
Pernah terbangun dari tidur karena rasa nyeri yang luar biasa pada persendian, terutama di bagian jempol kaki, pergelangan kaki, atau lutut? Kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda serangan asam urat atau gout. Menariknya, banyak penderita asam urat mengeluhkan bahwa rasa nyeri justru muncul atau semakin parah pada malam hari, bahkan ketika sebelumnya mereka merasa baik-baik saja sepanjang siang.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa serangan gout memang lebih sering terjadi pada malam hingga menjelang pagi dibandingkan siang hari. Ada beberapa faktor biologis yang diduga berperan, mulai dari perubahan suhu tubuh, aktivitas hormon, hingga kondisi cairan tubuh selama tidur.
Memahami penyebabnya menjadi langkah penting agar penderita dapat mengurangi risiko kekambuhan dan menjaga kualitas istirahat.
1. Penurunan Suhu Tubuh pada Malam Hari
Salah satu faktor yang diduga berperan dalam munculnya serangan asam urat pada malam hari adalah penurunan suhu tubuh. Ketika seseorang tidur, suhu tubuh secara alami mengalami perubahan dan cenderung menurun.
Bagian tubuh yang jauh dari pusat tubuh, seperti jari kaki dan pergelangan kaki, biasanya memiliki suhu lebih rendah dibandingkan bagian tubuh lainnya. Kondisi suhu yang lebih rendah dapat mempermudah kristal monosodium urat terbentuk atau mengendap pada persendian, terutama ketika kadar asam urat dalam darah sudah tinggi.
Kristal tersebut kemudian dapat memicu reaksi sistem kekebalan tubuh sehingga menimbulkan peradangan. Akibatnya, persendian terasa nyeri, membengkak, kemerahan, dan panas ketika disentuh.
2. Perubahan Hormon Pengendali Peradangan
Tubuh memiliki mekanisme alami untuk mengendalikan peradangan melalui berbagai hormon, salah satunya kortisol. Hormon ini memiliki efek antiinflamasi yang membantu mengatur respons peradangan.
Kadar kortisol mengikuti ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Kadarnya umumnya lebih rendah pada malam hari dan meningkat menjelang pagi.
Perubahan tersebut diduga dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengendalikan respons peradangan. Pada penderita gout, kondisi ini berpotensi membuat serangan peradangan terasa lebih berat ketika terjadi pada malam hari.
3. Dehidrasi Selama Tidur
Dehidrasi juga dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kekambuhan asam urat. Ketika tidur selama beberapa jam, seseorang tidak mendapatkan asupan cairan, sementara tubuh tetap kehilangan air melalui pernapasan dan keringat.
Kondisi kekurangan cairan dapat meningkatkan konsentrasi urat dalam darah dan memengaruhi kemampuan ginjal membuang zat tersebut melalui urine.
Karena itu, menjaga kecukupan cairan sepanjang hari merupakan kebiasaan penting bagi penderita asam urat. Minum air putih secara teratur dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal dan mendukung proses pembuangan asam urat.
4. Kebiasaan Mengonsumsi Makanan Tinggi Purin
Pola makan memiliki hubungan erat dengan risiko serangan asam urat. Purin merupakan senyawa alami yang terdapat dalam tubuh dan berbagai jenis makanan. Ketika purin diuraikan, tubuh menghasilkan asam urat.
Beberapa makanan yang mengandung purin cukup tinggi antara lain jeroan, daging merah, sarden, kerang, dan beberapa jenis makanan laut lainnya.
Kebiasaan makan malam dalam porsi besar, terutama jika disertai konsumsi makanan tinggi purin, dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar asam urat. Selain itu, minuman beralkohol dan minuman berpemanis tinggi fruktosa juga perlu dibatasi.
Namun, serangan yang muncul malam hari tidak selalu disebabkan oleh makanan yang baru dikonsumsi. Kadar asam urat tinggi biasanya merupakan hasil akumulasi berbagai faktor dalam jangka panjang.
5. Pengaruh Obat-obatan dan Gangguan Ginjal
Beberapa jenis obat dapat memengaruhi kemampuan tubuh membuang asam urat. Salah satunya adalah obat diuretik atau pelancar urine yang sering digunakan untuk menangani tekanan darah tinggi dan kondisi jantung tertentu.
Penggunaan obat tersebut dapat mengurangi pembuangan asam urat melalui ginjal sehingga kadarnya dalam darah berpotensi meningkat.
Gangguan fungsi ginjal juga dapat menyebabkan penumpukan asam urat. Oleh karena itu, penderita gout yang mengonsumsi obat rutin sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami serangan berulang. Jangan menghentikan atau mengganti obat tanpa petunjuk medis.
Mengapa Asam Urat Menimbulkan Nyeri Hebat?
Asam urat merupakan hasil akhir metabolisme purin. Dalam kondisi normal, zat ini dibuang melalui ginjal bersama urine.
Namun, ketika tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat atau ginjal tidak mampu membuangnya secara optimal, kadar asam urat dalam darah meningkat. Kondisi ini disebut hiperurisemia.
Jika berlangsung dalam waktu lama, kristal monosodium urat dapat terbentuk dan menumpuk di sekitar persendian. Ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap kristal tersebut, terjadilah peradangan yang menyebabkan nyeri hebat.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Arthritis & Rheumatology pada 2015 terhadap 724 penderita gout menemukan bahwa risiko serangan pada tengah malam hingga menjelang pagi sekitar 2,36 kali lebih tinggi dibandingkan siang hari.
Cara Mencegah Asam Urat Kambuh pada Malam Hari
Ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan. Pertama, menjaga kecukupan cairan dengan minum air putih secara teratur sepanjang hari. Kedua, membatasi makanan tinggi purin seperti jeroan, daging merah berlebihan, dan makanan laut tertentu.
Ketiga, menghindari alkohol serta minuman tinggi fruktosa. Keempat, menjaga berat badan ideal melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur. Kelima, menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter, termasuk menggunakan obat penurun asam urat apabila memang diperlukan.
Apabila serangan muncul pada malam hari, istirahatkan persendian yang sakit dan lakukan kompres dingin selama 15–20 menit menggunakan es yang dibungkus kain. Jika dokter telah memberikan obat untuk serangan gout, gunakan sesuai petunjuk.
Segera periksakan diri apabila nyeri sendi disertai demam atau menggigil karena kondisi tersebut juga dapat mengindikasikan infeksi sendi.
(SK)
