
Memilih makan di rumah atau memesan makanan secara online sering dianggap hanya persoalan kenyamanan. Ketika sedang sibuk, pesan makanan melalui aplikasi memang terasa lebih praktis karena tidak perlu berbelanja bahan, memasak, mencuci peralatan, atau meluangkan waktu untuk menyiapkan makanan. Namun, jika kebiasaan tersebut dilakukan hampir setiap hari, ada sejumlah biaya yang sebenarnya perlu diperhitungkan agar pengeluaran makanan tidak terasa membesar tanpa disadari.
Sebaliknya, memasak di rumah juga bukan berarti selalu lebih murah. Ada biaya bahan makanan, gas atau listrik, bumbu, minyak goreng, air, hingga waktu yang digunakan untuk berbelanja dan memasak. Karena itu, membandingkan harga satu porsi makanan saja belum cukup untuk menentukan pilihan mana yang lebih ekonomis.
Harga Makanan Bukan Satu-Satunya Biaya
Misalnya, seseorang ingin membeli satu porsi makanan dengan harga Rp30.000 melalui aplikasi pesan-antar. Sekilas, pengeluaran yang terlihat hanya Rp30.000. Padahal, total pembayaran dapat bertambah karena adanya biaya pengiriman, biaya layanan aplikasi, biaya kemasan, atau biaya tambahan lainnya.
Jika setelah seluruh biaya tersebut total pembayaran menjadi Rp42.000, maka biaya sebenarnya untuk satu kali makan adalah Rp42.000, bukan Rp30.000.
Apabila pemesanan dilakukan sekali sehari selama 25 hari dalam sebulan, pengeluaran tersebut menjadi sekitar Rp1.050.000. Jika dilakukan untuk dua kali makan sehari, angkanya dapat mencapai Rp2.100.000 per bulan.
Perhitungan sederhana ini menunjukkan bahwa biaya tambahan yang terlihat kecil pada satu transaksi dapat menjadi cukup besar ketika dikalikan dengan frekuensi pemesanan.
Memasak di Rumah Juga Memiliki Biaya
Di sisi lain, memasak sendiri membutuhkan perhitungan yang lebih lengkap. Sebagai contoh, untuk menyiapkan makanan bagi satu orang, seseorang mungkin membeli beras, telur, ayam, sayuran, minyak goreng, bumbu, kecap, serta bahan pelengkap lainnya.
Tidak semua bahan tersebut habis dalam satu kali makan. Karena itu, biaya memasak sebaiknya dihitung berdasarkan porsi yang benar-benar dikonsumsi, bukan berdasarkan seluruh nilai belanja.
Sebagai ilustrasi, seseorang membeli bahan makanan senilai Rp150.000 yang dapat digunakan untuk membuat 10 porsi makan. Dengan demikian, biaya bahan makanan rata-rata sekitar Rp15.000 per porsi. Jika ditambah biaya gas, listrik, minyak, dan bahan pelengkap, misalnya menjadi sekitar Rp18.000 per porsi, biaya tersebut masih dapat lebih rendah dibandingkan makanan yang dipesan dengan total pembayaran Rp40.000-an.
Namun, perhitungan tersebut belum memasukkan nilai waktu yang digunakan untuk berbelanja dan memasak.
Waktu Juga Memiliki Nilai Ekonomi
Inilah salah satu biaya yang sering tidak disadari ketika membandingkan memasak dan pesan makanan.
Jika memasak membutuhkan waktu satu jam, waktu tersebut sebenarnya memiliki nilai. Bagi seseorang yang menggunakan waktu tersebut untuk bekerja, menjalankan usaha, belajar, mengurus keluarga, atau melakukan aktivitas lain yang penting, biaya waktunya mungkin cukup signifikan.
Sebaliknya, bagi orang yang memang menikmati aktivitas memasak atau memiliki waktu luang di rumah, memasak dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal karena waktu tersebut tidak dianggap sebagai beban.
Karena itu, keputusan makan di rumah atau memesan makanan sebaiknya tidak hanya melihat harga bahan makanan, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana waktu digunakan.
Biaya Transportasi dan Belanja Bahan
Memasak di rumah juga dapat menimbulkan biaya yang tidak langsung terlihat. Jika harus pergi ke supermarket atau pasar menggunakan kendaraan, misalnya, terdapat biaya bahan bakar, parkir, dan waktu perjalanan.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mengeluarkan Rp20.000 untuk transportasi ketika berbelanja bahan makanan. Jika bahan tersebut digunakan untuk 10 porsi, biaya transportasinya sekitar Rp2.000 per porsi.
