
Di tengah wajah Bintaro yang terus berubah menjadi kawasan urban modern, sekelompok orang masih memilih menikmati perjalanan dengan cara yang berbeda. Mereka mengayuh sepeda tua dengan desain klasik, menyusuri jalan bersama-sama, sambil sesekali menyapa orang yang berpapasan.
Sepeda yang digunakan bukan sepeda balap dengan teknologi modern atau sepeda listrik yang kini semakin mudah ditemukan. Sepeda itu adalah sepeda onthel, kendaraan klasik yang bagi sebagian orang mungkin hanya dianggap sebagai barang tua, tetapi bagi para penggemarnya memiliki cerita, karakter dan nilai sejarah.
Dari kegemaran terhadap sepeda tua itulah Bintaro Onthel Solidarity (BOS) tumbuh. Komunitas ini bukan sekadar tempat berkumpulnya pemilik sepeda onthel, tetapi juga ruang pertemanan yang mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang dalam satu kesamaan, yakni kecintaan terhadap sepeda tua.
Berawal dari Empat Orang
Tidak ada kisah besar yang langsung mengiringi kelahiran BOS. Cikal bakal komunitas ini justru berawal dari kelompok yang sangat kecil.
Dalam penelitian mengenai BOS yang dilakukan Arif Hadi Luqman dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irwan Bob yang merupakan ketua sekaligus salah satu pendiri BOS menceritakan bahwa pada awalnya hanya ada sekitar empat orang yang memiliki ketertarikan terhadap sepeda tua.
Mereka kemudian mulai sering berkumpul dan berbagi ketertarikan yang sama. Dari obrolan mengenai sepeda tua tersebut muncul gagasan untuk membentuk sebuah komunitas.
Jumlah orang yang tertarik kemudian bertambah hingga sekitar 30 orang ketika gagasan pembentukan komunitas mulai dibicarakan secara lebih serius. Pada masa itu, belum terdapat komunitas sepeda tua di wilayah Tangerang Selatan sehingga mereka membutuhkan sebuah wadah untuk mempertemukan para penggemar sepeda tua di kawasan tersebut.
Dari sinilah nama Bintaro Onthel Solidarity, atau BOS, kemudian menjadi identitas kelompok tersebut.
Menariknya, BOS tumbuh bukan sebagai organisasi yang langsung memiliki ratusan anggota. Komunitas ini berkembang secara organik dari pertemanan, kesamaan hobi dan keinginan untuk menikmati sepeda tua bersama-sama.
Dari Hobi Menjadi Persaudaraan
Sepeda menjadi alasan pertama orang-orang tersebut bertemu. Namun, dalam perjalanan waktu, hubungan yang terbentuk di antara anggota BOS berkembang jauh lebih luas.
Penelitian tentang BOS mencatat bahwa komunitas ini memiliki berbagai mekanisme untuk mempertahankan keberlangsungannya, termasuk perekrutan anggota baru, komunikasi, sosialisasi, pembagian peran serta integrasi antaranggota.
Pada penelitian tersebut, jumlah anggota BOS pada 2017 disebut telah mencapai sekitar 200 orang. Anggotanya berasal dari beragam latar belakang pekerjaan dan kehidupan.
Ada pekerja bangunan, pengemudi ojek, petugas keamanan, anggota kepolisian, pedagang, pegawai negeri hingga karyawan swasta.

Perbedaan profesi dan latar belakang tersebut tidak menjadi penghalang. Ketika berkumpul, mereka memiliki satu kesamaan yang membuat jarak sosial menjadi lebih cair: sepeda onthel.
Di situlah nama Solidarity dalam BOS terasa memiliki makna.
Menikmati Bintaro dengan Sepeda Tua
Ada pengalaman berbeda ketika sebuah kawasan perkotaan dijelajahi dengan sepeda onthel.
Kecepatan bukan tujuan utama. Anggota dapat menikmati perjalanan dengan lebih santai, berbincang dengan sesama anggota, sekaligus melihat lingkungan sekitar dari perspektif yang berbeda.
BOS diketahui biasa berkumpul di Bundaran Bintaro pada Minggu pagi. Bagi pencinta sepeda tua yang ingin mengenal komunitas ini secara langsung, waktu dan lokasi tersebut dapat menjadi salah satu kesempatan untuk melihat aktivitas komunitas sekaligus berkenalan dengan anggotanya.
