
Istilah “healing” semakin akrab dalam percakapan masyarakat perkotaan. Setelah melewati rutinitas pekerjaan, kemacetan, tenggat waktu, rapat, hingga berbagai tuntutan kehidupan sehari-hari, banyak orang merasa membutuhkan jeda untuk mengembalikan energi. Menariknya, healing kini tidak selalu berarti pergi jauh atau menghabiskan banyak uang. Secangkir kopi di tempat yang tenang, berjalan-jalan di taman, bersepeda pada akhir pekan, membaca buku, hingga sekadar menikmati waktu tanpa gangguan ponsel pun bisa dianggap sebagai bentuk healing.
Di tengah kehidupan kota yang bergerak cepat, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara masyarakat memandang waktu luang. Jika dahulu berlibur sering dikaitkan dengan perjalanan panjang dan destinasi wisata, kini aktivitas sederhana yang memberikan rasa tenang juga semakin mendapatkan tempat.
Bukan Sekadar Liburan
Secara sederhana, healing sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk beristirahat secara mental maupun emosional. Namun, penggunaan istilah ini dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya cukup luas. Bagi sebagian orang, healing berarti menikmati akhir pekan bersama keluarga, sementara bagi yang lain bisa berarti melakukan hobi, olahraga, nongkrong bersama teman, atau menghabiskan waktu sendirian.
Perubahan tersebut tidak terlepas dari gaya hidup masyarakat perkotaan yang semakin padat. Waktu menjadi komoditas yang berharga, sementara batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin mudah bercampur, terutama bagi mereka yang bekerja dengan perangkat digital dan selalu terhubung dengan internet.
Karena itu, kebutuhan untuk berhenti sejenak bukan lagi sekadar persoalan mencari hiburan. Ada kebutuhan untuk mendapatkan kembali ruang pribadi yang sering tergerus oleh rutinitas.
Sebenarnya Apa yang Dicari?
Di balik tren healing, ada beberapa kebutuhan yang sebenarnya sedang dicari warga kota. Salah satunya adalah rasa tenang. Setelah berhadapan dengan kebisingan, kemacetan, notifikasi, dan berbagai tuntutan pekerjaan, suasana yang lebih tenang bisa memberikan pengalaman yang berbeda.
Yang dicari juga bisa berupa waktu untuk diri sendiri. Tidak semua orang ingin mengisi waktu luang dengan aktivitas sosial. Ada kalanya seseorang justru merasa lebih nyaman menikmati kopi sendirian, membaca buku, menonton film di rumah, atau berjalan kaki tanpa tujuan tertentu.
Selain itu, healing juga berkaitan dengan kebutuhan untuk mengambil kembali kendali atas waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak aktivitas ditentukan oleh jadwal pekerjaan, sekolah, keluarga, dan berbagai kewajiban. Ketika memiliki waktu luang yang sepenuhnya bisa digunakan sesuai keinginan, muncul perasaan bahwa seseorang kembali memiliki kendali atas kehidupannya.
Healing Tidak Harus Mahal
Salah satu perubahan menarik dalam tren healing adalah semakin banyak orang yang menyadari bahwa aktivitas untuk melepas penat tidak harus identik dengan biaya besar.
Pergi ke tempat wisata memang bisa menjadi pilihan, tetapi bukan satu-satunya cara. Berjalan pagi di taman, bersepeda di sekitar lingkungan rumah, memasak, berkebun, mendengarkan musik, membaca buku fisik, atau sekadar tidur cukup juga dapat menjadi cara seseorang memberikan jeda dari rutinitas.
Bahkan, bagi warga kota yang memiliki waktu terbatas, aktivitas sederhana justru lebih realistis. Setelah bekerja sepanjang minggu, misalnya, menikmati sarapan santai tanpa terburu-buru pada Minggu pagi mungkin terasa lebih bermakna daripada memaksakan perjalanan jauh hanya karena sedang mencari “healing”.
