
Memasuki usia lanjut, tubuh mengalami berbagai perubahan yang tidak selalu terlihat dari luar. Salah satunya adalah perubahan pada tulang dan sendi yang sering disebut masyarakat sebagai “pengapuran”. Istilah ini cukup populer, terutama ketika seseorang mulai mengalami nyeri lutut, pinggang terasa kaku, atau sendi sulit digerakkan setelah duduk dalam waktu lama. Namun, pengapuran sebenarnya bukan berarti tulang dipenuhi kapur secara harfiah.
Dalam dunia medis, keluhan yang sering disebut pengapuran pada sendi umumnya berkaitan dengan osteoarthritis, yaitu kondisi ketika tulang rawan yang melapisi ujung tulang di dalam sendi mengalami kerusakan secara bertahap. Kondisi tersebut lebih banyak ditemukan pada usia lanjut karena sendi telah digunakan selama bertahun-tahun, meskipun usia bukan satu-satunya faktor yang menentukan.
Apa yang Dimaksud dengan Pengapuran?
Sendi memiliki tulang rawan yang berfungsi seperti bantalan sehingga permukaan tulang dapat bergerak dengan lebih halus. Seiring bertambahnya usia, tulang rawan tersebut dapat mengalami perubahan dan menipis. Ketika perlindungannya berkurang, pergerakan tulang di dalam sendi dapat menjadi kurang nyaman dan memicu rasa nyeri atau kaku.
Pada kondisi tertentu, tubuh juga dapat membentuk pertumbuhan tulang di sekitar sendi yang dikenal sebagai osteofit. Perubahan inilah yang pada pemeriksaan rontgen sering terlihat sebagai bagian dari proses osteoarthritis dan kemudian dikenal secara umum sebagai “pengapuran”.
Lutut merupakan salah satu sendi yang cukup sering mengalami masalah ini karena harus menopang berat badan dan digunakan berulang kali untuk berjalan, berdiri, naik tangga, hingga beraktivitas sehari-hari. Selain lutut, osteoarthritis juga dapat terjadi pada pinggul, tulang belakang, tangan, dan sendi lainnya.
Mengapa Pengapuran Lebih Sering Terjadi pada Lansia?
Pertambahan usia merupakan salah satu faktor risiko penting karena jaringan tubuh mengalami perubahan seiring waktu. Tulang rawan yang terus menerima beban dan mengalami gesekan selama puluhan tahun dapat mengalami penurunan kualitas.
Namun, bukan berarti setiap orang yang memasuki usia lanjut pasti mengalami pengapuran. Risiko juga dapat dipengaruhi oleh berat badan, riwayat cedera sendi, aktivitas fisik yang memberikan tekanan berlebihan pada sendi, kelainan bentuk sendi, serta faktor genetik.
Berat badan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama pada osteoarthritis lutut. Semakin besar beban yang harus ditopang lutut, semakin besar pula tekanan yang diterima sendi ketika seseorang berjalan atau melakukan aktivitas tertentu.
Riwayat cedera juga dapat berpengaruh. Cedera pada lutut atau sendi lain yang pernah terjadi bertahun-tahun sebelumnya dapat meningkatkan risiko munculnya masalah degeneratif pada kemudian hari.
Gejala yang Sering Muncul
Keluhan pengapuran tidak selalu muncul dengan intensitas yang sama. Sebagian orang mungkin mengalami perubahan pada hasil pemeriksaan tetapi hanya merasakan sedikit keluhan, sementara orang lain dapat mengalami nyeri yang cukup mengganggu aktivitas.
Gejala yang umum antara lain nyeri ketika sendi digunakan, rasa kaku setelah bangun tidur atau setelah lama tidak bergerak, pembengkakan ringan, serta berkurangnya kemampuan untuk menggerakkan sendi. Pada lutut, sebagian orang juga merasakan sensasi seperti berderak atau berbunyi ketika lutut ditekuk dan diluruskan.
