Taat Lapor Pajak Saat Pandemi

Di tengah pandemi ini, banyak fenomena yang terjadi di sekitar kita. Dari cemas karena takut kehabisan sembako, masker, hand sanitizer dan lain sebagainya. Pada dasarnya hal tersebut terjadi karena manusia berusaha untuk bertahan dari berbagai ancaman.

Masyarakat berespon terhadap suatu keadaan. Ada yang berespon secara positif, namun tak ayal ada juga yang memanfaatkannya untuk meraup untung pribadi, dan memilih menutup mata hati. Kali ini penulis tergelitik untuk mengulik mengenai perilaku Wajib Pajak. Ini pas banget dengan batas waktu pelaporan pajak. (https://www.instagram.com/p/CAxCtItnbx9/)

Wajib Pajak seringkali dimaknai sebagai  individu atau perusahaan yang wajib memberikan kontribusi bagi negara berupa pajak atas penghasilan atau keuntungannya, dengan kriteria tertentu. Lebih dari 70% APBN didanai oleh pajak. Hal tersebut kadang tidak dipahami dan seringkali pajak dianggap sebagai beban.

Upaya pemerintah melakukan sosialisasi reformasi pajak semata-mata adalah untuk meningkatkan perilaku patuh membayar pajak. Salah satunya dengan pemanfaatan teknologi, yang diharapkan dapat mendongkrak kenaikan pendapatan pajak.

Pada masa pandemi corona dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini, Direktorat Jendral Pajak (DJP) secara resmi menghentikan layanan tatap muka. Perubahan ini  merupakan salah satu reformasi perpajakan yang dilakukan DJP merespon keadaan pandemi. Adopsi teknologi dilakukan DJP hampir di semua bentuk layanan, termasuk pembuatan NPWP, EFIN. Bahkan  permintaan lupa EFIN dialihkan melalui akses online. Tak hanya itu, layanan konsultasi pajak yang biasa dilakukan melalui tatap muka dengan helpdesk, dialihkan melalui telfon, chat maupun e-mail.

Bagaimana perilaku wajib pajak dalam reformasi digital pajak ini? Bagaimana kita merespon hal tersebut dan sudah siapkah kita dengan perubahan ini? Dari survei terhadap  21 orang wajib pajak yang dilakukan Dwiatnika dari Universitas Pembangunan Jaya diketahui bahwa  individu dewasa awal usia 20 -25 tahun telah mengisi SPT on-line sendiri, sedangkan usia  26-40 tahun dapat melaporkan SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) sendiri, namun masih membutuhkan bantuan. Ada beberapa dari mereka merasa kebingungan. Pada usia yang lebih tua, mereka mulai merasa kesulitan untuk melakukan pelaporan SPT.

Perilaku ini dapat terjadi karena generasi yang lebih muda memang lebih tanggap dan lekat dengan teknologi. Dengan pendapatan mereka yang memiliki komponen yang tidak banyak juga memudahkan mereka melaporkan penghasilan mereka. Kesulitan melaporkan akan lebih dialami generasi yang lebih tua atau berusia 40 tahun ke atas. Hal ini bisa saja disebabkan karena komponen penghasilan yang lebih rumit atau memang kesulitan dalam menggunakan teknologi.

Dari responden diketahui bahwa mereka kebingungan dalam menggunakan teknologi atau yang sering kita sebut gaptek. Bagi sebagian orang, berkonsultasi dengan cara tatap muka masih menjadi pilihan utama. Mereka tidak mau direpotkan dengan input data, menghitung maupun melakukan verifikasi dengan e-mail seperti yang dilakukan pada saat pengisian mandiri.

Bagi responden dengan preferensi ini, menunggu melaporkan setelah masa pandemik, menjadi pilihan. Sayangnya, kita tidak pernah tahu kapan pandemik covid 19 ini berakhir dan hal tersebut makin membuat pekerjaan berbagai pihak tertunda.

Sebenarnya penggunaan teknologi pada saat seperti ini menjadi sangat penting di berbagai bidang. Bekerja dari rumah dan belajar dari rumah mengharuskan kita semua “melek” teknologi, belajar menggunakan software dan berbagai aplikasi lainnya. Pada kondisi ini kita memang juga belajar untuk beradaptasi dengan keadaan dan konsekuensinya.  Namun jangan jadikan keadaan ini untuk menunda atau malah mengabaikan.

Bagi yang sudah paham dan mampu mengajarkan juga bisa membantu keluarga terdekat di rumah. Yuk, kita bantu orang tua, kakek atau nenek kita untuk dapat melaporkan SPT secara mandiri. Mengingat mereka adalah kalangan lanjut usia yang rentan terinfeksi oleh virus korana, biarkan mereka tetap di rumah, dan kita yang membantu pengisiannya via online pajak. Tentu saja, dengan etika pendampingan yang benar ya!!

Tim Penulis:

Agustine Dwianika-Prodi Akuntansi & Clara Moningka
Prodi Psikologi
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi:

Dwianika, A; Nurhidayah F; Azizah N.N. (2018). Relawan Pajak: Tidak Hanya Sekedar Mengerti Pajak (Motivasi Layanan dan Implikasi pada WPOP/UMKM). Jurnal PKN STAN.  Diunduh dari http://jurnal.pknstan.ac.id/index.php/sembadha/article/view/341.

Dwianika, A. (2019). Pajak dan Tren Teknologi Terkini. Technobusiness Media Group. Diunduh dari https://technobusiness.id/opinion/agustine-dwianika/2019/07/22/pajak-dan-tren-teknologi-terkini/

Moningka, C. (2020). Serba panik karena corona. Buletin Korsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara. Diunduh dari http://www.infobintaro.com/ada-corona-ada-kesempatan/

Leave a Reply