
Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, percaya diri, dan mampu menghadapi berbagai tantangan. Namun, kemampuan akademis bukan satu-satunya bekal penting untuk menghadapi masa depan. Ada hal lain yang tidak kalah menentukan, yaitu bagaimana seorang anak memandang kemampuan dirinya sendiri.
Anak yang percaya bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, proses belajar, strategi yang tepat, serta kemauan untuk memperbaiki diri umumnya memiliki apa yang disebut sebagai growth mindset. Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Carol Dweck dan menjadi salah satu pendekatan yang banyak dibicarakan dalam dunia pendidikan dan pengasuhan.
Berbeda dengan fixed mindset, yang membuat seseorang cenderung menganggap kecerdasan dan kemampuan sebagai sesuatu yang relatif tetap, growth mindset membuat anak melihat kesalahan dan tantangan sebagai bagian dari proses berkembang.
Lantas, seperti apa ciri anak yang memiliki growth mindset?
Tidak Mudah Menyerah Ketika Menghadapi Kesulitan
Salah satu tanda yang paling mudah terlihat adalah bagaimana anak bereaksi ketika menghadapi sesuatu yang sulit. Anak dengan growth mindset bukan berarti tidak pernah merasa frustrasi atau kecewa. Mereka tetap bisa mengeluh, merasa kesal, bahkan ingin berhenti.
Yang membedakan adalah kecenderungan untuk mencoba kembali setelah mengalami kegagalan. Ketika mendapatkan nilai yang kurang baik atau belum berhasil menyelesaikan sebuah tugas, anak tidak langsung menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak mampu.
Ia lebih mungkin berpikir bahwa dirinya perlu belajar lebih banyak, mencoba cara lain, atau meminta bantuan untuk memahami bagian yang belum dikuasai.
Berani Mencoba Hal yang Belum Dikuasai
Anak dengan growth mindset biasanya tidak selalu memilih aktivitas yang sudah membuatnya merasa nyaman. Mereka relatif lebih terbuka untuk mencoba sesuatu yang baru meskipun ada kemungkinan gagal.
Misalnya, anak yang belum mahir bermain alat musik tetap bersedia mengikuti latihan. Anak yang merasa matematika sulit tetap mau mengerjakan soal. Begitu pula anak yang belum percaya diri berbicara di depan kelas tetap bersedia mencoba.
Keberanian tersebut bukan karena mereka yakin akan langsung berhasil, melainkan karena mereka memahami bahwa kemampuan membutuhkan proses.
Tidak Takut Melakukan Kesalahan
Kesalahan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari. Padahal, dalam proses belajar, kesalahan dapat menjadi sumber informasi yang penting bagi anak.
Anak dengan growth mindset cenderung melihat kesalahan sebagai kesempatan untuk mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Ketika jawabannya salah, misalnya, ia tidak berhenti pada kalimat, “Aku memang tidak pintar.”
Sebaliknya, ia mulai mencari tahu mengapa jawabannya salah dan bagaimana mendapatkan jawaban yang benar.
Di sinilah peran orang tua menjadi penting. Alih-alih langsung memarahi kesalahan anak, orang tua dapat mengajaknya membicarakan proses yang sudah dilakukan dan mencari solusi bersama.
Mau Menerima Kritik dan Masukan
Anak yang memiliki growth mindset tidak selalu menganggap kritik sebagai serangan terhadap dirinya. Ketika mendapatkan masukan dari guru, orang tua, atau orang lain, ia memiliki kesempatan untuk menggunakannya sebagai bahan evaluasi.
Tentu saja, kemampuan menerima kritik tidak muncul begitu saja. Anak perlu belajar membedakan antara kritik yang membangun dan perkataan yang menjatuhkan.
Orang tua dapat membantu dengan memberikan masukan yang spesifik. Daripada mengatakan “Kamu kurang pintar,” misalnya, lebih baik menjelaskan bagian mana yang perlu diperbaiki dan bagaimana anak dapat melakukannya.
Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil
Salah satu ciri penting growth mindset adalah anak memahami bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh hasil akhir.