Bagi komunitas seperti BOS, kegiatan bersepeda bukan hanya persoalan seberapa jauh jarak yang ditempuh. Perjalanan justru menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan.
Bagaimana Cara Bergabung dengan BOS Bintaro?
Bagi warga Bintaro dan Tangerang Selatan yang tertarik bergabung, cara paling sederhana adalah datang dan berkenalan langsung ketika komunitas berkumpul.
Direktori komunitas Bintaro mencatat BOS sebagai komunitas pencinta sepeda tua yang biasa berkumpul di Bundaran Bintaro setiap Minggu pagi.
Calon anggota tidak harus datang dengan pengalaman panjang di dunia sepeda onthel. Yang lebih penting adalah ketertarikan terhadap sepeda tua dan keinginan untuk berinteraksi dengan anggota komunitas.
Jika belum memiliki sepeda onthel, calon anggota juga dapat terlebih dahulu datang untuk mengenal komunitas dan menanyakan secara langsung kepada anggota mengenai kegiatan, aturan bergabung dan apakah terdapat persyaratan tertentu untuk menjadi anggota.
Cara seperti ini terasa lebih sesuai dengan karakter komunitas hobi. Tidak perlu memulai dengan formalitas yang rumit. Datang, berkenalan, berbincang mengenai sepeda dan mengikuti kegiatan menjadi pintu masuk untuk mengenal BOS lebih dekat.
Catatan penting: beberapa direktori lama di internet masih mencantumkan alamat, nomor telepon dan email BOS, tetapi data tersebut berasal dari publikasi lama dan belum dapat dipastikan masih aktif. Karena itu, informasi tersebut sebaiknya tidak digunakan sebagai kontak utama sebelum dikonfirmasi kembali.
Sepeda Tua Bukan Sekadar Barang Koleksi
Bagi anggota komunitas, sepeda onthel memiliki daya tarik yang tidak dimiliki sepeda modern.
Desainnya membawa karakter masa lalu. Komponen dan konstruksinya memiliki cerita tersendiri, sementara proses merawatnya membutuhkan perhatian yang berbeda.
Penelitian mengenai BOS juga mencatat kontribusi komunitas dalam melestarikan sepeda onthel melalui kegiatan merawat, mengoleksi dan memberikan edukasi mengenai sepeda tua.
Karena itu, sepeda yang digunakan anggota BOS bukan sekadar properti untuk bergaya ketika berkumpul. Sepeda tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar budaya bersepeda dengan kendaraan klasik tetap dikenal.
Terhubung dengan Komunitas Onthel Indonesia
BOS juga tidak berdiri sendiri. Dalam penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, BOS disebut sebagai salah satu komunitas yang berada di bawah naungan Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) dan karena berada di wilayah Tangerang Selatan, BOS masuk dalam KOSTI Tangerang Selatan.
Keterhubungan tersebut membuat pergaulan anggota tidak hanya terbatas pada lingkungan Bintaro. Komunitas sepeda tua memiliki jaringan yang lebih luas sehingga memungkinkan anggota bertemu dengan pencinta onthel dari berbagai wilayah.
Eksistensi BOS bahkan masih terlihat dalam kegiatan publik pada 2026. Pada Agustus 2026, komunitas ini ikut memeriahkan Merdeka Fest di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, dengan membawa sepeda onthel dan atribut bernuansa kemerdekaan.
Kehadiran tersebut menunjukkan bahwa sepeda onthel masih memiliki ruang dalam kehidupan komunitas perkotaan.
Ketika Hobi Menjadi Alasan untuk Bertemu
Kisah BOS pada akhirnya bukan hanya tentang sepeda.
Sepeda memang menjadi alasan pertama orang-orang berkumpul, tetapi interaksi yang terjadi di dalam komunitas membuat hubungan tersebut berkembang menjadi persahabatan dan persaudaraan.

Dari empat orang penggemar sepeda tua, komunitas ini berkembang dan membangun jaringan yang lebih luas. Perjalanannya menunjukkan bahwa sebuah hobi sederhana dapat menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan sosial yang bertahan dalam waktu panjang.
Di tengah Bintaro yang terus bergerak cepat, BOS menawarkan sesuatu yang justru berjalan lebih lambat: menikmati perjalanan, berbincang dengan teman dan menjaga sepeda tua tetap mengayuh di jalan.
Bagi mereka, sepeda boleh tua. Tetapi persaudaraan yang tumbuh dari setiap kayuhan tidak harus ikut menjadi tua.
(DS)
