
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar, bermain, dan mengembangkan potensi diri. Namun, bagi sebagian anak, lingkungan sekolah justru dapat menjadi sumber tekanan akibat perundungan atau bullying. Masalah ini tidak selalu terlihat jelas karena anak yang menjadi korban sering kali memilih diam, menyembunyikan perasaannya, atau bahkan enggan menceritakan pengalaman buruk yang dialaminya kepada orang tua.
Karena itu, orang tua perlu mengenali perubahan perilaku anak yang mungkin menjadi tanda bahwa ia sedang mengalami perundungan. Semakin cepat masalah diketahui, semakin besar peluang anak mendapatkan dukungan dan perlindungan yang dibutuhkan.
Apa Itu Perundungan di Sekolah?
Perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang untuk menyakiti, mengintimidasi, mempermalukan, atau menguasai orang lain. Perilaku ini dapat terjadi dalam bentuk fisik, verbal, sosial, maupun melalui media digital atau cyberbullying.
Di sekolah, perundungan tidak selalu berupa tindakan memukul atau mendorong. Mengejek penampilan, memberikan julukan yang merendahkan, mengancam, menyebarkan gosip, mengucilkan teman dari kelompok pergaulan, hingga mempermalukan seseorang melalui grup percakapan juga dapat menjadi bentuk perundungan.
Tidak semua konflik antarteman termasuk perundungan. Perselisihan biasa umumnya terjadi ketika anak-anak memiliki perbedaan pendapat atau kepentingan, sedangkan perundungan biasanya melibatkan perilaku menyakiti yang berulang dan ketimpangan kekuatan, baik secara fisik, sosial, maupun psikologis.
Tanda-Tanda Anak Mungkin Menjadi Korban Perundungan
1. Enggan Berangkat ke Sekolah
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah perubahan sikap anak terhadap sekolah. Anak yang sebelumnya bersemangat mengikuti pelajaran atau bertemu teman-temannya tiba-tiba sering mengeluh sakit perut, sakit kepala, merasa lelah, atau mencari alasan untuk tidak masuk sekolah.
Keluhan tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai alasan untuk menghindari kewajiban. Tekanan emosional akibat perundungan dapat memunculkan keluhan fisik yang benar-benar dirasakan anak. Orang tua sebaiknya mencari tahu apakah ada masalah tertentu yang membuat anak merasa tidak nyaman atau takut berada di sekolah.
2. Perubahan Suasana Hati dan Perilaku
Anak yang mengalami perundungan mungkin menjadi lebih pendiam, mudah marah, sensitif, atau sering terlihat sedih. Sebagian anak juga menunjukkan perubahan perilaku dengan menjadi lebih agresif kepada saudara atau orang-orang terdekatnya.
Perubahan ini dapat terjadi karena anak merasa tertekan, malu, atau tidak tahu bagaimana menghadapi situasi yang dialaminya. Meski demikian, perubahan suasana hati tidak otomatis menunjukkan bahwa anak menjadi korban perundungan. Orang tua perlu memperhatikan pola perubahan tersebut dan mencari tahu penyebabnya dengan pendekatan yang tenang.
3. Prestasi Akademik Menurun
Kesulitan berkonsentrasi, kehilangan motivasi belajar, atau penurunan nilai secara tiba-tiba juga patut diperhatikan. Anak yang terus-menerus merasa takut atau khawatir terhadap situasi di sekolah mungkin kesulitan memusatkan perhatian pada pelajaran.
Dalam kondisi tertentu, anak bahkan menghindari kegiatan kelompok, tidak mau mengikuti ekstrakurikuler, atau kehilangan minat terhadap aktivitas sekolah yang sebelumnya disukai. Orang tua dapat berdiskusi dengan anak mengenai pengalaman sehari-harinya, termasuk hubungan dengan teman dan guru.
4. Barang Pribadi Hilang atau Rusak
Perhatikan apabila anak berulang kali pulang dengan perlengkapan sekolah yang rusak, pakaian kotor, atau barang pribadi yang hilang tanpa penjelasan yang masuk akal. Pada beberapa kasus, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan intimidasi, pemalakan, atau tindakan agresif dari teman sebaya.
