
Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh mengalami berbagai perubahan, termasuk fungsi pendengaran. Gangguan pendengaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup sering dialami oleh orang lanjut usia atau lansia. Kondisi ini terkadang berkembang secara perlahan sehingga tidak langsung disadari oleh orang yang mengalaminya maupun anggota keluarga di sekitarnya.
Padahal, kemampuan mendengar memiliki peran penting dalam menjaga komunikasi, hubungan sosial, dan kualitas hidup. Jika tidak dikenali sejak dini, gangguan pendengaran dapat membuat lansia kesulitan mengikuti percakapan, memahami informasi, hingga berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari.
Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk mengenali gejala gangguan pendengaran pada orang tua agar pemeriksaan dan penanganan yang tepat dapat dilakukan sedini mungkin.
Mengapa Pendengaran Menurun Seiring Bertambahnya Usia?
Penurunan kemampuan mendengar akibat proses penuaan dikenal sebagai presbikusis. Kondisi ini umumnya terjadi secara bertahap karena perubahan pada struktur telinga bagian dalam, saraf pendengaran, serta sistem yang memproses suara di otak.
Salah satu perubahan yang sering terjadi adalah berkurangnya kemampuan mendengar suara berfrekuensi tinggi. Akibatnya, lansia mungkin masih dapat mendengar seseorang berbicara, tetapi kesulitan memahami kata-kata tertentu, terutama ketika berada di lingkungan yang ramai.
Selain faktor usia, gangguan pendengaran juga dapat dipengaruhi oleh paparan suara keras dalam jangka panjang, penumpukan kotoran telinga, infeksi, penyakit tertentu, serta penggunaan obat-obatan yang berpotensi merusak pendengaran.
Meski penurunan pendengaran sering berkaitan dengan proses penuaan, kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang pasti terjadi pada setiap orang tua. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.
Tanda-Tanda Gangguan Pendengaran pada Orang Tua
Ada sejumlah gejala yang dapat diperhatikan oleh keluarga ketika berinteraksi dengan orang tua di rumah.
1. Sering meminta orang lain mengulangi perkataan
Salah satu tanda paling umum adalah orang tua berulang kali meminta lawan bicara mengulangi perkataannya. Mereka mungkin sering mengatakan tidak mendengar dengan jelas atau meminta orang lain berbicara lebih keras.
Kondisi ini biasanya lebih terasa ketika seseorang berbicara dari ruangan lain, berbicara dengan suara pelan, atau ketika beberapa orang berbicara secara bersamaan.
2. Sering menaikkan volume televisi atau radio
Orang tua yang mengalami penurunan pendengaran mungkin terbiasa mengatur volume televisi, radio, atau perangkat audio lebih tinggi daripada biasanya. Mereka melakukannya agar suara yang diterima terdengar lebih jelas.
Jika anggota keluarga merasa volume tersebut terlalu keras, sementara orang tua menganggapnya normal, kondisi ini patut diperhatikan sebagai salah satu kemungkinan gejala gangguan pendengaran.
3. Kesulitan memahami percakapan di tempat ramai
Gangguan pendengaran tidak selalu membuat seseorang sama sekali tidak dapat mendengar suara. Dalam banyak kasus, kesulitan justru muncul ketika harus membedakan suara pembicaraan dari kebisingan di sekitarnya.
Lansia mungkin dapat berbincang dengan baik di ruangan yang tenang, tetapi kesulitan mengikuti percakapan saat berada di restoran, acara keluarga, pasar, atau lingkungan yang ramai.
4. Kesulitan mendengar suara bernada tinggi
Sebagian orang dengan gangguan pendengaran terkait usia mengalami kesulitan mendengar suara bernada tinggi. Mereka mungkin tidak menyadari ketika seseorang berbicara dengan suara yang lebih tinggi atau ketika terdengar bunyi tertentu dari lingkungan sekitar.
Dalam percakapan, kondisi ini dapat membuat beberapa konsonan terdengar kurang jelas sehingga kata-kata yang diucapkan sulit dipahami secara utuh.
5. Sering salah memahami perkataan orang lain
Orang tua mungkin memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan karena salah menangkap kata-kata yang diucapkan. Mereka juga bisa mengira orang lain berbicara tidak jelas atau bergumam.
Situasi tersebut terkadang menimbulkan kesalahpahaman dalam keluarga. Karena itu, anggota keluarga sebaiknya tidak langsung menganggap orang tua kurang memperhatikan percakapan sebelum mempertimbangkan kemungkinan adanya gangguan pendengaran.
