Self diagnose di kalangan Gen Z semakin sering menjadi pembahasan di era media sosial. Berbagai konten mengenai kesehatan mental seperti ADHD, anxiety, depresi, burnout, hingga OCD mudah ditemukan di TikTok, Instagram, YouTube, dan Google.
Tidak sedikit anak muda yang kemudian merasa memiliki gejala yang sama dengan konten tersebut dan langsung menyimpulkan kondisi dirinya sendiri.
Fenomena ini sebenarnya memiliki sisi positif karena menunjukkan meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap kesehatan mental. Namun, self diagnose tanpa pemeriksaan profesional juga memiliki risiko yang tidak boleh diabaikan.
Apa Itu Self Diagnose?
Self diagnose adalah tindakan menyimpulkan bahwa seseorang mengalami penyakit atau kondisi tertentu berdasarkan informasi yang ditemukan sendiri, tanpa melalui pemeriksaan atau evaluasi dari tenaga profesional.
Dalam konteks kesehatan mental, seseorang mungkin membaca artikel, menonton video TikTok, atau melihat unggahan Instagram mengenai gejala tertentu. Ketika merasa beberapa gejalanya mirip, muncul kesimpulan bahwa dirinya mengalami gangguan tersebut.
Padahal, memiliki gejala yang sama belum tentu berarti seseorang memiliki diagnosis yang sama.
Satu gejala dapat muncul karena berbagai faktor, seperti stres, kurang tidur, tekanan pekerjaan atau pendidikan, masalah hubungan, perubahan lingkungan, maupun kondisi kesehatan lainnya.
Mengapa Self Diagnose Banyak Dilakukan Gen Z?
Ada beberapa faktor yang membuat fenomena self diagnose semakin populer di kalangan Gen Z.
1. Informasi Kesehatan Mental Mudah Ditemukan
Internet membuat informasi kesehatan mental menjadi jauh lebih mudah diakses.
Jika dahulu seseorang harus mencari buku atau bertanya kepada tenaga profesional, sekarang informasi mengenai berbagai kondisi kesehatan mental dapat ditemukan hanya dalam beberapa detik.
Konten yang membahas “tanda-tanda ADHD”, “ciri anxiety”, “gejala burnout”, atau “tanda seseorang mengalami depresi” dapat muncul di media sosial setiap hari.
Kemudahan ini tentu memberikan manfaat, tetapi juga dapat membuat seseorang terlalu cepat menarik kesimpulan.
2. Konten Media Sosial Sangat Relatable
Salah satu kekuatan media sosial adalah kemampuannya membuat konten terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Misalnya, konten mengenai seseorang yang sulit fokus, sering lupa, terlalu banyak berpikir, mudah lelah, atau merasa tidak percaya diri.
Banyak orang kemudian merasa, “Ini persis seperti yang saya alami.”
Perasaan relate tersebut bisa menjadi awal seseorang mencari informasi lebih jauh. Namun, merasa cocok dengan daftar gejala di media sosial bukan berarti otomatis memiliki kondisi tertentu.
3. Algoritma Membuat Kita Melihat Konten yang Sama Berulang Kali
Setelah seseorang menonton atau mencari konten mengenai topik tertentu, algoritma media sosial biasanya dapat kembali menyajikan konten dengan tema serupa.
Akibatnya, seseorang yang awalnya hanya penasaran mengenai ADHD, misalnya, dapat terus melihat konten tentang ADHD.
Semakin banyak konten yang dilihat, semakin kuat pula kemungkinan munculnya keyakinan bahwa dirinya memiliki kondisi tersebut.
Inilah salah satu alasan mengapa self diagnose melalui media sosial perlu dilakukan dengan hati-hati.
Self Awareness Berbeda dengan Self Diagnose
Mengenali perubahan dalam diri sendiri merupakan hal yang positif.
Seseorang dapat mengatakan:
“Belakangan ini saya sulit berkonsentrasi.”
atau:
“Saya sering merasa cemas dan sulit tidur.”
Pernyataan tersebut merupakan bentuk self awareness, yaitu kesadaran terhadap kondisi diri sendiri.
Masalah muncul ketika seseorang langsung mengubah pengamatan tersebut menjadi diagnosis.
Misalnya:
“Saya sulit berkonsentrasi, berarti saya ADHD.”
Kesimpulan seperti itu belum tentu benar.
Self awareness membantu seseorang mengenali masalah, sedangkan diagnosis membutuhkan proses evaluasi yang lebih menyeluruh.
Apa Risiko Self Diagnose?
Tren self diagnose tidak selalu berbahaya, terutama jika digunakan sebagai langkah awal untuk mencari informasi. Namun, masalah dapat muncul ketika seseorang menjadikan kesimpulan pribadi sebagai diagnosis yang pasti.
