Product Placement (Dalam Rangka Hari Konsumen Nasional 20 April)

Iklan merupakan sarana komunikasi yang digunakan perusahaan atau produsen untuk menyampaikan informasi tentang barang atau jasa kepada publik via media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Melalui iklan, produsen dapat menarik minat konsumen terhadap produk.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat juga berdampak pada perubahan strategi dalam komunikasi pemasaran. Perusahaan pengiklan mulai menggunakan sebuah teknik pengiklanan yaitu product placement.

Product placement atau penempatan produk adalah teknik pemasaran di mana produk terintegrasi ke dalam acara TV atau film melalui penggunaannya oleh tokoh film, terintegrasi sebagai titik dalam plot film, atau asosiasi dengan tokoh film yang mungkin juga menjadi juru bicara produk.

Teknik product placement merupakan salah satu cara dalam komunikasi pemasaran yang marak digunakan produsen untuk mengkomunikasikan produknya. Beberapa cara product placement adalah menempatkan produk yang akan diiklankan dalam film, dimana produk tersebut dimasukkan dalam alur cerita yang ada seperti pemeran film yang menggunakan produk tersebut. Selain itu, product placementdapat dilakukan film ataupun video klip.

Product placement pun juga terjadi dalam film Dilan 1990 yang dirilis pada 25 Januari 2018. Film ini  sempat menjadi sorotandalam perfilman Indonesia. Film yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq ini  berkisahkan tentang Dilan yang merupakan seorang anggota geng motor di Bandung pada tahun 1990.

Dilan yang menggunankan sepeda motor klasik yakni Honda CB100 warna putih. Sepeda motor klasik ini yang kemudian banyak diburu oleh penggemar film Dilan 1990. Wicaksono dan Priyanto (2018) memotret bahwa pada bulan Januari 2018, Honda CB100 mendapatkan 28,490 view di situs Priceprice.com. Selanjutnya pada bulan Februari 2018, popularitas Honda CB100 makin meningkat dengan memperoleh 43,260 view yang akhirnya membuat motor antik dan klasik semakin populer dikalangan masyarakat. Simak penampilan motor keren ini pada video berikut ini:

Baca juga: Kisah Motor Honda CB100 di Film Dilan, Serba Orisinal

Motor Honda CB100 yang pertama kali dipasarkan pada tahun 1970 sudah tidak lagi diproduksi sejak lama. Hal ini membuat motor tersebut menjadi salah satu motor antik. Konsumen mengalami kesulitan dalam mencari maupun membeli motor tersebut karena motor tersebut juga sudah terlebih dahulu diburu oleh kolektor-kolektor motor antik. Tidak hanya itu, ongkos untuk memperbaiki maupun memodifikasi motor lama tersebut juga cukup mahal.

Ternyata tren ini justru membuahkan dampak pada Kawasaki W175.Hal tersebut dapat dilihat pada dampak positif pada penjualan motor model klasik Kawasaki W175 yang dikeluarkan pada penghujung tahun 2017. Di daerah Yogyakarta misalnya, Kawasaki W175 mengalami peningkatan sebanyak 25% setelah rilisnya film Dilan 1990.

Baca juga: Lebih Retro, Kawasaki Rilis W175 Cafe

Motor Kawasaki W175 dipandang sebagai substitusi ataupun pengganti dari penggemar motor Honda CB100. Keduanya memilik gaya yang sama yakni gaya klasik sehingga tidak terlalu berbeda satu sama lain. Keunggulan dari Kawasaki W175, ia merupakan motor keluaran baru yang sudah barang tentu dapat meminimalisir kerusakan yang terjadi. Ongkos “perawatan” motor tersebut lebih sedikit dan saat ini masih mudah untuk dicari dan dibeli karena masih dipasarkan di dealer resmi Kawasaki.

Kasus di atas memotret bahwa product placement membuat konsumen tertarik terhadap produk tersebut. Iklan dalam media massa memang sangat terasa adanya. Setiap pengelola media tidak bisa melepaskan pengaruh dari periklanan. Pengaruh periklanan ini sangat penting, bahkan lebih penting daripada pengaruh khalayak atau pasar.

Selanjutnya, ketika seorang individu tidak dapat mencapai tujuan atau produk tertentu yang dia inginkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seseorang akan cenderung memilih mengganti tujuan tersebut dengan tujuan yang dianggap dapat menggantikan tujuan awal. Caranya adalah dengan menerapkan substitute goals yaitu sasaran atau tujuan yang menggantikan sasaran utama individu ketika sasaran itu tidak dapat dicapai.

Meskipun tujuan pengganti atau substitute goals mungkin tidak memberikan kepuasan yang seperti tujuan utama sebelumnya, namun hal ini mungkin cukup untuk menghilangkan rasa tidak menyenangkan dari keinginan yang tidak tercapai.

Di sisi lain, kita perlu cermat membaca kasus di atas. Merek barang/jasa yang tampilkan secara terlalu mencolok dalam program TV dapat menghasilkan perasaan negatif. Dengan demikian, pengusaha tetap perlu berhati-hati dalam menggunakan strategi product placement.

Penulis

Shafa Saprila dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Anggraini, F. (2018). Analisis semiotika product placement dalam film lokal aceh (studi pada film eumpang breuh serial 8). Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, 3(1). 749-762. Diakses dari http://www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP/article/download/6632/2689

Schiffman, L. G., & Kanuk. L. L. (2010). Consumer behavior. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Wicaksono, P., &Priyanto. W. (2018). Film Dilan dongkrak penjualan Kawasaki W175. Diakses dari https://otomotif.tempo.co/read/1067662/film-dilan-dongkrak-penjualan-kawasaki-w175