
Bagi warga Jabodetabek yang ingin mencari suasana liburan berbeda tanpa harus menempuh perjalanan jauh hingga Jawa Tengah, Kabupaten Lebak, Banten, memiliki sebuah destinasi alam yang menawarkan pengalaman serupa dengan wisata pegunungan di kawasan Dieng. Namanya Gunung Luhur Citorek, sebuah kawasan perbukitan di Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, yang dikenal luas dengan julukan “Negeri di Atas Awan” karena panorama hamparan awan putih yang dapat dinikmati dari ketinggian.
Popularitas Gunung Luhur mulai meningkat setelah foto-foto lautan awan dari kawasan tersebut menyebar luas di media sosial. Pemandangan yang ditawarkan memang menjadi daya tarik utama karena pada waktu dan kondisi cuaca tertentu, lembah di bawah kawasan perbukitan seolah tertutup lapisan awan putih, sementara pengunjung berada di atasnya.
Suasana seperti inilah yang membuat Gunung Luhur menarik sebagai alternatif destinasi akhir pekan, terutama bagi warga Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan dan wilayah Banten yang ingin menikmati udara pegunungan tanpa harus pergi terlalu jauh ke Jawa Tengah.
Lautan awan menjadi daya tarik utama
Berbeda dengan tempat wisata yang mengandalkan banyak wahana buatan, Gunung Luhur menawarkan pengalaman yang lebih sederhana dengan mengandalkan lanskap alam. Pengunjung datang terutama untuk menikmati panorama perbukitan, matahari terbit dan fenomena lautan awan yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Waktu terbaik untuk memburu panorama ini umumnya berada pada pagi hari, sekitar pukul 05.00 hingga 08.00 WIB, ketika awan masih berkumpul di lembah. Kondisi tersebut juga membuat waktu menjelang matahari terbit menjadi periode yang menarik bagi penggemar fotografi karena perubahan cahaya pagi dapat memberikan suasana berbeda pada lanskap perbukitan.
Namun, wisatawan perlu memahami bahwa “Negeri di Atas Awan” bukanlah sebuah pemandangan yang bisa dipastikan muncul setiap hari. Fenomena tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca dan atmosfer, sehingga wisatawan yang datang dengan tujuan utama melihat lautan awan sebaiknya memperhitungkan faktor cuaca ketika menentukan waktu perjalanan.
Pilihan transportasi menuju Gunung Luhur
Salah satu hal yang perlu diperhitungkan sebelum berangkat adalah transportasi. Gunung Luhur memang dapat dicapai dengan kendaraan pribadi, tetapi wisatawan yang tidak membawa kendaraan sendiri juga masih memiliki pilihan menggunakan transportasi umum dengan kombinasi kereta, angkutan darat dan ojek lokal.
Menggunakan kendaraan pribadi
Bagi wisatawan dari Jakarta dan kawasan Jabodetabek, kendaraan pribadi menjadi pilihan yang relatif praktis karena perjalanan dapat dilakukan langsung menuju kawasan Citorek. Patokan awal yang paling mudah adalah menuju Rangkasbitung terlebih dahulu.
Dari Rangkasbitung, perjalanan dilanjutkan menuju Cipanas, kemudian mengambil arah Lebak Gedong dan Sobang hingga melewati Gerbang Weweungkon Adat Citorek. Setelah itu perjalanan diteruskan menuju perkampungan Ciusul sekitar 5 kilometer sebelum memasuki jalur menuju Gunung Luhur yang berjarak sekitar 1 kilometer. Rute tersebut merupakan jalur yang disebutkan oleh Pemerintah Provinsi Banten sebagai akses menuju kawasan Negeri di Atas Awan.
Jalur menuju kawasan Gunung Luhur memiliki karakter perbukitan dengan tanjakan dan turunan sehingga pengemudi perlu menjaga kondisi kendaraan, khususnya sistem pengereman, ban dan mesin. Mobil keluarga maupun sepeda motor dapat digunakan untuk menuju kawasan tersebut, tetapi perjalanan tetap membutuhkan konsentrasi karena karakter jalan berbeda dengan perjalanan di kawasan perkotaan.
