Remaja dan Orang Tua: Mari Berkomunikasi

Komunikasi adalah perpindahan informasi yang berarti dari satu pihak ke pihak lain melalui berbagai bentuk, mulai dari komunikasi lisan, tulisan, ekspresi wajah dan bahkan gestur tubuh. Dengan berbicara, mengangguk atau mengernyit saja sudah dapat dikategorikan sebagai berkomunikasi.

Namun kegagalan dalam berkomunikasi paling sering terjadi antara remaja dengan orang tuanya sendiri. Sang remaja kadang merasa lebih mudah berkomunikasi dengan orang dewasa selain dengan kedua orang tuanya. Dan kondisi yang sama juga dialami oleh pihak orang tua remaja. Mereka tidak sulit berkomunikasi ketika anaknya belum menginjak masa remaja. Bahkan kadang komunikasi tersebut membaik ketika masa remaja berhasil dilewati. Apa yang sebenarnya terjadi?

Remaja dan orang tua sama-sama merasa kesulitan dalam berkomunikasi karena merasa tidak memperoleh informasi yang yang berarti. Kalaupun ada, maka sifatnya sangatlah umum, misalnya emosi negatif atau emosi positif. Kunci suksesnya ada pada kesesuaian konteks atau cara pandang yang dipilih dan dipergunakan, keberanian dan keterampilan dalam melaksanakan komunikasi itu sendiri.

Konteks dan cara pandang yang sama adalah hal yang penting dalam sebuah komunikasi. Bila seorang remaja melakukan komunikasi supaya mendapatkan saran dari orang tuanya, maka pastikan bahwa pihak orang tua mengerti bahwa mereka diharapkan untuk memberikan saran. Bila yang diterima oleh remaja bukanlah saran namun omelan, maka kedua belah pihak berkomunikasi dengan konteks yang salah. Contoh lainnya adalah ketika orang tua bertanya tentang kegiatan anak remajanya dan menerima jawaban dalam bentuk dalam bentuk helaan napas atau jawaban pendek, “Ya, gitu deh.”

Salah satu cara untuk menyamakan konteks adalah dengan berperilaku asertif, yaitu menyampaikan keinginan atau kebutuhan dengan cara yang tidak mengancam. Harapan, kekhawatiran, pikiran maupun perasaan adalah jenis-jenis informasi yang dapat saling dibagikan antara remaja dan orang tua. Bila terjadi perbedaan pendapat atau konflik, maka perlu diungkapkan pula pilihan-pilihan yang tersedia untuk menyelesaikan perbedaan tersebut. Perilaku asertif membutuhkan kemampuan berbahasa yang baik dan dapat diterima oleh kedua belah pihak serta   tidak menyinggung lawan bicara maupun tidak memposisikan diri rendah atau tidak berdaya. Pilihan bahasa menjadi hal penting. Orang tua seringkali memakai bahasa yang digunakan saat mereka remaja, yang sudah barang tentu tidak sesuai dengan bahasa remaja masa kini atau kids jaman now.

Remaja yang menggunakan istilah, singkatan atau bahasa slang yang membingungkan justru akan memperbesar potensi kegagalan suatu komunikasi, terlebih lagi ketika komunikasi dengan orang tua tidak dilakukan secara tatap muka tetapi lewat alat bantu seperti gawai (gadget).

Syarat utama perilaku asertif adalah keberanian. Keberanian untuk meminta, menegur, mengakui kesalahan dan menjalani konsekuensi yang ada. Sayangnya syarat terkadang sulit dipenuhi karena baik remaja maupun orang tua telah memiliki cara pandang tertentu terhadap lawan bicaranya sehingga keberanian menjadi hal yang sulit untuk ditemukan.

Bagaimana caranya untuk membangun keberanian? Ada dua cara. Pertama, memunculkan kepercayaan bahwa kedua belah pihak tidak sedang berusaha untuk saling menyakiti atau saling menghancurkan. Remaja harus yakin bahwa orang tua adalah tempat mengadu dan mendapatkan saran, sedangkan orang tua harus yakin bahwa remaja adalah anak yang sedang berjuang menjalani masa transisi menuju kedewasaan dan membutuhkan bimbingan. Dengan demikian, semua pihak memiliki pandangan positif terhadap yang lainnya. Cara kedua adalah dengan mencari waktu yang tepat dan peka terhadap situasi orang lain. Ketika emosi sedang meletup-letup, bahasa paling sopan pun akan dianggap sebagai hal yang mengganggu. Hal yang sama berlaku pula ketika tubuh berada dalam kondisi lelah.

Faktor lain yang patut dipikirkan adalah kemampuan berpikir, keterbukaan terhadap ide-ide baru dan tujuan akhir yang ingin dicapai. Pengalaman gagal atau kurang berhasil dalam berkomunikasi dapat dipergunakan untuk memperbaiki kemampuan berkomunikasi.

Komunikasi secara umum bukan hanya sebatas menyampaikan informasi, tetapi memastikan bahwa informasi tersebut juga diterima oleh lawan bicara, sesuai tujuannya. Komunikasi yang baik, khususnya antara remaja dan orang tua, dapat mengurangi terjadinya perdebatan di dalam keluarga, memunculkan rasa percaya diri pada pihak remaja, menurunkan tingkat stres, meningkatkan kepuasan para anggota keluarga terhadap fungsi keluarganya dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan (well-being) individu.

Selain itu, kemampuan atau ketrampilan berkomunikasi yang dimiliki oleh seorang remaja terhadap orang tuanya dapat menjadi tolak ukur kemampuannya dalam membentuk kepercayaan serta berkomunikasi dengan orang dewasa lain di luar keluarganya, bahkan dengan atasannya di masa depan. Oleh karena itu, orang tua dan remaja memiliki kepentingan yang sama besarnya untuk berjuang dalam mengasah dan mengembangkan keterampilan dalam berkomunikasi.

Penulis

Veronica A. M. Kaihatu, S.Psi., M.Si (Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya)

Daftar Referensi

  • Drury, J., Catan, L. & Dennison, C. (1998). Young People’s Communication Difficulties: Experiences with Employers and Family Adults. Journal of Youth Studies1(3), 245-257. Diunduh pada tanggal 2 November 2017 dari http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13676261.1998.10593012.
  • Hogg, M. A. & Vaughan, G. M. (2011). Social Psychology. England: Pearson Education Limited.
  • Pickhardt, C. (Januari 2017). Communicating About Emotion Between Parent and Adolescent. (Artikel). Psychology Today. Diunduh pada tanggal 2 November 2017 dari https://www.psychologytoday.com/blog/surviving-your-childs-adolescence/201705/communicating-about-emotion-between-parent-and
  • Stone, N. & Ingham, R. (2002). Factors Affecting British Teenagers; Contraceptive Use at First Intercourse: The Importance of Partner Communication. Perspectives on Sexual and Reproductive Health34(4), 191-197. DOI: 10.2307/3097729.
  • Ying, L., Ma, F., Huang, H., Guo, X., Chen, C. & Xu, F. (2015). Parental Monitoring and Parent-Adolescent Communication Play an Importance Role in Fostering Adolescents’ Trust in Their Parents in China. Plos One10(8): e0134730. Diunduh pada tanggal 2 November 2017 dari https://doi.org/10.1371/journal.pone.0134730