
Kebiasaan menunda belajar sering membuat orang tua khawatir. Anak mungkin terlihat lebih memilih bermain, menonton video, menggunakan gadget, atau melakukan aktivitas lain ketika sudah waktunya belajar. Tidak jarang kondisi ini kemudian dianggap sebagai tanda anak malas.
Padahal, kebiasaan menunda belajar tidak selalu berarti anak tidak mau belajar. Ada berbagai alasan yang bisa melatarbelakanginya, mulai dari tugas yang terasa terlalu sulit, kurangnya motivasi, kelelahan, hingga lingkungan belajar yang kurang mendukung. Karena itu, orang tua perlu memahami penyebabnya sebelum menentukan cara mengatasinya.
Mengapa Anak Sering Menunda Belajar?
Ada beberapa alasan yang cukup umum membuat anak cenderung menunda waktu belajar.
1. Materi Pelajaran Terasa Sulit
Ketika anak merasa tidak memahami suatu pelajaran, belajar bisa menjadi aktivitas yang membuatnya tidak nyaman. Akibatnya, anak memilih menghindar dan menunda daripada menghadapi materi yang dianggap sulit.
Misalnya, anak kesulitan memahami matematika atau bahasa asing. Semakin sering mengalami kesulitan, semakin besar kemungkinan anak kehilangan kepercayaan diri dan memilih melakukan kegiatan lain.
2. Tidak Memiliki Rutinitas yang Jelas
Anak biasanya membutuhkan rutinitas agar mengetahui kapan waktunya belajar, bermain, makan, dan beristirahat. Jika jadwal belajar berubah-ubah, anak akan lebih mudah menunda karena tidak memiliki kebiasaan yang konsisten.
Rutinitas tidak harus terlalu ketat. Jadwal sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat membantu anak membangun kebiasaan belajar.
3. Terlalu Banyak Gangguan
Gadget, televisi, game, media sosial, hingga suasana rumah yang ramai dapat membuat konsentrasi anak mudah terpecah.
Jika anak sedang menikmati permainan atau menonton sesuatu yang menarik, ajakan untuk belajar tentu terasa kurang menarik. Inilah salah satu alasan mengapa waktu belajar sebaiknya memiliki batasan yang jelas dari waktu hiburan.
4. Anak Merasa Terlalu Banyak Tuntutan
Target akademik yang terlalu tinggi juga dapat membuat anak merasa terbebani. Ketika anak merasa harus selalu mendapatkan nilai bagus atau tidak boleh melakukan kesalahan, belajar bisa berubah menjadi sumber tekanan.
Dalam kondisi seperti ini, menunda belajar bisa menjadi bentuk penghindaran terhadap rasa takut gagal.
5. Anak Kelelahan
Jangan lupa bahwa anak juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Aktivitas sekolah, les, kegiatan ekstrakurikuler, pekerjaan rumah, dan aktivitas lainnya dapat membuat anak kelelahan.
Anak yang sudah lelah secara fisik maupun mental tentu akan lebih sulit berkonsentrasi dan cenderung mencari kegiatan yang lebih ringan.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Mengatasi kebiasaan menunda belajar sebaiknya dilakukan secara bertahap. Orang tua tidak harus langsung memberikan hukuman atau memaksa anak belajar berjam-jam.
Buat Jadwal Belajar yang Konsisten
Tentukan waktu belajar yang relatif sama setiap hari. Misalnya, anak belajar setelah makan malam dan beristirahat sejenak.
Dengan rutinitas yang konsisten, anak perlahan memahami bahwa belajar merupakan bagian dari aktivitas hariannya, bukan sesuatu yang hanya dilakukan ketika ada ujian atau tugas.
Pecah Tugas Menjadi Bagian Kecil
Tugas yang terlihat sangat banyak dapat membuat anak merasa kewalahan. Cobalah membaginya menjadi beberapa bagian kecil.
