
Motor listrik semakin mudah ditemui di jalanan. Bukan hanya karena menawarkan pengalaman berkendara yang lebih senyap, tetapi juga karena biaya operasionalnya sering disebut jauh lebih murah dibandingkan motor bensin.
Namun, seberapa besar sebenarnya penghematannya?
Daripada sekadar mengatakan motor listrik lebih hemat, mari kita hitung menggunakan harga Pertalite dan tarif listrik PLN yang berlaku saat ini, kemudian membandingkannya berdasarkan jarak tempuh 20 km, 30 km, 50 km, hingga 100 km per hari.
Hasilnya cukup menarik.
Angka yang Digunakan dalam Perhitungan
Agar perbandingan lebih mudah dipahami, kita menggunakan asumsi kendaraan yang cukup realistis untuk penggunaan sehari-hari.
Untuk motor bensin, digunakan asumsi konsumsi rata-rata 40 km/liter.
Sementara motor listrik diasumsikan mengonsumsi sekitar 2 kWh/100 km.
Untuk harga energi, Pertalite digunakan pada harga Rp10.000 per liter. Angka ini merupakan harga Pertalite yang dicantumkan Pertamina dan berlaku secara nasional.
Untuk listrik, digunakan tarif rumah tangga PLN nonsubsidi 1.300–2.200 VA sebesar Rp1.444,70/kWh. Tarif tersebut berlaku pada periode Juli–September 2026 dan pemerintah memutuskan tidak melakukan kenaikan tarif pada periode tersebut.
Dengan demikian, rumus sederhananya:
Motor bensin:
Jarak tempuh ÷ 40 km/liter × Rp10.000
Motor listrik:
Jarak tempuh ÷ 100 × 2 kWh × Rp1.444,70
Perhitungan ini fokus pada biaya energi, belum memasukkan biaya servis, pajak, ban, baterai, dan komponen lainnya.
20 Km Sehari: Selisihnya Sudah Terasa
Kita mulai dari jarak yang cukup umum bagi pengguna motor perkotaan.
Dengan perjalanan 20 km sehari, motor bensin dengan konsumsi 40 km/liter membutuhkan:
20 ÷ 40 = 0,5 liter Pertalite
Biayanya:
0,5 × Rp10.000 = Rp5.000 per hari
Sementara motor listrik dengan konsumsi 2 kWh/100 km membutuhkan:
20 ÷ 100 × 2 = 0,4 kWh
Biaya listrik:
0,4 × Rp1.444,70 = sekitar Rp578 per hari
Artinya, selisih biaya energi mencapai sekitar Rp4.422 per hari.
Jika digunakan selama 26 hari dalam sebulan, penghematannya sekitar Rp114.975 per bulan.
30 Km Sehari: Hemat Sekitar Rp172 Ribu Sebulan
Sekarang kita gunakan jarak tempuh 30 km per hari, yang cukup relevan untuk pengguna yang setiap hari pergi-pulang kerja.
Motor bensin:
30 ÷ 40 = 0,75 liter
Biaya Pertalite:
0,75 × Rp10.000 = Rp7.500 per hari
Motor listrik:
30 ÷ 100 × 2 = 0,6 kWh
Biaya listrik:
0,6 × Rp1.444,70 = sekitar Rp867 per hari
Jadi, selisih biaya energi mencapai sekitar Rp6.633 per hari.
Jika kendaraan digunakan 26 hari dalam sebulan:
Rp6.633 × 26 = sekitar Rp172.463
Dalam setahun dengan asumsi 312 hari penggunaan, potensi selisihnya mencapai sekitar Rp2,07 juta.
Ini baru dari biaya energi.
50 Km Sehari: Penghematan Hampir Rp300 Ribu Sebulan
Bagi pengguna yang memiliki aktivitas cukup tinggi, jarak 50 km sehari bukan sesuatu yang tidak biasa.
Dengan konsumsi 40 km/liter, motor bensin membutuhkan:
50 ÷ 40 = 1,25 liter Pertalite
Biayanya:
1,25 × Rp10.000 = Rp12.500 per hari
Motor listrik:
50 ÷ 100 × 2 = 1 kWh
Biaya listrik:
1 × Rp1.444,70 = Rp1.445 per hari
Dengan demikian, selisih biaya energi mencapai sekitar:
Rp12.500 – Rp1.445 = Rp11.055 per hari
Jika digunakan 26 hari dalam sebulan, selisihnya menjadi sekitar:
Rp287.438 per bulan
Dalam setahun, potensinya mencapai sekitar:
Rp3,45 juta
Angka ini mulai menunjukkan mengapa motor listrik semakin menarik bagi pengguna yang memiliki mobilitas tinggi.