Namun, orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa perundungan telah terjadi. Tanyakan kronologi kejadian dengan cara yang tidak menghakimi dan periksa apakah ada pola kejadian berulang yang membuat anak merasa terancam.
5. Mengalami Gangguan Tidur atau Perubahan Pola Makan
Tekanan emosional dapat memengaruhi kebiasaan anak di rumah. Anak mungkin mengalami kesulitan tidur, sering terbangun pada malam hari, kehilangan nafsu makan, atau justru makan lebih banyak daripada biasanya.
Sebagian anak juga terlihat gelisah menjelang hari sekolah, terutama pada malam sebelum masuk kelas. Jika perubahan ini berlangsung cukup lama, orang tua perlu memberikan perhatian lebih dan mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional apabila kondisi anak mengganggu aktivitas sehari-hari.
6. Menarik Diri dari Teman dan Kegiatan Favorit
Anak yang menjadi korban perundungan dapat kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan sosialnya. Ia mungkin tidak lagi bercerita tentang teman-temannya, menolak undangan bermain, atau lebih memilih menghabiskan waktu sendirian.
Perubahan tersebut bisa menjadi petunjuk bahwa anak sedang menghadapi masalah dalam pergaulan. Orang tua dapat mengajak anak berbicara mengenai hubungan pertemanannya tanpa memaksanya untuk segera bercerita. Berikan kesempatan agar anak merasa aman ketika mengungkapkan perasaan maupun pengalaman yang tidak menyenangkan.
7. Menunjukkan Ketakutan terhadap Orang atau Situasi Tertentu
Anak mungkin terlihat cemas ketika menyebut nama teman tertentu, menghindari lokasi tertentu di sekolah, atau merasa takut ketika harus mengikuti kegiatan bersama kelompok tertentu.
Perhatikan pula apabila anak meminta diantar atau dijemput secara berbeda dari biasanya, takut menggunakan transportasi sekolah, atau sangat khawatir ketika ponselnya menerima pesan. Hal-hal tersebut perlu ditanyakan lebih lanjut, terutama jika disertai perubahan perilaku lainnya.
8. Menyembunyikan Aktivitas Digital
Perundungan juga dapat terjadi di luar lingkungan sekolah melalui media sosial, permainan daring, dan grup percakapan. Anak yang mengalami cyberbullying mungkin mendadak enggan menggunakan ponsel, terlihat sangat cemas setelah membaca pesan, atau menjadi tertutup mengenai aktivitas digitalnya.
Sebagian anak justru terus memeriksa ponsel karena takut melewatkan ancaman atau pesan yang ditujukan kepadanya. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka tentang keamanan digital, termasuk mengajarkan anak menyimpan bukti pesan yang mengancam, memblokir akun pelaku bila diperlukan, dan melaporkan konten yang merugikan.
Mengapa Anak Sering Tidak Mau Bercerita?
Ada sejumlah alasan yang membuat anak memilih menyimpan pengalaman perundungan seorang diri. Anak mungkin takut pelaku akan membalas jika ia melapor, merasa malu karena menganggap dirinya lemah, atau khawatir orang tua akan marah dan menyalahkannya.
Sebagian anak juga takut masalahnya dianggap sepele. Mereka mungkin pernah mencoba bercerita, tetapi merasa tidak didengarkan atau tidak mendapatkan bantuan yang diharapkan.
Karena itu, orang tua perlu membangun suasana komunikasi yang terbuka sejak dini. Biasakan bertanya mengenai pengalaman anak di sekolah, siapa teman yang membuatnya nyaman, dan apakah ada kejadian yang membuatnya sedih atau takut. Pertanyaan sederhana yang disampaikan dengan penuh perhatian dapat membantu anak merasa lebih aman untuk bercerita.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?
Jika mencurigai anak mengalami perundungan, langkah pertama adalah mendengarkan ceritanya tanpa menyela atau langsung menghakimi. Hindari respons seperti menyuruh anak membalas perlakuan pelaku atau mempertanyakan mengapa ia tidak melawan. Sebaliknya, tegaskan bahwa anak tidak pantas diperlakukan dengan cara yang menyakitkan dan bahwa ia tidak harus menghadapi masalah tersebut sendirian.