Angka tersebut memang terlihat kecil, tetapi tetap perlu dimasukkan jika ingin melakukan perbandingan yang lebih realistis.
Untuk mengurangi biaya tersebut, belanja dalam jumlah yang cukup untuk beberapa hari atau memanfaatkan layanan belanja online dapat menjadi alternatif, selama biaya layanan dan pengiriman tetap diperhitungkan.
Ada Pula Biaya dari Makanan yang Tidak Terpakai
Salah satu keuntungan memasak dalam jumlah tertentu adalah bahan makanan dapat digunakan untuk beberapa kali makan. Namun, ada risiko bahan tersebut rusak sebelum sempat digunakan.
Sayuran yang membusuk, bumbu yang kedaluwarsa, atau makanan yang akhirnya dibuang merupakan bentuk pengeluaran yang sering tidak masuk dalam perhitungan biaya makan.
Hal serupa juga dapat terjadi ketika memesan makanan. Seseorang mungkin tergoda membeli makanan dalam jumlah lebih banyak karena adanya promo, gratis ongkir dengan minimum transaksi, atau potongan harga tertentu. Jika makanan tersebut tidak habis, penghematan dari promo sebenarnya belum tentu menghasilkan pengeluaran yang lebih rendah.
Promo Tidak Selalu Berarti Lebih Hemat
Promo menjadi salah satu faktor yang membuat layanan pesan-antar makanan menarik. Potongan harga Rp10.000 atau Rp20.000 memang dapat mengurangi nilai transaksi, tetapi perlu dilihat dari total pengeluaran.
Jika seseorang sebenarnya hanya membutuhkan satu makanan seharga Rp25.000 tetapi harus membeli minimal Rp50.000 agar memperoleh potongan harga, maka promo tersebut justru dapat mendorong pengeluaran lebih besar daripada kebutuhan awal.
Prinsip sederhana yang dapat digunakan adalah jangan menganggap uang yang “dihemat” dari diskon sebagai keuntungan apabila transaksi tersebut sebenarnya tidak akan dilakukan tanpa adanya promo.
Bagaimana Membandingkannya dengan Lebih Adil?
Perbandingan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sederhana:
Biaya makan di rumah = bahan makanan + gas/listrik + minyak dan bumbu + transportasi belanja + makanan terbuang + nilai waktu
Sementara itu:
Biaya pesan online = harga makanan + ongkos kirim + biaya layanan + biaya tambahan lainnya + potensi makanan terbuang
Setelah kedua angka tersebut diperoleh, barulah dapat dilihat pilihan mana yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing.
Sebagai contoh, memasak satu porsi mungkin membutuhkan biaya langsung Rp18.000, tetapi setelah memperhitungkan transportasi dan biaya lainnya menjadi Rp21.000. Sementara itu, makanan yang dipesan memiliki harga Rp30.000 dan setelah ongkos kirim serta biaya layanan menjadi Rp40.000.
Dalam kondisi tersebut terdapat selisih sekitar Rp19.000 per porsi. Jika perbedaan tersebut terjadi 20 kali dalam satu bulan, selisihnya dapat mencapai Rp380.000.
Angka tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dikumpulkan selama satu tahun, nilainya menjadi sekitar Rp4,56 juta.
Tidak Harus Memilih Salah Satu
Perhitungan ini bukan berarti memasak selalu lebih baik atau pesan makanan selalu lebih mahal. Keduanya memiliki kondisi yang berbeda.
Memasak di rumah dapat menjadi pilihan ketika seseorang memiliki waktu, fasilitas memasak, dan akses bahan makanan dengan harga yang sesuai. Sementara itu, pesan makanan dapat menjadi pilihan yang rasional ketika waktu sangat terbatas atau biaya memasak dan belanja justru mendekati harga makanan yang tersedia.
Pendekatan yang lebih realistis adalah menggunakan keduanya secara fleksibel. Misalnya, memasak pada hari-hari ketika memiliki waktu lebih banyak, kemudian menggunakan layanan pesan-antar ketika pekerjaan sedang padat atau ketika biaya memasak untuk satu porsi tidak lagi efisien.
Pada akhirnya, yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah makanan dimasak sendiri atau dipesan secara online, melainkan berapa biaya sebenarnya untuk mendapatkan satu kali makan dan seberapa sering pengeluaran tersebut dilakukan.
Dengan mulai menghitung biaya bahan, ongkos tambahan, waktu, transportasi, makanan yang terbuang, hingga pengaruh promo, keputusan makan sehari-hari dapat dibuat dengan lebih sadar. Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali memang sering tidak terasa, tetapi justru kebiasaan seperti inilah yang dapat memberikan dampak cukup besar terhadap anggaran bulanan.