Dari Rangkasbitung, perjalanan menuju Gunung Luhur disebut dapat ditempuh sekitar dua jam, meskipun waktu perjalanan aktual tentu dapat berubah tergantung kondisi lalu lintas, cuaca, kondisi jalan dan titik keberangkatan.
Bagi wisatawan dari Jakarta, perjalanan tentu membutuhkan waktu lebih panjang karena harus terlebih dahulu mencapai Rangkasbitung. Karena tujuan utama biasanya adalah mengejar matahari terbit dan lautan awan, berangkat pada malam hari atau dini hari menjadi pilihan yang lebih masuk akal dibandingkan berangkat pagi dari Jakarta.
Menggunakan kereta dan angkutan umum
Bagi wisatawan yang tidak memiliki kendaraan pribadi, perjalanan juga dapat dilakukan menggunakan transportasi umum. Salah satu pilihan yang cukup menarik bagi warga Jakarta adalah menggunakan KRL Commuter Line menuju Stasiun Rangkasbitung.
Setelah tiba di Rangkasbitung, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan angkutan umum menuju kawasan Citorek. Pemerintah Provinsi Banten menyebutkan bahwa dari Terminal Mandala Rangkasbitung tersedia kendaraan jenis elf dengan tujuan Citorek, kemudian wisatawan dapat turun di kawasan Ciusul dan melanjutkan perjalanan menggunakan ojek warga setempat menuju kawasan Gunung Luhur.
Skema perjalanannya secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:
Jakarta → KRL menuju Stasiun Rangkasbitung → Terminal/area angkutan Rangkasbitung → ELF jurusan Citorek → turun di Ciusul → ojek lokal → Gunung Luhur.
Pilihan ini tentu membutuhkan waktu dan perencanaan yang lebih matang dibandingkan membawa kendaraan sendiri. Wisatawan juga perlu memperhatikan jadwal angkutan karena kendaraan menuju kawasan Citorek tidak beroperasi seperti angkutan perkotaan yang memiliki frekuensi tinggi sepanjang hari.
Sejumlah informasi perjalanan sebelumnya juga menyebutkan bahwa wisatawan dari Jakarta dapat menggunakan KRL menuju Rangkasbitung, kemudian mencari angkutan ELF menuju Citorek dan melanjutkan perjalanan menggunakan ojek dari Ciusul. Karena jadwal dan tarif angkutan lokal dapat berubah, sebaiknya wisatawan menanyakan jadwal keberangkatan terbaru kepada pengemudi atau warga setempat sebelum memulai perjalanan.
Pilihan transportasi umum ini lebih cocok bagi wisatawan yang memang ingin menikmati perjalanan dengan gaya backpacker, sedangkan keluarga dengan anak kecil atau rombongan yang membawa banyak barang kemungkinan akan lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan dari Rangkasbitung.
Mengapa perjalanan sebaiknya dilakukan sejak malam?
Ada alasan kuat mengapa perjalanan menuju Gunung Luhur sebaiknya tidak dilakukan secara mendadak pada pagi hari, terutama jika targetnya adalah lautan awan.
Pemandangan terbaik justru berada pada pagi hari, sementara perjalanan dari Rangkasbitung saja membutuhkan waktu sekitar dua jam dalam kondisi normal. Artinya, wisatawan yang baru meninggalkan Rangkasbitung setelah matahari terbit berpotensi kehilangan momen ketika awan masih berada di bawah kawasan perbukitan.
Bagi pengguna kendaraan pribadi, salah satu strategi yang dapat dipertimbangkan adalah berangkat dari Jakarta pada malam hari, kemudian bermalam di sekitar Citorek atau kawasan yang tersedia sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Luhur pada dini hari.
