Waspada Pelecehan Seksual Pada Anak!

Tahun baru seharusnya diawali dengan hal-hal positif beserta resolusi-resolusi baru. Namun sayangnya, awal tahun ini terdapat kabar yang memprihatikankan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat selama 2018 ada 4.885 pengaduan kasus pelanggaran hak anak yang diterima pihaknya.

Komisioner KPAI Putu Elvina menyebutkan pengaduan didominasi kasus anak berhadapan hukum sebanyak 1434 kasus.Adapun kasus hukum tersebut kebanyakan karena kasus kejahatan seksual yang tidak hanya disebabkan oleh faktor tunggal tapi juga mendapat pengaruh dari pergaulan dan kebebasan yang berlebihan.

“Anak berhadapan dengan hukum yang didominasi kejahatan seksual tidak ada faktor tunggal, ada pengaruh teman dan pergaulan, kebebasan yang berlenihan,” ujar Putu saat ditemui di Kantor KPAI, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2019).

Baca Juga:

http://www.tribunnews.com/nasional/2019/01/09/tahun-lalu-kekerasan-seksual-dominasi-kasus-anak-yang-berhadapan-dengan-hukum

Sekedar catatan, KPAI menemukan 218 kasus pelecehan seksual pada anak di tahun 2015. Lalu, tahun 2016 KPAI mencatat ada 120 kasus pelecehan seksual pada anak. Terakhir di tahun 2017, tercatat sebanyak 116 kasus.

Apa itu Pelecehan Seksual Pada Anak?

Menurut buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) pelecehan seksual pada anak adalah tindakan seksual apa pun yang melibatkan anak dengan maksud untuk memberikan kepuasan seksual kepada orang tua, pengasuh, atau orang lain yang bertanggung jawab atas anak tersebut. Pelecehan seksual pada anak mencakup kegiatan seperti membelai alat kelamin anak, penetrasi, inses, pemerkosaan, sodomi, dan tindakan tidak senonoh lainnya.

Baca Juga: Tips Menghadapi Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual juga mencakup eksploitasi anak secara paksa oleh orang tua atau pengasuh misalnya, menipu, menarik, mengancam, atau menekan anak untuk berpartisipasi dalam tindakan kepuasan seksual tanpa kontak fisik langsung (seperti mengirim gambar berbau pornografi) antara anak dan pelaku. Selain itu, pelecehan seksual dapat pula berbentuk verbal seperti bujukan  seksual yang tidak diharapkan, gurauan atau pesan seksual yang terus menerus, pesan yang menghina atau merendahkan, komentar sugestif atau cabul, serta permintaan pelayanan seksual yang dinyatakan secara langsung maupun tidak langsung.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pelecehan seksual pada anak terjadi antara lain peristiwa traumatik yang pernah dialami pelaku pelecehan, pola asuh orang tua, dan self-esteem seseorang yang rendah.

Baca Juga: Hati-Hati Paedofil Dapat Ada di Sekitar Anda

Dampak Pelecehan Seksual Pada Anak

Dampak yang ditimbulkan pun sangat meresahkan untuk anak diantaranya munculnya perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri, bayangan kejadian ketika anak menerima pelecehan seksual, mimpi buruk, insomnia, masalah self-esteem, disfungsi seksual, sakit kronis, kecanduan, keinginan bunuh diri, keluhan somatik, dan depresi.

BACA JUGA  Kesehatan Mental Pekerja di Era VUCA

Dampak-dampak di atas dapat memunculkan gangguan post-traumatic stress disorder (PTSD) pada anak. PTSD merupakan gangguan kecemasan dimana seseorang yang telah mengalami suatu peristiwa traumatik atau membahayakan dirinya akan mengalami gejala-gejala seperti rasa kaku pada anggota tubuh, menghidupkan kembali peristiwa traumatik yang telah dialami, dan peningkatan stimuli fisiologis.

Lantas, Bagaimana Cara Pencegahan dari Pelecehan Seksual Ini?

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi kasus pelecehan seksual pada anak di Indonesia, seperti menetapkan pelecehan seksual pada anak sebagai pelanggaran HAM berat dan melakukan revisi batas maksimal hukuman pidana bagi pelaku pelecehan seksual anak. Hal ini membutuhkan kerjasama dari semua pihak.

Pemerintah atau lembaga perlindungan anak perlu melakukan monitoring dan evaluasi terhadap seluruh penanganan kasus pelecehan seksual anak di seluruh wilayah Indonesia, memberikan materi pendidikan tentang kesehatan reproduksi secara bertahap dan berkala melalui lembaga pendidikan baik pada tingkat formal, informal, dan nonformal. Sementara itu, orang tua harus melakukan pendampingan dan memastikan bahwa lingkungan sekitar tempat anak bermain serta belajar merupakan tempat yang aman bagi anak.

Apabila semua pihak bisa ikut berperan untuk menciptakan lingkungan yang aman, anak nyaman berada di lingkungan bermain tanpa harus diliputi oleh rasa takut.

Penulis:

Azzhara Owena Livia (Mahasiswa) dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo (Dosen)
Program Studi Psikologi
Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders. (5th ed). Arlington: American Psychiatric Publishing.

Indanah. (2016). Pelecehan seksual pada anak. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan, 7(1), 16-23. Diakses pada tanggal 25 Januari 2018 darihttp://ejr.stikesmuhkudus.ac.id/plugins/generic/pdfJsViewer/pdf.js/web/viewer.html?file=http%3A%2F%2Fejr.stikesmuhkudus.ac.id%2Findex.php%2Fjikk%2Farticle%2FviewFile%2F121%2F66

Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2017, September 27). Tahun 2017, kpai temukan 116 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Diakses pada tanggal 25 Januari 2018 dari http://www.kpai.go.id/berita/tahun-2017-kpai-temukan-116-kasus-kekerasan-seksual-terhadap-anak

Kurnianingsih, S. (2003). Pelecehan seksual terhadap perempuan di tempat kerja. Buletin Psikologi, 11(2), 116-129. Diakses pada tanggal 25 Januari 2018 dari https://journal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/view/7464/5803

Maslihah, S. (2013). Play therapy dalam identifikasi kasus kekerasan seksual terhadap anak.Jurnal Penelitian Psikologi, 4(2), 21-34. Diakses pada tanggal 25 Januari 2018 dari http://jurnalpsikologi.uinsby.ac.id

BACA JUGA  Tips Menghilangkan Stres Kerja

Probosiwi, R., & Bahransyaf, D. (2015). Pedoifilia dan kekerasan seksual: masalah dan perlindungan terhadap anak. Jurnal Sosio Informa, 1(1), 29-40. Diakses pada tanggal 25 Januari 2018 dari https://media.neliti.com/media/publications/52836-ID-pedofilia-dan-kekerasan-seksual-masalah.pdf

Wade, C., & Tavris, C. (2007). Psikologi. (9th ed). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Tags

Baca Juga