
Bagi Anda yang sudah tinggal di kawasan Bintaro Jaya sejak tahun 80-an atau 90-an, mencoba mengingat Bintaro masa lalu mungkin terasa seperti mengingat kota yang sama sekali berbeda. Bintaro yang hari ini kita kenal sebagai kawasan hunian modern lengkap dengan mal megah, kafe aesthetic, dan deretan jalur lari yang asri, dulunya punya wajah yang sangat bersahaja.
Yuk, kita putar balik waktu dan melihat bagaimana metamorfosis Bintaro dari masa ke masa!
1. Tahun 1970–1980-an: Kebun Karet
Sebelum menjadi kota mandiri seperti sekarang, kawasan Bintaro—yang namanya diambil dari nama tanaman Bintaro (Cerbera manghas)—sebagian besar merupakan area perkebunan karet, rawa, dan pemukiman warga lokal.
Ketika pengembang PT Jaya Real Property (dulunya PT Pembangunan Jaya) mulai membuka lahan pada akhir 1970-an, proyek ini diawali dari Bintaro Sektor 1.
Nostalgia Warga Lama: Dulu, kalau dari Jakarta mau ke Bintaro Sektor 1 saja rasanya sudah seperti “keluar kota”. Penerangan jalan masih minim, dan kalau malam hari suasana masih sangat sepi diiringi suara jangkrik.
Fasilitas ritel saat itu belum ada. Plaza Bintaro (sekarang Bintaro Plaza) belum berdiri, dan warga masih mengandalkan pasar tradisional atau berbelanja ke arah Kebayoran Baru.
2. Tahun 1990-an: Berdirinya Bintaro Plaza & Dibukanya Jalur Kereta Api
Memasuki era 90-an, Bintaro mulai bersolek pesat. Momen paling bersejarah bagi warga Bintaro generasi 90-an adalah berdirinya Bintaro Plaza pada tahun 1993. Mal ini langsung menjadi center of gravity bagi anak muda dan keluarga Bintaro pada masanya. Tempat nongkrong, nonton bioskop, atau sekadar main arcade hari Minggu ada di sini.
Sektor-sektor baru seperti Sektor 2, 3, 4, hingga Sektor 9 mulai dibangun dan ramai dihuni oleh para komuter yang bekerja di Jakarta. Stasiun Pondok Ranji juga menjadi saksi bisu ribuan warga Bintaro yang setiap hari menggantungkan hidupnya pada moda transportasi kereta api.
3. Tahun 2000–2010-an: Ekspansi Besar-Besaran ke Tangerang Selatan
Di era 2000-an, Bintaro tidak lagi sekadar kawasan hunian tepi Jakarta, melainkan menjelma menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Tangerang Selatan.
Pembangunan jalan tol Jakarta–Serpong dan perluasan Sektor 7, 8, hingga 9 mengubah lanskap Bintaro secara drastis. Pasar Modern Bintaro di Sektor 7 resmi dibuka dan menjadi percontohan pasar tradisional yang bersih dan nyaman.

Di era ini pula, Bintaro Loop mulai dikenal di kalangan pencinta olahraga sepeda dan lari sebagai kawasan aman dan nyaman untuk berolahraga pagi.
4. Bintaro Hari Ini: Surga Kuliner, Transportasi Terintegrasi, dan Hub Komunitas
Coba tengok Bintaro sekarang. Apa yang tidak ada di sini?
-
Pusat Hiburan & Gaya Hidup Modern: Kehadiran Bintaro Xchange (BXc) Mall 1 & 2 lengkap dengan oceanarium (BXsea) dan taman terbuka BXc Park menjadikan Bintaro tujuan wisata tidak hanya bagi warga lokal, tetapi juga warga Jakarta dan Tangerang Raya.
-
Surga Kuliner & Kafe Daring: Mulai dari jajaran kuliner legendaris di Pasar Modern, deretan kafe kekinian di Sektor 1, 7, hingga 9, sampai pusat jajanan malam. Bintaro kini diakui sebagai salah satu hub kuliner paling dinamis di Tangsel.
-
Konektivitas & Ruang Hijau: Integrasi Stasiun Jurang Mangu dengan BXc Mall via skywalk, tersedianya bus TransBintaro, serta keberadaan taman-taman kota seperti Menteng Park Bintaro membuktikan bahwa Bintaro berhasil menjaga keseimbangan antara modernitas dan kenyamanan lingkungan.
Bintaro: Rumah yang Selalu Dirindukan
Meski pohon-pohon karet kini telah berganti menjadi gedung-gedung modern dan jalanan yang dulu sepi kini ramai oleh mobilitas warga, satu hal yang tak pernah berubah dari Bintaro: rasa kebersamaan komunitasnya.
Bintaro bukan lagi sekadar “pinggiran Jakarta”, melainkan sebuah ruang hidup mandiri di mana sejarah, kenyamanan, dan gaya hidup modern berpadu harmonis.
Bagaimana dengan Anda? Tahun berapa Anda pertama kali pindah atau main ke Bintaro? Kenangan tempat atau kejadian apa yang paling Anda rindukan dari Bintaro zaman dulu? Tulis cerita nostalgia Anda di kolom komentar, ya!
(ES)