Alternatif lainnya adalah melakukan perjalanan sejak dini hari dari Jakarta, meskipun pilihan ini membuat waktu berkendara cukup panjang dan membutuhkan kondisi pengemudi yang benar-benar prima.
Untuk pengguna transportasi umum, menginap sehari sebelumnya di sekitar Rangkasbitung atau kawasan Citorek juga dapat menjadi pilihan yang lebih aman. Dengan cara tersebut, wisatawan tidak perlu mengejar perjalanan angkutan umum pada pagi hari hanya demi mendapatkan panorama matahari terbit.

Jangan hanya mengejar foto
Popularitas Gunung Luhur memang tidak dapat dilepaskan dari foto lautan awan yang beredar di media sosial, tetapi perjalanan ke Citorek sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai agenda berburu foto.
Perjalanan menuju kawasan tersebut membawa wisatawan keluar dari suasana perkotaan dan memasuki kawasan perbukitan Lebak yang menawarkan udara lebih sejuk serta lanskap pedesaan. Setelah sampai di lokasi, wisatawan dapat menikmati matahari terbit, mengamati perubahan awan, menikmati suasana pagi atau sekadar menghabiskan waktu tanpa agenda yang terlalu padat.
Kawasan sekitar Citorek juga memiliki potensi wisata lain yang dapat dikombinasikan dalam perjalanan, termasuk kawasan masyarakat adat Citorek dan sejumlah destinasi alam di Kecamatan Cibeber. Pemerintah Provinsi Banten sebelumnya menyebut peningkatan akses Cipanas–Warung Banten turut membuka akses menuju beberapa destinasi wisata lain di wilayah tersebut.
Dengan begitu, perjalanan akhir pekan tidak harus berhenti setelah melihat lautan awan. Wisatawan dapat menyusun perjalanan yang lebih panjang dengan menjadikan Gunung Luhur sebagai salah satu titik utama dalam eksplorasi kawasan Lebak.
Cocok untuk liburan akhir pekan
Gunung Luhur Citorek menawarkan jenis wisata yang cukup berbeda dari destinasi populer di kawasan perkotaan. Tidak ada kebutuhan untuk menghabiskan waktu seharian di pusat perbelanjaan atau berpindah dari satu kafe ke kafe lainnya karena daya tarik utama tempat ini justru berada pada lanskap alam dan suasana pagi.
Bagi warga Jabodetabek, perjalanan menuju kawasan ini memang membutuhkan waktu dan persiapan, tetapi jaraknya masih cukup realistis untuk dimasukkan dalam agenda akhir pekan. Pilihan kendaraan pribadi memberikan fleksibilitas lebih besar, sementara kombinasi KRL, ELF dan ojek lokal dapat menjadi alternatif bagi mereka yang ingin bepergian tanpa membawa kendaraan sendiri.
Pada akhirnya, Gunung Luhur Citorek membuktikan bahwa untuk menikmati sensasi “negeri di atas awan”, wisatawan tidak selalu harus pergi hingga Dieng. Di selatan Banten, tepatnya di kawasan Citorek, Lebak, terdapat perbukitan yang pada pagi-pagi tertentu dapat menghadirkan panorama awan dari ketinggian dan menawarkan pengalaman liburan yang berbeda dari rutinitas perkotaan.
Bagi yang sedang mencari ide perjalanan akhir pekan, destinasi ini layak masuk daftar, terutama bagi mereka yang ingin menggabungkan perjalanan darat, suasana pegunungan dan kesempatan menyaksikan matahari terbit dari atas lautan awan.
Catatan perjalanan: informasi mengenai jadwal ELF, tarif angkutan lokal, ojek dan fasilitas wisata dapat berubah. Untuk pengguna transportasi umum, sebaiknya memastikan kembali jadwal keberangkatan dari Rangkasbitung sebelum berangkat. Sementara pengguna kendaraan pribadi sebaiknya memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima karena sebagian perjalanan melewati jalur perbukitan dengan tanjakan dan turunan.
(EK)