100 Km Sehari: Selisihnya Bisa Lebih dari Rp500 Ribu Sebulan
Bagaimana jika motor digunakan sangat intensif, misalnya mencapai 100 km sehari?
Motor bensin dengan konsumsi 40 km/liter akan membutuhkan:
100 ÷ 40 = 2,5 liter Pertalite
Biaya harian:
2,5 × Rp10.000 = Rp25.000
Sementara motor listrik membutuhkan:
100 ÷ 100 × 2 = 2 kWh
Biaya listrik:
2 × Rp1.444,70 = Rp2.889
Selisih biaya energi:
Rp25.000 – Rp2.889 = sekitar Rp22.111 per hari
Dalam 26 hari:
sekitar Rp574.876 per bulan
Jika konsisten selama setahun, potensi selisih biaya energi mencapai sekitar:
Rp6,9 juta per tahun.
Tentu, penggunaan 100 km setiap hari lebih relevan bagi pengguna dengan mobilitas tinggi, pekerja lapangan, pengemudi layanan antar, atau mereka yang memang memiliki aktivitas berpindah-pindah sepanjang hari.
Perbandingan 20, 30, 50, dan 100 Km Sehari
Supaya lebih mudah melihat perbedaannya, berikut simulasi berdasarkan asumsi yang sama:
| Jarak/Hari | Motor Bensin | Motor Listrik | Selisih/Hari | Selisih 26 Hari |
|---|---|---|---|---|
| 20 km | Rp5.000 | ±Rp578 | ±Rp4.422 | ±Rp114.975 |
| 30 km | Rp7.500 | ±Rp867 | ±Rp6.633 | ±Rp172.463 |
| 50 km | Rp12.500 | ±Rp1.445 | ±Rp11.055 | ±Rp287.438 |
| 100 km | Rp25.000 | ±Rp2.889 | ±Rp22.111 | ±Rp574.876 |
Catatan: simulasi menggunakan Pertalite Rp10.000/liter, konsumsi motor bensin 40 km/liter, konsumsi motor listrik 2 kWh/100 km, dan tarif PLN Rp1.444,70/kWh. Perhitungan bulanan menggunakan asumsi 26 hari pemakaian.
Dari tabel tersebut terlihat pola yang cukup jelas: semakin jauh jarak tempuh harian, semakin besar nominal penghematan motor listrik.
Kalau Dihitung Setahun, Berapa Bedanya?
Dengan asumsi kendaraan digunakan 26 hari setiap bulan atau 312 hari per tahun, hasilnya menjadi lebih menarik.
| Jarak/Hari | Biaya Bensin/Tahun | Biaya Listrik/Tahun | Potensi Hemat/Tahun |
| 20 km | Rp1.560.000 | ±Rp180.300 | ±Rp1.379.700 |
| 30 km | Rp2.340.000 | ±Rp270.450 | ±Rp2.069.550 |
| 50 km | Rp3.900.000 | ±Rp450.746 | ±Rp3.449.254 |
| 100 km | Rp7.800.000 | ±Rp902.693 | ±Rp6.897.307 |
Angka tersebut menunjukkan bahwa perbedaan biaya energi bukan lagi sekadar beberapa ribu rupiah.
Untuk pengguna dengan jarak tempuh 50 km per hari, misalnya, potensi penghematan energi bisa berada di sekitar Rp3,45 juta per tahun.
Jika jarak tempuh mencapai 100 km sehari, selisihnya bisa mendekati Rp6,9 juta per tahun.
Tetapi Ada Satu Hal Penting: Ini Bukan Total Biaya Kepemilikan
Perhitungan di atas terlihat sangat menguntungkan bagi motor listrik. Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa motor listrik selalu lebih murah dalam segala hal.
Ada biaya lain yang harus diperhitungkan.
1. Harga Motor
Harga pembelian motor listrik dan motor bensin berbeda-beda tergantung merek, kapasitas, teknologi, dan fitur.
Jika harga motor listrik jauh lebih tinggi, penghematan biaya energi harus dihitung terhadap selisih harga pembelian tersebut.
2. Biaya Baterai
Baterai merupakan salah satu komponen paling penting pada motor listrik.
Kapasitas baterai dapat menurun seiring usia dan siklus penggunaan. Karena itu, calon pembeli sebaiknya mencari tahu mengenai garansi baterai, umur pakai, harga baterai pengganti, serta ketersediaan layanan purnajual.