Jika keluhan semakin berat, aktivitas sederhana seperti berjalan, naik tangga, berdiri dari kursi, atau berbelanja dapat menjadi lebih sulit dilakukan. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kemandirian dan kualitas hidup lansia.
Apakah Lansia Harus Mengurangi Aktivitas Fisik?
Anggapan bahwa orang yang mengalami pengapuran harus banyak beristirahat dan menghindari aktivitas fisik tidak selalu tepat. Justru, menjaga tubuh tetap aktif dengan jenis dan intensitas aktivitas yang sesuai dapat membantu mempertahankan fungsi sendi dan kekuatan otot.
Aktivitas dengan dampak rendah seperti berjalan santai, bersepeda statis, berenang, atau latihan fisik yang direkomendasikan tenaga kesehatan dapat menjadi pilihan. Latihan penguatan otot di sekitar sendi juga dapat membantu menopang dan menstabilkan sendi.
Yang perlu diperhatikan adalah menyesuaikan aktivitas dengan kondisi masing-masing. Jika olahraga menyebabkan nyeri yang berat atau keluhan semakin memburuk, sebaiknya aktivitas tersebut dievaluasi dan dikonsultasikan kepada dokter atau fisioterapis.
Menjaga Berat Badan dan Pola Hidup
Menjaga berat badan tetap sehat menjadi bagian penting dalam mempertahankan kesehatan sendi, khususnya bagi lansia dengan keluhan pada lutut. Pengaturan pola makan yang seimbang dapat dilakukan bersama aktivitas fisik yang sesuai kemampuan.
Asupan protein, vitamin, mineral, serta berbagai zat gizi dari makanan yang beragam juga penting untuk mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan. Lansia sebaiknya tidak sembarangan mengonsumsi suplemen atau produk yang diklaim dapat “menghilangkan pengapuran” tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Pengapuran sendiri bukan kondisi yang dapat diselesaikan hanya dengan mengonsumsi makanan atau obat tertentu. Penanganannya bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, lokasi sendi yang mengalami masalah, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Nyeri sendi pada usia lanjut tidak sebaiknya selalu dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Apabila nyeri berlangsung terus-menerus, semakin berat, menyebabkan kesulitan berjalan, mengganggu tidur, atau membuat aktivitas sehari-hari menjadi terbatas, pemeriksaan medis diperlukan.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan, bila diperlukan, pemeriksaan penunjang seperti rontgen untuk melihat kondisi sendi. Hasil pemeriksaan tersebut membantu menentukan apakah keluhan berkaitan dengan osteoarthritis atau justru disebabkan oleh kondisi lain.
Penting pula untuk segera mendapatkan pemeriksaan apabila nyeri sendi muncul secara tiba-tiba dan berat, disertai pembengkakan yang signifikan, kemerahan, demam, atau setelah terjadi cedera.
Pengapuran Bukan Berarti Lansia Harus Berhenti Bergerak
Pengapuran pada orang lanjut usia memang berkaitan dengan perubahan degeneratif pada sendi yang semakin sering ditemukan seiring bertambahnya usia. Namun, kondisi tersebut bukan berarti lansia harus berhenti bergerak atau menerima nyeri sebagai sesuatu yang tidak bisa ditangani.
Menjaga berat badan, melakukan aktivitas fisik yang sesuai, memperkuat otot, menjaga pola makan, serta mendapatkan penanganan medis ketika keluhan muncul merupakan langkah yang dapat membantu mempertahankan fungsi tubuh. Dengan pendekatan yang tepat, lansia tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara aktif dan mandiri meskipun mengalami perubahan pada sendi.
Yang terpenting, istilah “pengapuran” sebaiknya tidak digunakan untuk mengabaikan semua keluhan nyeri pada usia lanjut. Nyeri sendi memiliki banyak kemungkinan penyebab, sehingga diagnosis yang tepat tetap diperlukan sebelum menentukan penanganannya.
