Gaya Hidup

Mengapa Tren Underconsumption Core Makin Disukai Gen Z?

Di tengah maraknya tren haul, unboxing, dan ajakan membeli produk yang sedang viral di media sosial, muncul sebuah tren yang justru bergerak ke arah sebaliknya: underconsumption core.

Tren ini mengajak seseorang untuk mengurangi pembelian dan memaksimalkan penggunaan barang yang sudah dimiliki. Menggunakan pakaian lama, memakai smartphone sampai benar-benar perlu diganti, menghabiskan skincare hingga tuntas, membeli barang thrift, atau memperbaiki barang yang rusak kini justru dianggap menarik.

Lalu, mengapa tren ini semakin disukai Gen Z?

Tidak Semua yang Viral Harus Dibeli

Salah satu penyebabnya adalah kejenuhan terhadap budaya konsumtif di media sosial. Setiap hari Gen Z melihat berbagai rekomendasi produk, shopping haul, dan konten "barang yang wajib dimiliki".

Underconsumption core menawarkan perspektif berbeda: tidak semua barang yang sedang viral harus dimiliki.

Gen Z mulai mempertanyakan apakah sebuah produk benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena terus muncul di media sosial.

Lebih Sadar dengan Kondisi Finansial

Faktor ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Biaya hidup yang semakin tinggi membuat generasi muda harus lebih berhati-hati mengatur pengeluaran.

Membeli barang hanya karena tren menjadi semakin sulit dibenarkan. Karena itu, kemampuan menahan keinginan membeli sesuatu mulai dianggap sebagai bentuk kecerdasan finansial.

Prinsipnya sederhana: mampu membeli bukan berarti harus membeli.

Peduli Lingkungan

Kesadaran terhadap masalah lingkungan juga ikut mendorong tren ini.

Menggunakan barang lebih lama, membeli barang bekas, memperbaiki produk yang rusak, dan menghindari pembelian impulsif dapat membantu mengurangi konsumsi berlebihan.

Bagi Gen Z, keputusan membeli bukan hanya soal harga atau gaya, tetapi juga mulai berkaitan dengan pertanyaan: seberapa penting barang ini dan berapa lama akan saya gunakan?

Barang Lama Tidak Lagi Memalukan

Selama bertahun-tahun, budaya konsumsi menciptakan anggapan bahwa barang baru selalu lebih baik.

Underconsumption core menantang pemikiran tersebut.

Sepatu lama yang masih nyaman, pakaian yang sudah bertahun-tahun digunakan, atau smartphone yang belum perlu diganti bukan lagi sesuatu yang harus disembunyikan. Justru, kemampuan menggunakan barang sampai maksimal dapat menjadi sebuah kebanggaan.

Terjadi perubahan dari "lihat apa yang baru saya beli" menjadi "lihat berapa lama saya bisa menggunakan barang ini."

Dari Pamer Konsumsi Menjadi Pamer Kesadaran

Menariknya, underconsumption core juga memperlihatkan perubahan cara Gen Z membangun identitas di media sosial.

Jika sebelumnya kepemilikan barang mahal dan koleksi produk dapat menjadi simbol status, kini hidup sederhana, hemat, dan tidak mudah terpengaruh tren juga dapat menjadi sesuatu yang dianggap keren.

Namun, ada sebuah paradoks. Ketika underconsumption core menjadi tren, gaya hidup sederhana pun berpotensi berubah menjadi komoditas baru.

Karena itu, inti dari tren ini sebenarnya bukan tentang memiliki barang sesedikit mungkin, tetapi membeli secara lebih sadar.

Bukan Berarti Gen Z Berhenti Belanja

Underconsumption core bukan berarti Gen Z anti-belanja atau tidak boleh membeli barang baru.

Mereka tetap membeli pakaian, gadget, kosmetik, makanan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Yang berubah adalah cara mengambil keputusan.

Sebelum membeli, muncul pertanyaan:

"Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau saya hanya merasa membutuhkannya karena melihatnya di media sosial?"

Pertanyaan sederhana tersebut menjadi semakin penting di tengah derasnya iklan, influencer, dan tren digital.

Penutup

Popularitas underconsumption core menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap konsumsi.

Gen Z mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu harus tentang memiliki lebih banyak. Menggunakan barang sampai habis, membeli sesuai kebutuhan, memperbaiki barang lama, dan mampu menahan keinginan membeli juga dapat menjadi sebuah pencapaian.

Pada akhirnya, underconsumption core bukan tentang hidup tanpa belanja.

Ini tentang belajar membedakan antara apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang hanya dibuat terlihat seperti kebutuhan.