
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa banyak perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu teknologi yang semakin banyak diperbincangkan adalah deepfake AI, yaitu teknologi yang mampu menghasilkan atau memanipulasi gambar, suara, dan video seseorang sehingga terlihat sangat nyata. Dengan teknologi ini, wajah seseorang dapat dibuat seolah-olah sedang berbicara, melakukan aktivitas tertentu, bahkan menyampaikan pernyataan yang sebenarnya tidak pernah dilakukan.
Di satu sisi, deepfake menawarkan berbagai peluang dalam industri kreatif, hiburan, pendidikan, hingga produksi konten digital. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga menghadirkan risiko baru, terutama ketika dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu, mencemarkan reputasi seseorang, hingga melakukan penipuan digital.
Kemampuan deepfake yang semakin canggih membuat masyarakat perlu lebih waspada ketika menerima video, rekaman suara, maupun pesan yang beredar di internet. Lantas, apa sebenarnya deepfake AI, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana mengenali serta menghindari potensi penipuan yang menggunakan teknologi tersebut?
Mengenal Apa Itu Deepfake AI
Deepfake merupakan istilah yang berasal dari gabungan kata deep learning dan fake. Deep learning sendiri merupakan bagian dari teknologi AI yang memungkinkan komputer mempelajari pola dari sejumlah besar data untuk menghasilkan sesuatu berdasarkan informasi yang telah dipelajari.
Dalam praktiknya, deepfake menggunakan teknologi AI untuk membuat atau memanipulasi konten digital, seperti foto, video, dan suara, sehingga menyerupai orang sungguhan. Teknologi ini dapat meniru karakteristik wajah, ekspresi, gerakan bibir, intonasi suara, hingga cara seseorang berbicara.
Sebagai contoh, seseorang dapat membuat video yang menampilkan seorang tokoh publik sedang memberikan pernyataan tertentu, padahal orang tersebut tidak pernah mengucapkannya. Dengan memasukkan sampel suara dan video, sistem AI dapat menghasilkan konten yang tampak meyakinkan bagi orang yang tidak mengetahui bahwa rekaman tersebut telah dimanipulasi.
Teknologi deepfake pada dasarnya tidak selalu digunakan untuk tujuan negatif. Dalam industri perfilman, misalnya, teknologi ini dapat membantu proses efek visual, penggantian wajah, atau rekonstruksi adegan. Deepfake juga dapat digunakan dalam pembuatan konten hiburan dan simulasi pembelajaran.
Permasalahan muncul ketika teknologi tersebut digunakan tanpa persetujuan pihak yang bersangkutan atau untuk menyebarkan informasi yang menyesatkan.
Bagaimana Cara Kerja Teknologi Deepfake?
Deepfake bekerja dengan memanfaatkan algoritma pembelajaran mesin atau machine learning, khususnya deep learning. Sistem AI dilatih menggunakan kumpulan data berupa foto, video, maupun rekaman suara seseorang untuk mempelajari karakteristik visual dan audio yang dimiliki orang tersebut.
Salah satu pendekatan yang pernah banyak digunakan dalam pembuatan deepfake adalah Generative Adversarial Networks (GANs). Teknologi ini melibatkan dua jaringan AI yang bekerja saling berkompetisi.
Jaringan pertama bertugas menghasilkan gambar atau video palsu, sedangkan jaringan kedua bertugas membedakan apakah konten tersebut asli atau hasil rekayasa. Melalui proses pelatihan berulang, sistem generator akan semakin mampu menghasilkan konten yang terlihat realistis.
Selain GANs, perkembangan model generatif modern juga memungkinkan pembuatan gambar, video, dan suara sintetis dengan proses yang semakin mudah.
Secara umum, terdapat beberapa tahapan dalam pembuatan deepfake, yaitu:
-
Pengumpulan data: Mengumpulkan foto, video, atau rekaman suara sebagai bahan pembelajaran AI.
-
Pelatihan model: Sistem AI mempelajari bentuk wajah, ekspresi, gerakan, dan karakteristik suara seseorang.
-
Proses manipulasi: AI menggabungkan atau mengganti elemen tertentu pada konten digital, misalnya wajah atau suara.
-
Penyempurnaan hasil: Hasil manipulasi diproses agar terlihat lebih alami dan menyerupai rekaman asli.
Seiring perkembangan AI generatif, proses tersebut kini dapat dilakukan menggunakan berbagai aplikasi dan platform yang tersedia secara daring.
Jenis-Jenis Deepfake yang Perlu Diketahui
Deepfake memiliki beberapa bentuk yang dapat ditemukan dalam aktivitas digital sehari-hari. Masing-masing memiliki karakteristik dan potensi penyalahgunaan yang berbeda.
