Gorengan menjadi salah satu makanan yang sulit ditolak. Tempe goreng, tahu isi, bakwan, pisang goreng, risol, hingga singkong goreng sering hadir sebagai teman minum kopi atau camilan sore. Harganya relatif terjangkau, mudah ditemukan, dan teksturnya yang renyah membuat gorengan terasa semakin nikmat.
Namun, bagaimana jika gorengan hampir selalu masuk ke dalam menu harian? Sesekali menikmati gorengan tentu berbeda dengan menjadikannya kebiasaan setiap hari. Frekuensi konsumsi, jenis minyak yang digunakan, ukuran porsi, serta makanan lain yang dikonsumsi sepanjang hari ikut menentukan dampaknya bagi kesehatan.
Bukan Berarti Gorengan Harus Dihindari Sepenuhnya
Gorengan pada dasarnya bukan makanan yang otomatis berbahaya. Masalahnya lebih banyak berkaitan dengan pola konsumsi. Proses menggoreng dapat membuat makanan menyerap minyak sehingga kandungan kalorinya meningkat. Jika dikonsumsi terlalu sering dan dalam jumlah banyak, asupan energi harian dapat menjadi berlebihan.
Selain itu, kualitas minyak juga perlu diperhatikan. Minyak yang digunakan berulang kali atau dipanaskan dalam kondisi yang kurang tepat dapat mengalami perubahan kualitas. Karena itu, bukan hanya jenis makanan yang digoreng, tetapi juga cara pengolahannya yang perlu menjadi perhatian.
1. Berat Badan Lebih Mudah Bertambah
Salah satu dampak yang paling mudah dikaitkan dengan kebiasaan makan gorengan adalah meningkatnya asupan kalori.
Makanan yang digoreng umumnya memiliki kepadatan energi lebih tinggi dibandingkan makanan yang diolah dengan cara direbus atau dikukus. Ketika gorengan dikonsumsi sebagai camilan di luar waktu makan, kalori tambahan tersebut sering kali tidak terasa.
Misalnya, seseorang sudah makan tiga kali sehari dengan porsi cukup, tetapi masih rutin mengonsumsi beberapa potong gorengan pada pagi dan sore hari. Jika kebiasaan ini berlangsung dalam waktu lama tanpa diimbangi aktivitas fisik yang memadai, berat badan dapat meningkat.
2. Dapat Meningkatkan Risiko Kolesterol dan Masalah Jantung
Kebiasaan mengonsumsi makanan yang digoreng secara berlebihan juga perlu diperhatikan dalam konteks kesehatan jantung. Pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, terutama jika disertai rendahnya konsumsi sayur, buah, dan sumber serat, dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar kolesterol LDL atau yang sering disebut sebagai kolesterol “jahat”.
Kolesterol LDL yang tinggi dalam jangka panjang dapat berhubungan dengan penumpukan plak pada pembuluh darah. Karena itu, kebiasaan makan gorengan sebaiknya tidak dilihat secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari keseluruhan pola makan.
Artinya, mengonsumsi satu gorengan sesekali bukan berarti langsung menyebabkan penyakit jantung. Yang lebih penting adalah kebiasaan makan secara keseluruhan dan seberapa sering makanan tinggi lemak dikonsumsi.
3. Pencernaan Bisa Terasa Kurang Nyaman
Bagi sebagian orang, makanan berminyak dapat membuat sistem pencernaan terasa kurang nyaman. Setelah makan gorengan dalam jumlah banyak, seseorang mungkin mengalami rasa begah, cepat kenyang, mual, atau sensasi tidak nyaman pada perut.
Efek tersebut bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang dapat makan beberapa potong gorengan tanpa masalah, sementara orang lain mungkin langsung merasa tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan berminyak.
Jika keluhan pencernaan sering muncul, kebiasaan makan gorengan patut dievaluasi, terutama jika porsinya besar atau dikonsumsi berdekatan dengan waktu tidur.
4. Asupan Nutrisi Bisa Menjadi Kurang Seimbang
Persoalan gorengan bukan hanya soal minyak. Jika gorengan terlalu sering menjadi pilihan camilan, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan makanan yang lebih kaya nutrisi.