Munculnya Ruang-Ruang untuk Beristirahat
Tren healing juga ikut memengaruhi perkembangan ruang publik dan bisnis di perkotaan. Kafe dengan suasana tenang, ruang terbuka hijau, tempat olahraga, studio yoga, jalur sepeda, hingga tempat rekreasi keluarga semakin dipandang sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat kota.
Kebutuhan tersebut memperlihatkan bahwa warga perkotaan tidak hanya mencari tempat untuk berbelanja atau makan. Mereka juga mencari tempat untuk berhenti sejenak dari ritme kehidupan sehari-hari.
Tidak mengherankan jika tempat dengan suasana nyaman, banyak ruang terbuka, pepohonan, pencahayaan alami, atau area yang memungkinkan pengunjung duduk tanpa terburu-buru semakin diminati. Pengalaman berada di suatu tempat sering kali menjadi sama pentingnya dengan aktivitas yang dilakukan di sana.
Ketika Healing Berubah Menjadi Tren Konsumsi
Di sisi lain, istilah healing juga memiliki sisi lain yang menarik untuk diperhatikan. Ketika healing menjadi tren, muncul kecenderungan untuk mengaitkannya dengan konsumsi. Pergi ke restoran tertentu, menginap di hotel, membeli barang, atau melakukan perjalanan kemudian dianggap sebagai bagian dari gaya hidup healing.
Tidak ada yang salah dengan menikmati aktivitas tersebut selama dilakukan sesuai kemampuan. Namun, persoalannya muncul ketika healing justru menjadi sumber tekanan baru, misalnya karena merasa harus mengikuti gaya hidup tertentu agar dianggap mampu menikmati hidup.
Padahal, kebutuhan setiap orang berbeda. Aktivitas yang membuat seseorang merasa nyaman belum tentu memberikan pengalaman yang sama bagi orang lain. Karena itu, makna healing sebenarnya tidak bisa diukur dari harga tempat yang dikunjungi atau seberapa jauh perjalanan yang dilakukan.
Kembali ke Hal-Hal Sederhana
Menariknya, di tengah tren healing yang semakin berkembang, banyak orang justru kembali mencari pengalaman yang sederhana. Membaca buku, mendengarkan musik dari perangkat fisik, bersepeda, memelihara tanaman, memasak, atau mengobrol langsung dengan keluarga dan teman menjadi cara untuk melepaskan diri sementara dari dunia digital.
Ada kebutuhan untuk mengalami kembali aktivitas yang tidak menuntut seseorang terus-menerus melihat layar atau merespons notifikasi. Dalam konteks ini, healing bukan hanya tentang pergi dari suatu tempat, tetapi juga tentang memberi jarak dari rutinitas yang terus berjalan.
Healing sebagai Jeda, Bukan Pelarian
Pada akhirnya, tren healing di kalangan warga kota mungkin lebih tepat dilihat sebagai kebutuhan akan jeda. Kehidupan modern membuat banyak orang terbiasa bergerak cepat, mengejar target, dan selalu tersedia secara digital. Karena itu, kemampuan untuk berhenti sejenak menjadi semakin berharga.
Healing juga tidak harus berarti menghindari semua masalah. Beristirahat tidak otomatis menyelesaikan persoalan pekerjaan, keuangan, hubungan, atau berbagai tantangan kehidupan lainnya. Namun, memberikan waktu untuk beristirahat dapat membantu seseorang kembali menjalani rutinitas dengan kondisi yang lebih siap.
Mungkin itulah alasan mengapa istilah healing begitu populer di masyarakat perkotaan. Yang dicari sebenarnya bukan selalu perjalanan jauh, tempat mewah, atau aktivitas mahal, melainkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di tengah kesibukan kota: waktu untuk berhenti, bernapas, dan menikmati hidup dengan ritme yang lebih manusiawi.
(CS)