1. Face Swap
Face swap merupakan teknik mengganti wajah seseorang dengan wajah orang lain dalam sebuah foto atau video. Teknologi ini sering digunakan untuk hiburan, tetapi dapat disalahgunakan untuk membuat video palsu yang merugikan reputasi seseorang.
2. Voice Cloning
Voice cloning adalah teknologi AI yang mampu meniru suara seseorang berdasarkan sampel rekaman suara. Hasilnya dapat menyerupai karakter suara asli, termasuk intonasi dan gaya berbicara.
Teknologi ini berpotensi dimanfaatkan untuk melakukan penipuan dengan berpura-pura menjadi anggota keluarga, teman, atau rekan kerja.
3. Lip Sync Manipulation
Teknik ini digunakan untuk mengubah gerakan bibir seseorang agar terlihat sesuai dengan kalimat atau suara tertentu. Dengan demikian, seseorang dapat terlihat seolah-olah mengucapkan pernyataan yang sebenarnya tidak pernah disampaikan.
4. AI-Generated Video
Teknologi ini memungkinkan pembuatan video seseorang dari gambar, teks, atau referensi visual tertentu. Hasilnya dapat berupa video realistis yang menampilkan seseorang melakukan aktivitas atau menyampaikan pesan tertentu.
Modus Penipuan Digital Menggunakan Deepfake AI
Salah satu alasan teknologi deepfake perlu diwaspadai adalah kemampuannya mendukung berbagai modus kejahatan digital. Pelaku dapat memanfaatkan wajah dan suara orang yang dikenal korban untuk membangun kepercayaan sebelum melancarkan aksinya.
Berikut beberapa modus penipuan yang perlu diantisipasi.
1. Penipuan Mengatasnamakan Anggota Keluarga
Pelaku dapat menggunakan teknologi voice cloning untuk meniru suara anggota keluarga. Korban kemudian dihubungi melalui telepon atau aplikasi pesan dengan cerita bahwa orang tersebut sedang mengalami kecelakaan, menghadapi masalah, atau membutuhkan uang dalam keadaan darurat.
Karena suara yang terdengar menyerupai anggota keluarga, korban bisa saja langsung percaya dan melakukan transfer tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Penipuan Investasi Menggunakan Video Tokoh Publik
Modus lainnya adalah membuat video palsu yang menampilkan tokoh publik, pejabat, atau pengusaha terkenal seolah-olah sedang merekomendasikan produk investasi tertentu.
Video tersebut biasanya digunakan untuk menarik perhatian masyarakat agar mendaftar pada platform investasi palsu atau menyetorkan sejumlah uang dengan iming-iming keuntungan besar.
3. Penyamaran Atasan atau Pimpinan Perusahaan
Dalam lingkungan kerja, deepfake dapat dimanfaatkan untuk meniru wajah dan suara seorang pimpinan perusahaan. Pelaku kemudian menghubungi karyawan melalui panggilan video atau suara dan memberikan instruksi untuk melakukan transfer dana, mengirim dokumen rahasia, atau memberikan informasi internal.
Modus ini berbahaya karena korban cenderung menghormati instruksi yang datang dari sosok yang dianggap memiliki kewenangan.
4. Penipuan Melalui Video Call Palsu
Teknologi deepfake juga memungkinkan pelaku menampilkan wajah orang lain dalam panggilan video. Dengan tampilan visual yang meyakinkan, pelaku berusaha membuat korban percaya bahwa mereka sedang berkomunikasi langsung dengan orang yang dikenal.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas PASTI pada 15 November 2025 telah mengingatkan masyarakat mengenai potensi penyalahgunaan teknologi AI untuk meniru suara dan wajah dalam aksi penipuan.
Cara Mengenali Deepfake AI
Meskipun teknologi deepfake semakin canggih, ada beberapa hal yang dapat diperhatikan ketika menerima foto, video, atau rekaman suara yang mencurigakan.
1. Memperhatikan Gerakan Wajah dan Bibir
Perhatikan apakah gerakan bibir sesuai dengan suara yang terdengar. Pada beberapa video hasil manipulasi, sinkronisasi antara gerakan mulut dan suara mungkin terlihat kurang alami.
2. Mengamati Ekspresi dan Gerakan Mata
Perhatikan ekspresi wajah, gerakan mata, dan perubahan mimik ketika seseorang berbicara. Ketidakwajaran pada bagian tersebut dapat menjadi petunjuk adanya manipulasi.
3. Mendengarkan Karakteristik Suara
Pada rekaman suara, perhatikan intonasi, jeda, pengucapan, dan perubahan nada bicara. Suara hasil manipulasi terkadang memiliki karakteristik yang terasa berbeda dari kebiasaan orang yang ditiru.