3. Biaya Pengisian
Perhitungan di atas menggunakan tarif dasar listrik PLN. Dalam praktiknya, penggunaan listrik rumah tangga juga memiliki komponen lain dalam tagihan, dan pengisian baterai tidak selalu identik dengan energi yang benar-benar tersimpan di baterai karena terdapat losses pada proses pengisian.
Artinya, angka biaya motor listrik di atas sebaiknya dianggap sebagai estimasi biaya energi, bukan angka tagihan listrik yang pasti.
4. Perawatan
Motor bensin memiliki mesin pembakaran dengan komponen seperti oli mesin, busi, filter dan berbagai komponen lainnya.
Motor listrik memiliki sistem penggerak yang lebih sederhana, tetapi bukan berarti bebas perawatan.
Ban, kampas atau sistem rem, bearing, suspensi, sistem kelistrikan, serta baterai tetap membutuhkan perhatian.
Bagaimana dengan Pengguna di Bintaro?
Bagi pengguna motor di kawasan Bintaro dan sekitarnya, jarak perjalanan harian sangat menentukan apakah motor listrik masuk akal secara ekonomi.
Untuk pengguna yang hanya menempuh sekitar 20 km per hari, potensi penghematan energi memang ada, tetapi nominalnya sekitar Rp115 ribu per bulan berdasarkan simulasi ini.
Pada jarak 30 km per hari, penghematannya mulai lebih terasa, yaitu sekitar Rp172 ribu per bulan.
Sedangkan mereka yang berkendara 50 km sehari berpotensi menghemat hampir Rp300 ribu per bulan.
Bagi pengguna dengan mobilitas mencapai 100 km sehari, selisih biaya energi bisa mendekati Rp575 ribu per bulan.
Namun, kondisi lalu lintas, tanjakan, bobot pengendara, kecepatan, penggunaan aksesori, tekanan ban, dan gaya berkendara dapat membuat konsumsi energi aktual berbeda dari asumsi.
Jadi, Motor Listrik atau Motor Bensin?
Kalau pertanyaannya hanya mana yang lebih murah untuk energi harian, jawabannya cukup jelas: motor listrik.
Dengan asumsi yang digunakan dalam simulasi ini, biaya energi motor listrik hanya sekitar seperlima hingga seperdelapan biaya Pertalite motor bensin, tergantung bagaimana konsumsi kendaraan aktual dibandingkan.
Namun, keputusan membeli motor tidak boleh hanya berdasarkan biaya listrik dan bensin.
Motor listrik lebih menarik bagi pengguna yang:
- Berkendara setiap hari dengan jarak cukup jauh
- Mayoritas perjalanan berada di dalam kota
- Bisa melakukan pengisian daya di rumah
- Tidak membutuhkan pengisian energi dalam waktu sangat cepat
- Ingin menekan biaya operasional jangka panjang
Sementara motor bensin masih memiliki keunggulan bagi pengguna yang:
- Sering melakukan perjalanan jauh
- Membutuhkan pengisian bahan bakar dengan cepat
- Belum memiliki akses pengisian listrik yang praktis
- Mengutamakan fleksibilitas perjalanan
- Tidak ingin memikirkan kondisi dan usia baterai
Kesimpulan
Motor listrik memang memiliki keunggulan besar dari sisi biaya energi.
Dengan harga Pertalite Rp10.000 per liter dan tarif listrik PLN rumah tangga nonsubsidi 1.300–2.200 VA Rp1.444,70/kWh, simulasi sederhana menunjukkan bahwa perjalanan 30 km per hari membutuhkan sekitar Rp7.500 untuk Pertalite, sementara motor listrik dengan konsumsi 2 kWh/100 km hanya sekitar Rp867 untuk listrik.
Selisihnya sekitar Rp6.633 per hari atau sekitar Rp172 ribu dalam 26 hari penggunaan.
Semakin tinggi jarak tempuh, semakin besar pula potensi penghematannya.
Tetapi sebelum memutuskan beralih ke motor listrik, jangan hanya menghitung biaya “isi bensin versus charge”. Hitung juga harga motor, biaya perawatan, umur baterai, garansi, akses pengisian, serta nilai jual kembali.
Karena pada akhirnya, motor yang paling hemat bukan selalu motor dengan biaya energi paling rendah, melainkan kendaraan yang paling sesuai dengan pola penggunaan dan kebutuhan pemiliknya.
(LUKH)
