar 5–7 megapiksel, kini kembali diminati. Bahkan toko kamera bekas di Jepang melaporkan mayoritas pembelinya untuk kamera-kamera lawas tersebut berasal dari pembeli internasional.
Bagi sebagian pengguna, foto yang sedikit blur atau grainy terasa lebih personal karena tidak memberikan kesan seperti gambar yang diproses secara berlebihan.
Di tengah banjir foto yang sangat tajam dan seragam di media sosial, gambar yang memiliki “cacat” justru dapat terlihat lebih menonjol.
Digicam Juga Mengubah Cara Orang Mengabadikan Momen
Ada alasan lain yang tidak kalah menarik, yaitu keinginan untuk memisahkan aktivitas memotret dari aktivitas menggunakan smartphone.
Ketika menggunakan ponsel untuk mengambil gambar, seseorang sebenarnya membawa perangkat yang sama untuk menerima pesan, membuka media sosial, membaca berita, bekerja, bermain gim, dan berbagai aktivitas lainnya. Kamera hanya menjadi salah satu fungsi dari perangkat tersebut.
Digicam menawarkan pengalaman yang lebih fokus.
Ketika seseorang membawa kamera poket ke sebuah acara, fungsi perangkat tersebut memang sederhana: memotret. Tidak ada notifikasi WhatsApp yang muncul di layar, tidak ada godaan untuk membuka Instagram setelah mengambil foto, dan tidak ada keharusan langsung mengedit gambar dengan berbagai filter.
Inilah salah satu alasan kebangkitan kamera compact tidak hanya berkaitan dengan kualitas gambar. Washington Post mencatat bahwa daya tarik digicam bagi pengguna muda juga berkaitan dengan pengalaman fotografi yang lebih bebas dari distraksi smartphone serta keinginan mendapatkan tampilan visual yang berbeda.
Dari Barang Bekas Menjadi Aksesori Gaya Hidup
Perubahan persepsi terhadap kamera poket digital juga cukup menarik jika dilihat dari sisi budaya konsumsi.
Dulu, membeli kamera digital bekas sering dianggap sebagai pilihan karena keterbatasan anggaran. Orang mencari kamera second karena belum mampu membeli kamera baru atau karena membutuhkan perangkat cadangan.
Kini alasannya bisa berbalik.
Seseorang justru mencari kamera bekas karena menginginkan model tertentu yang sudah tidak diproduksi lagi. Canon PowerShot, Sony Cyber-shot, Nikon Coolpix, Panasonic Lumix, hingga berbagai kamera compact lawas lainnya menjadi objek perburuan karena masing-masing mempunyai karakter hasil foto yang berbeda.
Beberapa model bahkan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan akibat meningkatnya permintaan. Canon PowerShot G7 X Mark III, misalnya, tetap sangat populer di kalangan kreator hingga 2026 dan unit bekasnya di sejumlah pasar bahkan dapat dijual jauh di atas harga ritel awalnya.
Kamera yang dahulu mungkin hanya tersimpan di laci kini bisa kembali digunakan untuk membuat konten, memotret outfit, mendokumentasikan perjalanan, atau sekadar mengambil foto bersama teman.
Media Sosial Ikut Membesarkan Tren
Tidak bisa dipungkiri, TikTok dan Instagram mempunyai peran besar dalam menghidupkan kembali kamera lawas.
Foto yang dihasilkan digicam memiliki karakter visual yang mudah dikenali. Flash yang keras, warna agak kekuningan, efek grain, sedikit blur, dan nuansa low-fi membuatnya berbeda dari foto smartphone yang sangat bersih.
Ketika foto-foto tersebut muncul berulang kali di media sosial, digicam akhirnya bukan hanya menjadi alat fotografi, tetapi juga menjadi bagian dari estetika konten.

Tren tersebut kemudian menciptakan siklus yang menarik. Semakin banyak orang melihat foto digicam, semakin besar rasa penasaran untuk mencobanya. Ketika permintaan meningkat, semakin banyak kamera bekas yang kembali dicari. Setelah kamera tersebut digunakan, foto-fotonya kembali muncul di media sosial dan memancing pengguna lain untuk ikut mencoba.
Pada titik tertentu, kamera yang sebelumnya dianggap teknologi usang berubah menjadi benda yang memiliki nilai budaya baru.
Apakah Semua Kamera Digital Bekas Layak Diburu?
Tentu tidak.
Popularitas digicam bukan berarti setiap kamera digital lawas otomatis menghasilkan foto menarik. Kondisi sensor, lensa, baterai, flash, tombol, layar, media penyimpanan, hingga kompatibilitas charger tetap perlu diperhatikan sebelum membeli.
Kamera yang terlalu tua juga berpotensi memiliki masalah teknis karena sebagian komponennya sudah berusia belasan atau bahkan lebih dari dua puluh tahun. Karena itu, membeli kamera bekas sebaiknya tidak hanya berdasarkan bentuk kamera atau mereknya, tetapi juga memeriksa kondisi fisik dan memastikan fungsi utamanya masih bekerja.
Yang tidak kalah penting, jangan terjebak hanya karena sebuah kamera sedang viral di TikTok atau Instagram. Karakter gambar yang disukai seseorang belum tentu sama dengan orang lain.
Pada Akhirnya, Digicam Bukan Soal Spesifikasi
Jika dilihat dari spesifikasi, kamera poket digital lawas jelas sulit bersaing dengan smartphone modern. Resolusinya mungkin lebih rendah, layarnya kecil, konektivitasnya terbatas, dan kemampuan videonya jauh dari standar perangkat masa kini.
Namun di situlah letak menariknya.
Tren digicam menunjukkan bahwa dalam gaya hidup, sesuatu tidak selalu dinilai berdasarkan seberapa canggih teknologi yang digunakan. Ada kalanya orang justru mencari pengalaman, karakter, dan perasaan yang tidak bisa diberikan oleh teknologi terbaru.
Kamera digital bekas menjadi menarik bukan karena mampu mengalahkan kamera smartphone, melainkan karena ia menawarkan sesuatu yang berbeda. Foto yang tidak terlalu sempurna, proses memotret yang lebih sederhana, bentuk kamera yang mungil, serta nuansa nostalgia membuat aktivitas fotografi terasa lebih personal.
Mungkin itulah alasan mengapa kamera yang pernah dianggap sebagai teknologi masa lalu kini kembali masuk ke dalam tas anak muda masa kini.
Di tengah dunia yang semakin cepat, semakin tajam, dan semakin banyak diproses oleh teknologi, sebuah foto yang sedikit blur dan grainy ternyata bisa terasa jauh lebih “manusiawi”.
(EGS)
