
Harga bahan bakar yang terus naik menjadi salah satu pertimbangan utama dalam biaya penggunaan kendaraan membuat efisiensi konsumsi BBM semakin penting. Menariknya, penghematan bahan bakar tidak selalu harus dimulai dari mengganti kendaraan dengan model yang lebih irit atau menggunakan teknologi mesin terbaru. Cara seseorang mengemudikan kendaraan juga memiliki pengaruh besar terhadap konsumsi BBM.
Dua gaya berkendara yang memiliki karakter sangat berbeda adalah mengemudi agresif dan eco driving. Mengemudi agresif biasanya ditandai dengan kebiasaan melakukan akselerasi secara spontan, mengerem mendadak, mempertahankan putaran mesin tinggi, serta melakukan perpindahan kecepatan dengan cepat. Sebaliknya, eco driving menekankan pengendalian kendaraan yang lebih halus, menjaga kecepatan tetap stabil, mengantisipasi kondisi lalu lintas, dan menghindari penggunaan tenaga mesin secara berlebihan.
Lantas, seberapa besar perbedaannya terhadap konsumsi BBM?
Mengapa Gaya Mengemudi Memengaruhi Konsumsi BBM?
Mesin kendaraan membutuhkan energi untuk menghasilkan tenaga yang kemudian digunakan untuk menggerakkan kendaraan. Ketika pengemudi sering meminta tenaga besar dalam waktu singkat, misalnya melalui injakan pedal gas secara dalam, mesin akan bekerja lebih keras dan konsumsi bahan bakar dapat meningkat.
Pada kendaraan dengan mesin pembakaran internal, akselerasi agresif juga membuat mesin lebih sering bekerja pada kondisi beban tinggi. Jika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali, konsumsi BBM dalam satu perjalanan dapat menjadi lebih tinggi dibandingkan ketika kendaraan dikendarai secara halus dan konsisten.
Sebaliknya, eco driving berusaha menjaga kebutuhan tenaga mesin tetap proporsional dengan kondisi perjalanan. Pengemudi tidak berarti harus berkendara sangat lambat, tetapi menghindari perubahan kecepatan yang tidak perlu sehingga energi dari bahan bakar dapat dimanfaatkan dengan lebih efisien.
Mengemudi Agresif Bisa Membuat Konsumsi BBM Lebih Boros
Salah satu kebiasaan yang paling berpengaruh adalah akselerasi dan pengereman yang dilakukan berulang kali. Sebagai contoh, pengemudi mempercepat kendaraan dengan cepat hingga kecepatan tinggi, kemudian kembali mengerem karena kondisi lalu lintas. Setelah itu, kendaraan kembali dipacu dan pola yang sama berulang.
Energi yang sudah digunakan untuk mempercepat kendaraan akhirnya banyak terbuang ketika pengemudi melakukan pengereman. Dalam kondisi lalu lintas perkotaan yang padat, pola seperti ini dapat terjadi berkali-kali dalam satu perjalanan.
Kebiasaan lain yang dapat meningkatkan konsumsi BBM adalah mempertahankan putaran mesin terlalu tinggi ketika sebenarnya kendaraan tidak membutuhkan tenaga sebesar itu. Pada kendaraan transmisi manual, pemilihan gigi yang tidak sesuai juga dapat membuat mesin bekerja lebih berat. Sementara pada kendaraan otomatis, pengemudi tetap perlu menghindari kebiasaan menginjak pedal gas secara berlebihan untuk mendapatkan akselerasi yang sebenarnya tidak diperlukan.
Eco Driving Bukan Berarti Harus Berkendara Pelan
Masih ada anggapan bahwa eco driving berarti kendaraan harus dikemudikan dengan kecepatan sangat rendah. Padahal, konsep eco driving lebih berkaitan dengan efisiensi pengoperasian kendaraan daripada sekadar mengurangi kecepatan.
Pengemudi dapat menerapkan eco driving dengan melakukan akselerasi secara bertahap, mempertahankan kecepatan yang relatif stabil, menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan, serta membaca situasi lalu lintas lebih jauh.
Menjaga jarak juga memiliki manfaat tersendiri. Dengan ruang yang cukup, pengemudi tidak perlu terus-menerus melakukan pengereman dan akselerasi hanya karena kendaraan di depan berubah kecepatan. Ketika kondisi memungkinkan, kendaraan dapat melaju lebih konstan sehingga penggunaan BBM menjadi lebih efisien.
Seberapa Besar BBM yang Bisa Dihemat?