4. Memeriksa Sumber Informasi
Jangan langsung mempercayai video yang beredar di media sosial, terutama jika berisi informasi sensasional, tawaran investasi, atau pernyataan kontroversial dari tokoh tertentu.
Cari informasi pembanding melalui situs resmi, akun terverifikasi, atau media berita yang kredibel.
Perlu diingat, tanda-tanda visual dan audio tersebut bukan bukti pasti bahwa sebuah konten merupakan deepfake. Teknologi terbaru bahkan mampu menghasilkan manipulasi yang sangat sulit dikenali hanya dengan pengamatan manusia. Karena itu, verifikasi sumber dan konteks jauh lebih penting.
Tips Menghindari Penipuan Menggunakan Deepfake
Untuk mengurangi risiko menjadi korban penipuan berbasis AI, masyarakat perlu membangun kebiasaan menjaga keamanan informasi dan melakukan verifikasi sebelum mengambil keputusan.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.
1. Selalu Verifikasi Identitas
Jika menerima telepon atau panggilan video dari seseorang yang meminta uang, data pribadi, atau informasi penting, jangan langsung percaya meskipun wajah dan suaranya terlihat meyakinkan.
Hubungi kembali orang tersebut melalui nomor telepon atau saluran komunikasi lain yang sudah diketahui sebelumnya.
2. Jangan Terburu-buru Melakukan Transfer
Pelaku penipuan biasanya menciptakan situasi mendesak agar korban tidak memiliki cukup waktu untuk berpikir. Jika menerima permintaan transfer dana secara tiba-tiba, hentikan komunikasi sementara dan pastikan kebenaran informasi tersebut.
3. Jangan Membagikan Informasi Pribadi
Hindari memberikan nomor rekening, PIN, kata sandi, kode OTP, maupun informasi sensitif lainnya kepada pihak yang identitasnya belum dapat dipastikan.
4. Batasi Penyebaran Foto dan Rekaman Suara Pribadi
Foto, video, dan rekaman suara yang diunggah ke internet berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat konten manipulatif. Oleh karena itu, pertimbangkan kembali informasi pribadi yang dibagikan secara terbuka di media sosial.
5. Gunakan Fitur Keamanan Digital
Aktifkan autentikasi dua faktor pada akun penting, gunakan kata sandi yang kuat, serta perbarui aplikasi dan sistem operasi secara berkala.
6. Gunakan Kode Verifikasi Keluarga
Keluarga dapat membuat kata atau kode rahasia yang hanya diketahui oleh anggota keluarga. Kode tersebut dapat digunakan untuk memastikan identitas ketika ada seseorang yang menghubungi melalui telepon dan meminta bantuan dalam situasi darurat.
7. Jangan Mudah Menyebarkan Konten Mencurigakan
Sebelum membagikan video atau rekaman suara yang berisi informasi penting, pastikan sumber dan kebenarannya. Kebiasaan memeriksa informasi dapat membantu mengurangi penyebaran hoaks dan konten manipulatif.
Jika telanjur melakukan transfer karena penipuan, segera hubungi bank atau penyedia layanan pembayaran untuk meminta penanganan, simpan bukti komunikasi dan transaksi, serta laporkan kejadian kepada pihak berwenang.
Bijak Menggunakan Teknologi AI
Deepfake AI merupakan salah satu bukti bahwa perkembangan kecerdasan buatan mampu menghadirkan inovasi yang semakin mendekati kemampuan manusia. Teknologi ini dapat memberikan manfaat dalam berbagai bidang, mulai dari hiburan, perfilman, pendidikan, hingga produksi konten digital.
Namun, kemampuannya untuk meniru wajah dan suara seseorang juga membuka peluang penyalahgunaan yang dapat merugikan masyarakat. Bahkan, seseorang tidak lagi bisa sepenuhnya mengandalkan penglihatan dan pendengaran untuk memastikan keaslian sebuah konten digital.
Oleh karena itu, literasi digital menjadi salah satu bekal penting dalam menghadapi perkembangan teknologi AI. Masyarakat perlu membiasakan diri untuk memeriksa sumber informasi, melakukan verifikasi identitas, serta tidak mudah mengambil keputusan berdasarkan pesan atau panggilan yang bersifat mendesak.
Pada akhirnya, cara terbaik menghadapi ancaman deepfake bukan sekadar mengandalkan kemampuan mengenali video atau suara palsu, melainkan membangun kebiasaan untuk selalu memverifikasi setiap informasi sebelum mempercayai, membagikan, atau menindaklanjutinya.
(CS)