Anak perlu belajar menghargai usaha, ketekunan, strategi, dan perkembangan yang telah dicapai. Misalnya, ketika anak mendapatkan nilai bagus setelah berusaha belajar secara konsisten, orang tua tidak hanya mengatakan, “Kamu memang pintar.”
Pujian seperti “Kamu sudah berusaha dengan cara yang lebih teratur dan hasilnya terlihat” dapat membantu anak memahami hubungan antara usaha dan perkembangan kemampuan.
Hal ini bukan berarti hasil tidak penting. Hasil tetap perlu diperhatikan, tetapi proses menuju hasil tersebut juga perlu mendapatkan apresiasi.
Mau Bertanya Ketika Tidak Mengerti
Ada anak yang memilih diam ketika tidak memahami pelajaran karena takut dianggap tidak pintar. Padahal, kemampuan untuk bertanya justru merupakan bagian penting dari proses belajar.
Anak dengan growth mindset cenderung lebih terbuka mengakui bahwa ada sesuatu yang belum ia pahami. Ia kemudian mencari penjelasan, bertanya kepada guru, berdiskusi dengan orang tua, atau mencari cara lain untuk memahami persoalan tersebut.
Kebiasaan bertanya membuat anak menyadari bahwa “belum bisa” bukan berarti “tidak akan pernah bisa”.
Tidak Terlalu Takut Melihat Keberhasilan Orang Lain
Ketika melihat temannya mendapatkan nilai lebih tinggi atau memenangkan sebuah perlombaan, anak dengan growth mindset dapat belajar menjadikan keberhasilan tersebut sebagai inspirasi.
Ia mungkin merasa iri atau kecewa sesaat, karena perasaan tersebut merupakan hal yang manusiawi. Namun, ia tidak berhenti pada perasaan itu. Anak dapat mulai bertanya, “Apa yang bisa aku pelajari dari dia?”
Cara berpikir seperti ini membantu anak melihat keberhasilan orang lain bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar.
Mampu Mengubah Strategi Ketika Cara Pertama Tidak Berhasil
Growth mindset bukan sekadar terus mencoba hal yang sama berkali-kali. Anak juga perlu belajar bahwa terkadang yang harus diubah bukan tujuannya, melainkan strateginya.
Ketika metode belajar tertentu tidak memberikan hasil, misalnya, anak dapat mencoba cara lain seperti membuat rangkuman, menggunakan gambar, berdiskusi, atau belajar dalam sesi yang lebih pendek tetapi konsisten.
Kemampuan mengevaluasi strategi ini penting karena mengajarkan anak bahwa kegagalan tidak selalu berarti dirinya tidak mampu. Bisa jadi, cara yang digunakan memang belum tepat.
Bagaimana Orang Tua Menumbuhkan Growth Mindset?
Growth mindset bukan label yang melekat permanen pada seorang anak. Pola pikir tersebut dapat berkembang melalui lingkungan, pengalaman, serta cara orang dewasa memberikan respons terhadap keberhasilan dan kegagalan anak.
Orang tua dapat memulainya dari hal sederhana, seperti memberikan apresiasi terhadap usaha dan proses, memberi ruang kepada anak untuk mencoba, tidak langsung menyelesaikan semua masalah yang dihadapinya, serta membantu anak memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari pembelajaran.
Pilihan kata juga berpengaruh. Kalimat “Kamu belum bisa melakukannya” memberikan pesan yang berbeda dibandingkan “Kamu tidak bisa melakukannya.” Kata “belum” membuka ruang bahwa kemampuan tersebut masih dapat berkembang.
Pada akhirnya, memiliki growth mindset bukan berarti anak harus selalu optimistis, selalu berhasil, atau tidak pernah menyerah dalam setiap keadaan. Yang lebih penting adalah anak memiliki keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan dan bahwa kegagalan tidak otomatis menentukan siapa dirinya.
Anak yang memahami hal tersebut memiliki bekal penting untuk terus belajar, beradaptasi, dan menghadapi tantangan yang akan muncul dalam perjalanan hidupnya. Sebab, menjadi pintar mungkin membantu seorang anak mencapai sesuatu, tetapi kemauan untuk terus belajar dan berkembang akan membantunya melangkah jauh lebih panjang.
(FF)