6. Cenderung menghindari percakapan dan kegiatan sosial
Ketika percakapan semakin sulit diikuti, sebagian lansia memilih lebih banyak diam atau menghindari kegiatan yang melibatkan banyak orang. Mereka mungkin merasa tidak nyaman karena harus terus meminta pengulangan atau khawatir salah memahami pembicaraan.
Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat mengurangi interaksi sosial dan meningkatkan risiko kesepian. Gangguan pendengaran juga dikaitkan dengan penurunan kualitas hidup dan dapat berhubungan dengan masalah kesehatan lain, termasuk penurunan fungsi kognitif. Namun, gangguan pendengaran tidak berarti seseorang pasti mengalami demensia.
7. Mengeluhkan telinga berdenging
Tinnitus atau telinga berdenging merupakan gejala lain yang dapat menyertai gangguan pendengaran. Suara yang dirasakan dapat berupa dengingan, desisan, atau dengungan meskipun tidak ada sumber suara dari luar.
Tinnitus dapat muncul bersama penurunan pendengaran, tetapi juga memiliki penyebab lain. Jika keluhan terus berulang atau mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua sebaiknya menjalani pemeriksaan medis.
Dampak Gangguan Pendengaran terhadap Kualitas Hidup
Gangguan pendengaran yang tidak ditangani dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan lansia. Kesulitan memahami percakapan dapat membuat komunikasi dengan pasangan, anak, cucu, maupun teman menjadi kurang lancar.
Selain itu, orang tua mungkin kesulitan mendengar instruksi dokter, memahami informasi mengenai obat-obatan, atau menyadari suara peringatan dari lingkungan sekitar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keselamatan dan kemandirian mereka.
Gangguan pendengaran juga dapat membuat lansia merasa frustrasi karena harus berusaha lebih keras untuk memahami pembicaraan. Sebagian orang akhirnya membatasi aktivitas sosial sehingga kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain semakin berkurang.
Karena itu, mengenali gangguan pendengaran sejak dini menjadi langkah penting untuk mempertahankan kemampuan komunikasi dan membantu lansia menjalani kehidupan yang lebih nyaman.
Cara Membantu Orang Tua yang Mengalami Gangguan Pendengaran
Keluarga dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk membantu orang tua berkomunikasi dengan lebih baik.
Pertama, ajak orang tua berbicara secara langsung dengan posisi wajah saling berhadapan. Pastikan pencahayaan cukup agar mereka dapat melihat ekspresi wajah dan gerakan bibir. Gunakan suara yang jelas dengan kecepatan bicara normal, tanpa perlu berteriak.
Kedua, kurangi suara latar, seperti televisi atau radio, ketika sedang berbincang. Lingkungan yang lebih tenang dapat membantu orang tua memahami percakapan dengan lebih mudah.
Ketiga, hindari berbicara dari ruangan lain atau ketika posisi membelakangi orang tua. Jika mereka tidak memahami perkataan, ulangi dengan kalimat yang lebih sederhana atau gunakan kata-kata berbeda tanpa menunjukkan rasa kesal.
Keempat, dorong orang tua untuk menjalani pemeriksaan pendengaran apabila gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan dapat membantu mengetahui tingkat gangguan dan apakah terdapat penyebab yang masih dapat ditangani.
Dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten dapat memeriksa kondisi telinga dan menyarankan tes pendengaran. Jika diperlukan, penggunaan alat bantu dengar atau pilihan penanganan lain dapat dipertimbangkan berdasarkan hasil pemeriksaan.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Orang tua sebaiknya menjalani pemeriksaan apabila mengalami kesulitan mendengar yang berlangsung terus-menerus, sering meminta pengulangan, atau mulai mengalami hambatan dalam berkomunikasi dan beraktivitas.
Pemeriksaan juga penting jika gangguan pendengaran disertai nyeri telinga, keluarnya cairan dari telinga, atau keluhan lain yang tidak biasa.
Namun, jika pendengaran menurun secara mendadak, terutama dalam hitungan jam hingga beberapa hari, segera cari pertolongan medis pada hari yang sama. Penurunan pendengaran mendadak dapat menjadi kondisi darurat yang memerlukan penanganan cepat. Jangan menunggu hingga gejalanya membaik sendiri.
(EGS)