Setelah itu, lakukan beberapa langkah berikut:
Pertama, ajak anak berbicara secara pribadi. Pilih waktu ketika anak merasa nyaman. Gunakan pertanyaan terbuka, seperti, “Apakah ada kejadian di sekolah yang membuat kamu merasa takut atau tidak nyaman?” Biarkan anak bercerita sesuai kesiapannya.
Kedua, catat kejadian yang dialami anak. Jika anak bersedia bercerita, dokumentasikan waktu, lokasi, bentuk perlakuan, dan pihak yang terlibat. Simpan pula bukti yang relevan, seperti pesan, tangkapan layar, atau foto barang yang rusak, jika tersedia.
Ketiga, komunikasikan masalah dengan pihak sekolah. Hubungi wali kelas, guru bimbingan dan konseling, atau pihak sekolah yang menangani perlindungan peserta didik. Sampaikan informasi secara faktual dan minta langkah konkret untuk memastikan keselamatan anak serta mencegah kejadian berulang.
Keempat, pantau kondisi emosional anak. Jika anak terus mengalami kecemasan, sulit tidur, menolak sekolah, atau menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan, pertimbangkan bantuan psikolog atau tenaga kesehatan mental yang kompeten. Jika anak berada dalam bahaya langsung, segera prioritaskan keselamatannya dan hubungi pihak yang dapat memberikan perlindungan.
Kelima, bangun kembali rasa percaya dirinya. Dorong anak mengikuti kegiatan yang disukai, menjaga hubungan dengan teman yang suportif, dan mengembangkan kemampuan untuk mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak aman. Tujuannya bukan membuat anak merasa harus menyelesaikan perundungan sendirian, melainkan membantunya merasa didukung dan memiliki pilihan untuk bertindak.
Peran Sekolah dan Orang Tua dalam Mencegah Perundungan
Pencegahan perundungan membutuhkan kerja sama antara keluarga dan sekolah. Orang tua dapat mengajarkan empati, menghargai perbedaan, serta pentingnya memperlakukan orang lain dengan hormat. Anak juga perlu memahami bahwa menyaksikan perundungan tanpa mencari bantuan dapat membuat korban semakin merasa sendirian.
Di sisi lain, sekolah perlu menyediakan mekanisme pelaporan yang aman, menindaklanjuti pengaduan secara serius, serta memastikan korban tidak mengalami intimidasi lanjutan setelah melapor. Penanganan sebaiknya tidak berhenti pada pemberian hukuman, tetapi juga mencakup perlindungan korban, pemantauan situasi, dan upaya memperbaiki iklim pergaulan di sekolah.
Orang tua sebaiknya menghindari konfrontasi langsung yang emosional dengan anak yang diduga menjadi pelaku atau keluarganya tanpa koordinasi yang tepat. Pendekatan melalui pihak sekolah dapat membantu proses penanganan berjalan lebih terarah dan mengurangi risiko konflik semakin meluas.
Mengenali Tanda Sejak Dini Dapat Membantu Melindungi Anak
Tidak ada satu tanda yang secara pasti membuktikan bahwa seorang anak menjadi korban perundungan. Namun, perubahan perilaku yang berlangsung berulang, terutama ketika muncul bersamaan dengan ketakutan terhadap sekolah atau masalah dalam hubungan pertemanan, perlu mendapat perhatian.
Orang tua tidak harus menunggu anak menceritakan semuanya untuk mulai memberikan dukungan. Kehadiran yang konsisten, kesediaan mendengarkan, dan respons yang tidak menyalahkan dapat menjadi langkah penting untuk membantu anak merasa aman.
Pada akhirnya, anak perlu mengetahui bahwa rumah adalah tempat untuk mencari perlindungan, bukan tempat untuk takut dihakimi. Dengan komunikasi yang terbuka dan kerja sama yang baik dengan sekolah, orang tua dapat membantu anak menghadapi perundungan sekaligus membangun lingkungan belajar yang lebih aman, sehat, dan menghargai setiap individu.
(FF)