Contohnya, pisang goreng tentu tetap berasal dari buah pisang, tetapi proses pengolahan dan tambahan tepung serta minyak membuat profil nutrisinya berbeda dengan mengonsumsi buah secara langsung. Begitu pula dengan tahu atau tempe goreng yang sebenarnya merupakan sumber protein, tetapi dapat menjadi lebih tinggi kalori setelah melalui proses penggorengan.
Jika hampir setiap hari camilan didominasi gorengan, sebaiknya mulai diselingi buah segar, kacang-kacangan, yoghurt, atau pilihan makanan lain yang lebih padat nutrisi.
5. Risiko Kesehatan Metabolik Perlu Diperhatikan
Kebiasaan mengonsumsi makanan yang tinggi kalori dan lemak, terutama jika disertai kelebihan berat badan dan kurang aktivitas fisik, dapat menjadi bagian dari pola hidup yang meningkatkan risiko berbagai gangguan metabolik.
Masalahnya biasanya bukan berasal dari satu jenis makanan saja. Pola makan tinggi makanan ultra-proses atau makanan yang digoreng, kurang sayur dan buah, jarang berolahraga, serta kebiasaan makan berlebihan dapat saling berkontribusi.
Karena itu, mengurangi gorengan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan memperbaiki pola hidup secara keseluruhan.
6. Minyak yang Dipakai Berulang Kali Juga Perlu Diwaspadai
Ketika membeli gorengan, kita tidak selalu mengetahui berapa kali minyak yang digunakan untuk memasaknya telah dipakai. Padahal, penggunaan minyak secara berulang dengan pemanasan berkali-kali dapat menurunkan kualitas minyak.
Minyak yang terlalu gelap, berbau tengik, menghasilkan banyak asap, atau meninggalkan rasa yang tidak biasa pada makanan merupakan tanda bahwa kualitas minyak perlu diperhatikan.
Jika memasak sendiri, gunakan minyak secukupnya dan hindari pemanasan berulang kali dalam waktu lama. Menggoreng dengan suhu dan durasi yang sesuai juga dapat membantu mengurangi makanan menjadi terlalu berminyak atau gosong.
Jadi, Berapa Banyak Gorengan yang Masih Wajar?
Tidak ada satu angka yang otomatis berlaku untuk semua orang. Kebutuhan energi dan kondisi kesehatan setiap orang berbeda. Yang lebih penting adalah menjadikan gorengan sebagai makanan sesekali, bukan sumber makanan yang mendominasi menu sehari-hari.
Jika biasanya makan tiga atau empat gorengan sekaligus, porsinya dapat dikurangi secara bertahap. Gorengan juga sebaiknya tidak selalu menjadi pilihan camilan. Cobalah menggantinya secara bergantian dengan buah, kacang tanpa tambahan garam berlebihan, atau makanan lain yang lebih bernutrisi.
Cara memasaknya juga bisa divariasikan. Tempe dan tahu, misalnya, dapat dikukus, dipanggang, ditumis dengan sedikit minyak, atau dimasak menggunakan air fryer. Dengan begitu, seseorang tetap bisa menikmati bahan makanan favorit tanpa selalu mengandalkan proses deep frying.
Yang Terpenting adalah Pola Makan Secara Keseluruhan
Makan gorengan sesekali tidak perlu membuat seseorang merasa bersalah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika gorengan hampir selalu hadir setiap hari dan dikonsumsi dalam jumlah banyak, sementara makanan bergizi seperti sayuran, buah, protein, dan sumber serat justru semakin sedikit.
Mulailah dari perubahan sederhana. Kurangi frekuensi makan gorengan, batasi porsinya, pilih makanan yang tidak terlalu berminyak, dan perbanyak makanan segar. Jangan lupa mengimbanginya dengan aktivitas fisik yang cukup dan pola hidup yang sehat.
Pada akhirnya, bukan satu potong bakwan atau tahu goreng yang menjadi masalah, melainkan kebiasaan mengonsumsi makanan yang digoreng secara berlebihan dan terus-menerus. Menikmati gorengan tetap boleh, tetapi sebaiknya tidak sampai menjadi menu wajib setiap hari.
(EGA)