Daripada mengatakan, “Selesaikan semua tugas malam ini,” orang tua bisa membantu anak menentukan tugas mana yang dikerjakan terlebih dahulu. Cara ini membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan mudah dimulai.
Terapkan Waktu Belajar yang Tidak Terlalu Panjang
Belajar selama berjam-jam belum tentu membuat anak lebih memahami materi. Untuk anak yang mudah kehilangan konsentrasi, sesi belajar yang lebih pendek tetapi fokus dapat menjadi pilihan.
Anak bisa belajar selama beberapa puluh menit, kemudian mengambil jeda singkat sebelum melanjutkan kembali. Durasi dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan konsentrasi masing-masing anak.
Kurangi Gangguan Saat Belajar
Ciptakan tempat belajar yang cukup tenang dan jauh dari gangguan yang tidak diperlukan. Jika gadget tidak digunakan untuk belajar, sebaiknya disimpan terlebih dahulu selama sesi belajar berlangsung.
Orang tua juga dapat membantu dengan tidak memberikan terlalu banyak distraksi ketika anak sedang mengerjakan tugas.
Cari Tahu Bagian yang Membuat Anak Kesulitan
Daripada hanya bertanya, “Kenapa kamu belum belajar?”, coba tanyakan bagian mana yang menurut anak paling sulit.
Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membuka percakapan. Bisa jadi anak sebenarnya ingin belajar, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana atau merasa tidak mampu mengerjakan tugas tertentu.
Berikan Apresiasi terhadap Proses
Orang tua tidak harus selalu memberikan penghargaan berdasarkan nilai. Apresiasi juga dapat diberikan ketika anak mulai belajar tepat waktu, menyelesaikan tugas, atau berusaha memahami materi yang sulit.
Pujian terhadap usaha dapat membantu membangun rasa percaya diri dan membuat anak melihat belajar sebagai proses, bukan sekadar mengejar nilai.
Hindari Langsung Memberi Label “Malas”
Salah satu hal yang sebaiknya dihindari adalah memberikan label negatif kepada anak. Menyebut anak malas berulang kali justru dapat membuat anak merasa dirinya memang tidak mampu belajar dengan baik.
Lebih baik fokus pada perilakunya. Misalnya, “Kamu terlihat sering menunda mengerjakan tugas. Ada yang membuat tugas ini terasa sulit?” Pendekatan seperti ini membuka ruang bagi anak untuk menjelaskan masalahnya.
Kapan Orang Tua Perlu Lebih Waspada?
Jika kebiasaan menunda hanya terjadi sesekali, orang tua tidak perlu langsung menganggapnya sebagai masalah serius. Namun, perhatian lebih perlu diberikan apabila anak terus-menerus kesulitan memulai tugas, mengalami penurunan prestasi yang cukup signifikan, selalu merasa sangat tertekan ketika belajar, atau masalah tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dalam kondisi seperti itu, orang tua dapat berdiskusi dengan guru untuk mengetahui apakah ada kesulitan akademik atau faktor lain yang perlu diperhatikan. Jika diperlukan, konsultasi dengan tenaga profesional juga dapat menjadi pilihan.
Belajar Bukan Sekadar Soal Disiplin
Kebiasaan menunda belajar memang perlu diperbaiki, tetapi solusinya bukan selalu dengan menambah aturan atau memberikan hukuman. Orang tua perlu melihat alasan di balik perilaku tersebut.
Anak mungkin membutuhkan jadwal yang lebih teratur, bantuan memahami pelajaran, waktu istirahat yang cukup, atau sekadar dukungan agar lebih percaya diri. Dengan mengetahui penyebabnya, orang tua dapat membantu anak membangun kebiasaan belajar yang lebih sehat dan bertahan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, tujuan utama bukan membuat anak belajar sepanjang hari, melainkan membantu mereka memiliki kemampuan mengatur waktu, menyelesaikan tanggung jawab, dan memahami bahwa belajar merupakan proses yang dapat dilakukan sedikit demi sedikit.
(DS)