Salah Mengidentifikasi Kondisi
Gejala yang sama dapat muncul pada berbagai kondisi.
Sulit berkonsentrasi, misalnya, tidak hanya dapat terjadi pada ADHD. Kurang tidur, stres, kelelahan, atau tekanan tertentu juga dapat menyebabkan seseorang sulit fokus.
Tanpa evaluasi yang tepat, seseorang dapat salah memahami penyebab masalah yang dialaminya.
Mengalami Kecemasan Berlebihan
Membaca terlalu banyak informasi mengenai penyakit atau gangguan tertentu juga dapat membuat seseorang semakin cemas.
Setiap gejala kecil yang dirasakan kemudian dianggap sebagai bukti bahwa dirinya mengalami kondisi tertentu.
Akibatnya, pencarian informasi yang awalnya bertujuan mendapatkan pengetahuan justru dapat meningkatkan kekhawatiran.
Mengabaikan Penyebab yang Sebenarnya
Self diagnose juga dapat membuat seseorang fokus pada satu kemungkinan dan mengabaikan penyebab lainnya.
Seseorang yang merasa sulit tidur, misalnya, mungkin langsung menganggap dirinya mengalami gangguan kecemasan. Padahal, kebiasaan menggunakan gadget hingga larut malam, tekanan pekerjaan, perubahan pola tidur, atau faktor lain juga dapat berperan.
Mengambil Tindakan yang Tidak Tepat
Risiko yang lebih serius terjadi ketika seseorang mengambil keputusan terkait kesehatan berdasarkan diagnosis sendiri.
Karena itu, informasi dari media sosial sebaiknya tidak digunakan sebagai dasar untuk melakukan pengobatan sendiri atau menghentikan pengobatan yang sudah diberikan oleh tenaga kesehatan.
Apakah Mencari Gejala di Google Itu Salah?
Tidak.
Mencari informasi kesehatan di internet bukan sesuatu yang salah. Bahkan, kebiasaan mencari informasi dapat membantu seseorang menjadi lebih sadar terhadap kesehatan dirinya.
Yang perlu diperhatikan adalah cara menggunakan informasi tersebut.
Gunakan internet untuk:
- mengenali kemungkinan masalah;
- memahami istilah kesehatan;
- mengetahui kapan perlu mencari bantuan;
- mempersiapkan pertanyaan untuk tenaga profesional;
- mencari sumber edukasi yang kredibel.
Jangan menggunakan internet sebagai satu-satunya dasar untuk menetapkan diagnosis.
Bagaimana Cara Menghindari Self Diagnose?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Kenali Gejala Tanpa Terburu-buru Memberi Label
Jika merasa ada sesuatu yang berubah, catat apa yang dirasakan tanpa langsung memberikan label tertentu.
Misalnya, daripada mengatakan “Saya mengalami anxiety”, tuliskan bahwa Anda sering merasa cemas, sulit tidur, atau sulit berkonsentrasi.
Perhatikan Durasi dan Dampaknya
Perhatikan kapan gejala mulai muncul, seberapa sering terjadi, serta apakah kondisi tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari.
Informasi ini akan jauh lebih berguna ketika seseorang berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Jangan Menjadikan Konten Viral sebagai Diagnosis
Konten TikTok atau Instagram dapat menjadi sumber edukasi, tetapi konten singkat biasanya tidak menggambarkan kompleksitas sebuah kondisi secara keseluruhan.
Jangan langsung menganggap pengalaman seseorang di media sosial sebagai gambaran pasti mengenai diri sendiri.
Cari Bantuan Profesional Jika Diperlukan
Jika masalah yang dirasakan mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, tidur, atau aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, dokter, atau tenaga kesehatan yang sesuai.
Konsultasi bukan berarti seseorang “pasti mengalami gangguan”.
Justru konsultasi dapat membantu mendapatkan pemahaman yang lebih tepat mengenai kondisi yang sedang dialami.
Self Diagnose Bukan Musuh, tetapi Harus Digunakan dengan Bijak
Fenomena self diagnose di kalangan Gen Z menunjukkan bahwa generasi muda semakin terbuka membicarakan kesehatan mental.
Ini merupakan perkembangan positif.
Namun, keterbukaan terhadap isu kesehatan mental harus diimbangi dengan literasi kesehatan yang baik.
Merasa relate dengan konten kesehatan mental bukan berarti seseorang otomatis memiliki kondisi yang sama.
Media sosial dapat membantu kita mengenali bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Tetapi diagnosis bukan sekadar mencocokkan daftar gejala dari internet.