Besarnya penghematan tidak bisa disamaratakan karena sangat bergantung pada jenis kendaraan, kondisi mesin, rute perjalanan, kepadatan lalu lintas, beban kendaraan, penggunaan AC, tekanan ban, hingga kondisi jalan.
Namun, dalam penggunaan sehari-hari, perubahan gaya mengemudi dari agresif menjadi lebih halus dan efisien dapat memberikan penghematan yang cukup terasa, terutama bagi kendaraan yang sebelumnya sering mengalami akselerasi dan pengereman berlebihan.
Sebagai gambaran sederhana, apabila sebuah mobil biasanya mencatat konsumsi sekitar 10 km/l, efisiensi yang meningkat 10 persen berarti konsumsi teoritisnya dapat menjadi sekitar 11 km/l. Jika kendaraan digunakan menempuh 1.000 km, kebutuhan BBM berubah dari sekitar 100 liter menjadi sekitar 91 liter.
Artinya, terdapat potensi penghematan sekitar 9 liter untuk setiap 1.000 km. Jika jarak tempuh kendaraan jauh lebih tinggi, misalnya kendaraan operasional atau mobil yang digunakan setiap hari, selisih tersebut tentu dapat menjadi semakin signifikan.
Angka tersebut hanyalah ilustrasi untuk menunjukkan dampaknya. Penghematan aktual dapat lebih kecil atau lebih besar tergantung kondisi kendaraan dan pola perjalanan.
Lima Kebiasaan Eco Driving yang Mudah Diterapkan
Pertama, akselerasi secara bertahap. Hindari menginjak pedal gas terlalu dalam ketika tidak diperlukan. Akselerasi yang halus membantu mengurangi penggunaan tenaga mesin secara berlebihan.
Kedua, pertahankan kecepatan secara stabil. Perubahan kecepatan yang terlalu sering membuat kendaraan harus berulang kali menggunakan energi untuk kembali berakselerasi.
Ketiga, antisipasi lalu lintas. Perhatikan kondisi jalan beberapa kendaraan di depan. Jika terlihat antrean atau lampu lalu lintas akan berubah, kurangi kecepatan secara bertahap daripada terus melaju lalu mengerem mendadak.
Keempat, hindari membawa beban yang tidak diperlukan. Semakin berat kendaraan, semakin besar energi yang dibutuhkan untuk menggerakkannya, khususnya ketika kendaraan harus berakselerasi dari kondisi berhenti.
Kelima, pastikan kendaraan dalam kondisi prima. Tekanan ban yang sesuai, filter udara yang bersih, sistem pembakaran yang bekerja baik, serta pelumasan yang sesuai spesifikasi dapat membantu menjaga efisiensi kendaraan.
Eco Driving Juga Berkaitan dengan Keselamatan
Menariknya, eco driving bukan hanya mengenai penghematan BBM. Teknik berkendara yang lebih halus juga dapat membantu menciptakan perjalanan yang lebih aman dan nyaman.
Kebiasaan menjaga jarak, mengantisipasi kondisi lalu lintas, dan mengurangi pengereman mendadak membuat pengemudi memiliki lebih banyak waktu untuk merespons situasi di jalan. Penumpang pun cenderung merasa lebih nyaman karena kendaraan tidak terus-menerus mengalami akselerasi dan deselerasi secara tiba-tiba.
Dengan kata lain, eco driving dapat memberikan tiga keuntungan sekaligus, yaitu potensi menghemat BBM, mengurangi beban kerja kendaraan, dan menciptakan pengalaman berkendara yang lebih nyaman.
Hitung Penghematan dari Kebiasaan Kecil
Penghematan BBM sering kali dianggap harus dilakukan melalui perubahan besar, padahal kebiasaan sederhana di balik kemudi juga memiliki pengaruh. Mengurangi akselerasi agresif, tidak melakukan pengereman mendadak, dan menjaga kecepatan lebih konsisten mungkin terlihat sepele dalam satu perjalanan.
Namun, jika dilakukan setiap hari dan dalam jarak tempuh yang panjang, perbedaannya dapat terakumulasi menjadi penghematan yang cukup berarti.
Karena itu, sebelum mencari cara untuk menghemat BBM melalui berbagai perangkat tambahan atau mengganti kendaraan, ada baiknya mengevaluasi terlebih dahulu gaya berkendara sendiri. Bisa jadi, penghematan bahan bakar terbesar justru dimulai dari cara kaki menginjak pedal gas.
(EWK)
