Pernah merasa ingin melakukan se
suatu, tetapi justru menghabiskan waktu lama hanya untuk menentukan harus mulai dari mana? Memilih menu makan siang terasa membingungkan, membalas pesan sederhana pun tertunda, sementara pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu sulit terus ditatap tanpa kunjung dikerjakan.
Kondisi seperti ini sering kali langsung dianggap sebagai rasa malas. Padahal, tidak selalu demikian. Salah satu kemungkinan yang kerap luput diperhatikan adalah decision fatigue, yaitu kondisi ketika kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan menurun setelah sepanjang hari harus menghadapi terlalu banyak pilihan dan keputusan.
Ketika Hal Sederhana Terasa Melelahkan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita membuat keputusan jauh lebih banyak daripada yang disadari. Mulai dari menentukan pakaian yang akan dikenakan, memilih sarapan, menyusun prioritas pekerjaan, menjawab pesan, mengikuti rapat, hingga memikirkan apa yang harus dilakukan setelah pulang kerja.
Masing-masing keputusan mungkin terlihat kecil. Namun, ketika jumlahnya terus bertambah, otak harus bekerja berulang kali untuk mempertimbangkan pilihan, membandingkan konsekuensi, kemudian menentukan tindakan.
Pada titik tertentu, proses tersebut dapat membuat seseorang merasa lelah secara mental. Akibatnya, keputusan sederhana pun terasa membutuhkan energi yang lebih besar.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai decision fatigue.
Apa Itu Decision Fatigue?
Decision fatigue bukan berarti seseorang benar-benar kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan. Istilah ini lebih menggambarkan kondisi ketika kualitas atau kemauan seseorang dalam mengambil keputusan dapat menurun setelah menghadapi banyak keputusan sebelumnya.
Ketika mengalami kondisi tersebut, seseorang mungkin menjadi lebih mudah menunda pekerjaan, menghindari pilihan, mengambil keputusan secara terburu-buru, atau justru tidak ingin memutuskan apa pun.
Misalnya, seseorang yang sejak pagi harus menangani berbagai persoalan di tempat kerja mungkin masih memiliki daftar pekerjaan yang harus diselesaikan pada sore hari. Secara fisik, ia belum tentu terlalu lelah. Namun, setelah berjam-jam memilih prioritas, memberikan persetujuan, menyelesaikan masalah, dan merespons berbagai permintaan, otaknya bisa terasa seperti sudah kehabisan tenaga.
Akibatnya, pekerjaan yang sebenarnya sederhana terasa jauh lebih berat.
Tanda-Tanda yang Sering Disalahartikan sebagai Malas
Salah satu alasan decision fatigue sering tidak disadari adalah gejalanya sekilas mirip dengan kemalasan.
Seseorang mungkin terus menunda pekerjaan karena terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Ada pula yang memilih melakukan aktivitas ringan seperti menonton video pendek atau berselancar di media sosial karena aktivitas tersebut tidak membutuhkan banyak keputusan.
Tanda lainnya adalah munculnya rasa enggan ketika dihadapkan pada terlalu banyak pilihan. Bahkan keputusan sederhana seperti memilih restoran, menentukan pakaian, atau memilih pekerjaan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu dapat terasa melelahkan.
Sebagian orang juga akhirnya menggunakan pilihan yang sama berulang kali. Bukan karena pilihan tersebut selalu menjadi yang terbaik, melainkan karena mereka tidak ingin mengeluarkan energi mental untuk mempertimbangkan alternatif lain.
Terlalu Banyak Pilihan Bisa Menjadi Beban
Di era digital, jumlah pilihan yang tersedia semakin besar. Ketika ingin membeli sesuatu, misalnya, seseorang dapat menemukan puluhan bahkan ratusan pilihan hanya dalam beberapa menit.
Begitu pula dengan hiburan. Film, serial, video pendek, podcast, musik, hingga berbagai platform media sosial menawarkan pilihan yang hampir tidak ada habisnya.
Situasi tersebut memang memberikan kebebasan, tetapi sekaligus dapat menambah beban pengambilan keputusan.
Karena itu, salah satu cara sederhana untuk mengurangi beban mental adalah membatasi keputusan-keputusan kecil yang tidak terlalu penting.
Cara Mengurangi Decision Fatigue
Mengurangi decision fatigue tidak selalu membutuhkan perubahan besar dalam kehidupan. Justru, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi jumlah keputusan yang harus dibuat setiap hari.
Salah satunya adalah membuat rutinitas. Menentukan jadwal tidur, waktu olahraga, menu sarapan tertentu, atau pakaian kerja untuk hari-hari tertentu dapat mengurangi keputusan yang harus dibuat secara spontan.
Membuat daftar prioritas juga dapat membantu. Daripada memikirkan seluruh pekerjaan sekaligus, tentukan beberapa tugas yang benar-benar perlu diselesaikan terlebih dahulu.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah memberikan jeda. Ketika otak terus dipaksa untuk mengambil keputusan tanpa istirahat, kemampuan untuk berpikir jernih dapat ikut menurun. Jeda singkat dari pekerjaan, berjalan sebentar, atau melakukan aktivitas yang tidak membutuhkan banyak keputusan bisa menjadi cara sederhana untuk memberi ruang bagi pikiran.
Tidak Semua Rasa Tidak Produktif Berarti Decision Fatigue
Meski demikian, penting untuk tidak langsung memberikan label decision fatigue pada setiap kondisi ketika seseorang merasa malas atau tidak produktif.
Rasa lelah, kurang tidur, stres, tekanan pekerjaan, kejenuhan, maupun berbagai kondisi lain juga dapat memengaruhi motivasi dan kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi.
Karena itu, decision fatigue lebih tepat dipahami sebagai salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan, bukan sebagai diagnosis atas kondisi seseorang.
Jika rasa lelah mental, sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang lebih tepat.
Pada akhirnya, tidak semua hari ketika kita sulit mengambil keputusan berarti kita sedang malas. Bisa saja pikiran memang sudah terlalu lama bekerja tanpa diberi kesempatan untuk berhenti sejenak.
Daripada langsung menyalahkan diri sendiri, mungkin ada baiknya bertanya: berapa banyak keputusan yang sudah saya buat hari ini?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pengingat bahwa menjaga energi mental sama pentingnya dengan menjaga energi fisik.
(EK)
