
Perayaan Festival Kue Bulan (Mid-Autumn Festival atau Zhongqiu Jie) adalah salah satu perayaan tertua dan paling penting bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Dirayakan setiap tahun pada malam bulan purnama di hari kelima belas bulan kedelapan kalender lunar. Festival ini merupakan momen sakral bagi keluarga untuk berkumpul, menikmati keindahan rembulan, sambil menyantap mooncake dan minum teh bersama. Karena menggunakan kalender lunar, tanggal perayaannya dalam kalender Masehi berubah setiap tahun. Meski memiliki akar budaya yang kuat dari Tiongkok, perayaan ini kini dikenal luas di berbagai negara Asia dan berkembang menjadi festival budaya yang memiliki beragam bentuk perayaan.
Perayaan ini bukan sekadar momen untuk menikmati kue bulan dengan beragam isian, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, menikmati suasana malam, sekaligus merayakan nilai kebersamaan yang telah diwariskan selama berabad-abad. Bentuknya yang umumnya bulat sering dikaitkan dengan simbol keutuhan dan kebersamaan keluarga. Dalam tradisi Tionghoa, bentuk bulat juga memiliki makna reuni, sehingga kue bulan kerap menjadi makanan yang dibagikan kepada anggota keluarga maupun diberikan sebagai hadiah kepada kerabat dan rekan.
Kue bulan tradisional biasanya memiliki kulit yang tipis dengan isian seperti pasta biji teratai, kacang merah, atau kuning telur asin yang melambangkan bulan. Namun, seiring perkembangan zaman, pilihan kue bulan semakin beragam. Berbagai toko kue dan restoran kini menawarkan mooncake dengan rasa modern seperti cokelat, keju, teh hijau, custard, hingga varian premium dengan tampilan yang dibuat semakin menarik.
Di balik kemeriahan lampion, kehangatan keluarga, dan kelezatan kue bulan, tersimpan sebuah kisah mitologi yang sangat melegenda tentang Chang’e, sang Dewi Bulan.
Legenda Chang’e dan Hou Yi
Ribuan tahun yang lalu, bumi dikisahkan pernah dinaungi oleh sepuluh matahari sekaligus. Panas yang luar biasa membuat bumi kekeringan, tanaman layu, dan kehidupan manusia berada di ambang kehancuran.
Melihat penderitaan rakyatnya, seorang pemanah ulung bernama Hou Yi naik ke puncak Gunung Kunlun. Dengan kekuatan luar biasa, ia membentangkan busurnya dan berhasil memanah jatuh sembilan matahari, menyisakan satu matahari saja yang membuat bumi kembali sejuk dan dapat hidup normal.
Atas jasa besar tersebut, Hou Yi dihormati sebagai pahlawan dan diangkat menjadi raja. Ia kemudian menikahi seorang wanita cantik berhati mulia bernama Chang’e.
Namun, popularitas dan kekuasaan membuat Hou Yi perlahan berubah menjadi penguasa yang sombong dan kejam. Ia bahkan mencari cara agar bisa hidup abadi selamanya di bumi. Khawatir suaminya akan menjadi tirani abadi yang menyiksa rakyat, Chang’e hidup dalam kecemasan.
Suatu hari, Ratu Langit (Xiwangmu) merasa iba pada Hou Yi dan memberikannya sebuah ramuan keabadian. Konon, jika seseorang meminum seluruh ramuan itu, ia akan langsung naik ke surga dan menjadi dewa. Namun jika diminum separuh saja, ia bisa hidup abadi di bumi tanpa harus mati.
Hou Yi berencana meminum ramuan itu bersama Chang’e. Namun, suatu malam saat Hou Yi sedang pergi, salah satu muridnya yang serakah bernama Peng Meng mencoba memaksa Chang’e untuk menyerahkan ramuan tersebut.
Terdesak dan tidak ingin ramuan suci itu jatuh ke tangan orang jahat yang berniat buruk, Chang’e dengan cepat mengambil botol ramuan itu dan meminum seluruh isinya sekaligus. Seketika itu juga, tubuhnya menjadi ringan dan mulai melayang lepas dari bumi. Karena rasa cintanya yang mendalam pada sang suami, Chang’e memilih tempat tinggal terdekat dari bumi yang bisa ia jangkau, yaitu bulan.
Ketika Hou Yi pulang dan mendapati istrinya telah menghilang ke langit, ia sangat terpukul. Sambil menangis tersedu-sedu, ia menatap ke arah bulan purnama malam itu dan melihat siluet bayangan wanita yang sangat mirip dengan istrinya. Sebagai bentuk kerinduan yang mendalam, Hou Yi mulai meletakkan buah-buahan dan kue-kue kesukaan Chang’e di atas meja altar setiap malam bulan purnama sebagai persembahan.

Masyarakat yang mendengar kisah kesetiaan dan pengorbanan Chang’e turut bersimpati. Tradisi mempersembahkan makanan di bawah cahaya bulan purnama akhirnya menyebar luas dari generasi ke generasi, yang kemudian berkembang menjadi perayaan Festival Kue Bulan yang kita kenal hingga hari ini.
(CS)