Karena itu, tidak ada salahnya mencari informasi. Tidak ada salahnya mengenali diri sendiri. Tetapi ketika muncul masalah yang menetap atau mengganggu kehidupan sehari-hari, langkah terbaik adalah mencari bantuan dari tenaga profesional.
Kenali diri sendiri, tetapi jangan terburu-buru mendiagnosis diri sendiri.
FAQ: Self Diagnose di Kalangan Gen Z
Apa yang dimaksud dengan self diagnose?
Self diagnose adalah tindakan menyimpulkan bahwa seseorang mengalami kondisi atau penyakit tertentu berdasarkan penilaian sendiri tanpa melalui evaluasi tenaga profesional.
Mengapa Gen Z sering melakukan self diagnose?
Kemudahan akses informasi kesehatan mental, banyaknya konten edukasi di media sosial, serta konten yang terasa relatable menjadi beberapa faktor yang mendorong fenomena ini.
Apakah self diagnose selalu salah?
Mencari informasi dan mengenali gejala diri sendiri bukan sesuatu yang salah. Yang perlu dihindari adalah menganggap informasi tersebut sebagai diagnosis pasti tanpa evaluasi profesional.
Apakah TikTok bisa digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan mental?
TikTok dapat menjadi sumber informasi dan edukasi, tetapi tidak sebaiknya dijadikan dasar untuk menentukan diagnosis kesehatan mental.
Kapan harus berkonsultasi dengan profesional?
Pertimbangkan konsultasi jika masalah atau gejala yang dirasakan berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, tidur, dan aktivitas sehari-hari.
Di Mana warga Bintaro Bisa Mendapatkan Bantuan?
Bagi warga Bintaro dan sekitarnya yang membutuhkan bantuan psikolog untuk konseling mengenai problem Self-Diagnose atau masalah-masalah psikologi lainnya, Anda bisa mengacu pada tabel berikut ini :
Daftar layanan psikologi/konseling sekitar Bintaro
| Nama lembaga | Alamat | Telepon | ||
|---|---|---|---|---|
| Rumah Bicara Bintaro – Konseling dengan Psikolog di Jakarta Selatan | Blok N3, Jl. Merak IV No. 23/2, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan | 0819-1000-9224 | 0819-1000-9224 | Tidak ada informasi |
| Yayasan Praktek Psikolog Indonesia | Gedung Bintaro Business Centre, Jl. RC. Veteran Raya No. 1-I, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan | — | 021-7362639 | Tidak ada informasi |
| Yayasan Praktek Psikolog Indonesia Cabang Tangsel | Jl. Utama Puri Bintaro Hijau No. 6 Blok C1, Pondok Aren, Tangerang Selatan | — | 021-27563512 | Tidak ada informasi |
| Noutrisi Jiwa Counseling | Jl. RC. Veteran Raya No. 2, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan | 0857-7211-3281 | 0857-7211-3281 | @noutrisijiwa |
| Biro Psikologi Madre Consulting | Jl. Depsos Raya No. 13B, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan | 0895-3377-72575 | 0895-3377-72575 | @madre_consulting |
| Biro Psikologi Kharisma Excellent Consulting | Bintaro Trade Center, Sektor 7 No. 15 Blok C2, Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan | 0813-8085-2126 | 0813-8085-2126 | Tidak ada informasi |
| Biro Psikologi Psikodinamika | Bintaro Sektor 3, Tangerang Selatan | 0813-8215-0373 | 021-73673328 | Tidak ada informasi |
| RS Premier Bintaro – Psikologi Klinis | Jl. M.H. Thamrin No. 1, Sektor 7, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan | 0812-2230-9911 | 1-500-908 | Silahkan merujuk ke akun resmi RS Premier Bintaro |
Untuk Noutrisi Jiwa, akun Instagram dapat ditelusuri melalui kanal resmi mereka; situs resminya juga mengonfirmasi bahwa mereka menyediakan konseling dengan psikolog/konselor.
Untuk Madre Consulting, profil LinkedIn perusahaan secara eksplisit mencantumkan akun Instagram @madre_consulting dan juga mencantumkan lokasi mereka di Jl. Depsos Raya No. 13B, Bintaro.
Sementara itu, informasi RS Premier Bintaro paling aman menggunakan kontak resminya: Careline 1-500-908 dan WhatsApp janji temu 0812-2230-9911. Situs resmi RS juga mengonfirmasi adanya layanan Psikologi Klinis.
Untuk Biro Psikologi Psikodinamika, situs resminya mencantumkan alamat Bintaro Sektor 3, telepon 021-73673328, dan nomor kontak terbaru 0813-8215-0373.
(EV)

