
Kesemutan pada tangan atau kaki merupakan keluhan yang cukup sering dialami. Sensasinya bisa terasa seperti tertusuk-tusuk jarum, geli, kebas, atau seperti ada aliran listrik ringan pada bagian tubuh tertentu. Dalam banyak kasus, kesemutan hanya berlangsung sementara dan hilang setelah posisi tubuh diperbaiki. Namun, jika tangan dan kaki sering kesemutan atau muncul berulang tanpa penyebab yang jelas, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Kesemutan terjadi ketika saraf mengalami tekanan, iritasi, atau gangguan dalam mengirimkan sinyal antara tubuh dan otak. Penyebabnya dapat sangat beragam, mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga kondisi kesehatan tertentu.
1. Terlalu Lama Berada dalam Satu Posisi
Salah satu penyebab kesemutan yang paling umum adalah duduk atau tidur dalam posisi tertentu terlalu lama. Misalnya, duduk bersila dalam waktu lama, menyandarkan tangan pada permukaan keras, atau tidur dengan posisi yang menekan lengan maupun kaki.
Tekanan tersebut dapat mengganggu aliran darah sekaligus menekan saraf sehingga muncul sensasi kebas dan kesemutan. Biasanya, keluhan akan berangsur menghilang setelah tubuh kembali bergerak dan tekanan pada saraf berkurang.
2. Kekurangan Vitamin Tertentu
Vitamin B, terutama vitamin B12, memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan sistem saraf. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan gangguan saraf yang salah satu gejalanya berupa kesemutan pada tangan dan kaki.
Risiko kekurangan vitamin B12 dapat meningkat pada orang yang memiliki pola makan tertentu, mengalami gangguan penyerapan nutrisi, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, kesemutan yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak langsung diatasi dengan mengonsumsi suplemen tanpa mengetahui penyebabnya.
3. Diabetes
Kesemutan yang muncul berulang, terutama pada kedua kaki atau tangan, dapat berkaitan dengan diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf dan menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai neuropati perifer.
Gejalanya dapat berupa kesemutan, mati rasa, rasa terbakar, nyeri, atau sensasi seperti tertusuk pada kaki dan tangan. Pada penderita diabetes, gangguan saraf juga perlu diperhatikan karena berkurangnya sensasi dapat membuat luka kecil tidak disadari.
4. Saraf Terjepit
Kesemutan juga dapat terjadi akibat saraf yang tertekan atau terjepit. Kondisi ini bisa berkaitan dengan masalah pada tulang belakang, cedera, maupun gangguan pada area tertentu seperti pergelangan tangan.
Contohnya adalah carpal tunnel syndrome yang dapat menimbulkan kesemutan atau mati rasa pada tangan, terutama pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis. Keluhan sering kali terasa lebih jelas pada malam hari atau setelah menggunakan tangan secara berulang.
5. Gangguan Sirkulasi Darah
Aliran darah yang kurang lancar juga dapat membuat bagian tubuh terasa dingin, kebas, atau kesemutan. Kondisi ini dapat bersifat sementara, misalnya ketika kaki berada dalam posisi tertentu terlalu lama.
Namun, jika kesemutan disertai kaki atau tangan yang terus-menerus terasa dingin, perubahan warna kulit, nyeri, atau luka yang sulit sembuh, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebabnya.
6. Gangguan pada Saraf
Kesemutan yang berlangsung lama dapat menjadi tanda adanya gangguan pada sistem saraf. Penyebabnya dapat beragam, termasuk cedera saraf, penyakit tertentu, efek samping obat, hingga gangguan pada saraf tepi.
Pola munculnya kesemutan juga dapat memberikan petunjuk. Kesemutan pada satu bagian tubuh dengan pola tertentu, misalnya mengikuti jalur saraf, dapat memiliki penyebab berbeda dibandingkan kesemutan yang terjadi pada kedua tangan dan kaki secara bersamaan.
7. Kebiasaan Mengonsumsi Alkohol Berlebihan
Konsumsi alkohol dalam jumlah berlebihan dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi kesehatan saraf serta meningkatkan risiko neuropati perifer. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, rasa terbakar, maupun kelemahan pada tangan dan kaki.
Selain berdampak langsung terhadap saraf, konsumsi alkohol berlebihan juga dapat berkaitan dengan kekurangan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga fungsi saraf.
Kapan Kesemutan Perlu Diperiksakan?
Kesemutan yang hanya muncul sesekali dan segera hilang setelah perubahan posisi umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, pemeriksaan medis sebaiknya dipertimbangkan jika kesemutan sering muncul, berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Perhatian khusus diperlukan apabila kesemutan disertai kelemahan anggota tubuh, gangguan keseimbangan, kesulitan berjalan, nyeri yang berat, perubahan penglihatan, gangguan berbicara, atau mati rasa yang muncul secara tiba-tiba.
Jika mati rasa atau kesemutan muncul mendadak pada satu sisi tubuh dan disertai wajah mencong, kelemahan lengan atau tungkai, serta kesulitan berbicara, kondisi tersebut dapat menjadi tanda keadaan darurat seperti stroke dan membutuhkan pertolongan medis segera.
Jangan Hanya Mengandalkan Pijat
Ketika tangan atau kaki kesemutan, banyak orang langsung memilih memijat bagian tubuh yang terasa kebas. Pijatan ringan mungkin terasa nyaman jika penyebabnya adalah posisi tubuh yang menekan saraf, tetapi langkah tersebut tidak menyelesaikan masalah jika kesemutan disebabkan oleh diabetes, kekurangan vitamin, saraf terjepit, atau gangguan saraf lainnya.
Jika keluhan terus berulang, langkah yang lebih tepat adalah mencari penyebabnya. Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan, bila diperlukan, menyarankan pemeriksaan tambahan seperti tes darah atau pemeriksaan fungsi saraf.
Perhatikan Pola Kesemutan
Kesemutan bukan selalu tanda penyakit serius, tetapi frekuensi, lokasi, durasi, dan gejala yang menyertainya dapat menjadi petunjuk penting. Kesemutan setelah duduk terlalu lama tentu berbeda dengan kesemutan yang muncul setiap hari tanpa pemicu yang jelas.
Karena itu, jika tangan dan kaki sering kesemutan, jangan hanya menganggapnya sebagai keluhan biasa. Memperhatikan pola gejala dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika keluhan menetap dapat membantu menemukan penyebab lebih awal sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.
(FF)
