Nikmatnya Steak ala Sous-Vide di Meat Compiler

Umumnya orang memahami steak dibuat dengan cara memanggang daging selama beberapa waktu di atas bara api. Memang cara inilah yang lazim digunakan di berbagai belahan bumi untuk membuat steak selama berabad-abad. Namun, pemanggangan (grilled) ini seringkali menghasilkan steak yang tidak merata tingkat kematangannya. Bisa terjadi pada bagian permukaannya terlalu matang,yang ditunjukkan dengan warna coklat tua kehitaman, sedangkan di bagian tengah masih berwarna merah (kurang matang). Tingkat keahlian sang juru masak sangat menentukan kualitas steak yang dihasilkan.

common_steak_info_bintaro

Melihat kenyataan sulitnya membuat steak yang memiliki tingkat kematangan yang merata, Arief Iman Santoso, seorang penyuka steak mencoba suatu teknik dalam pembuatan steak yang dinamakan sous vide. Teknik ini sebetulnya sudah semenjak tahun 1960-an dikembangkan di Eropa, namun di Indonesia belum banyak yang mengadopsi teknik ini, karena membutuhkan proses yang lebih panjang, namun steak yang dihasilkan akan merata tingkat kematangannya dan tentu saja lebih enak.

Untuk membangun bisnis kulinernya, Arief yang saat itu bekerja sebagai Information Technology (IT) di sebuah TV swasta nasional terkemuka ini tidak segan-segan mengajukan pengunduran diri supaya dapat menekuni bisnis steaknya. Berdirilah Meat Compiler yang mengkhususkan diri menjual steak.

Meat Compiler berlokasi di Jl. Bintaro Tengah Blok U5 No. 39, Bintaro Sektor 2 ini baru beroperasi sekitar 4 bulan, namun dalam waktu sesingkat itu telah mendapat sambutan positif dari penyuka steak di wilayah Bintaro. Arief bercerita, ia sudah mempelajari teknik sous vide ini merupakan solusi bagi cara memasak steak yang konvensional. Sebagai penikmat steak, ia jarang sekali menemukan steak yang pas tingkat kematangannya. Meat Compiler buka dari hari Selasa-Minggu, pukul 16.00-22.00.

meat_compiler_room_info_bintaro

Prinsip dari teknik sous vide dilakukan dengan cara memindahkan panas (heat transfer) dari api melalui media air untuk memanaskan daging. Daging yang akan diproses terlebih dahulu dibungkus dalam kemasan plastik tahan panas yang kedap udara, kemudian dimasukan ke dalam oven khusus berisi air dan mulai dipanaskan. Oven ini merupakan oven khusus yang dapat mensirkulasikan air secara terus menerus. Suhu air terjaga stabil selama proses pemanasan yang lamanya tergantung dari ketebalan daging.

Daging yang telah melewati proses sous vide kemudian siap diproses menjadi steak sesuai selera pelanggan. Meat Compiler menawarkan 3 pilihan pengolahan akhir, yaitu Pan Seared, Hot Grill dan Broco Torch. Pan Seared merupakan teknik pengolahan akhir steak, dimana daging dipanggang di atas wajan khusus. Steak yang dihasilkan dari teknik pan seared ini memiliki warna coklat yang merata dan ‘juicy” alias cukup basah oleh lemak daging yang terbakar. Teknik Hot Grill akan menghasilkan steak yang sangat mengundang selera karena steaknya memiliki warna yang khas, dagingnya beralur bekas panggangan yang tercetak. Teknik ini sama dengan teknik memanggang biasa tanpa proses sous vide. Sedangkan teknik Broco Torch, dilakukan dengan memanaskan permukaan daging menggunakan alat pemanas (torch) yang disapukan berulang-ulang ke seluruh permukaan daging. Teknik Broco Torch akan menghasilkan steak yang relatif kering karena lemak daging telah terbakar.

meat_compiler_info_bintaro

Arief menambahkan, jika pelanggan menginginkan steak yang diproses akhir dengan teknik Broco Torch, sebaiknya diorder sebelumnya dengan menghubungi Meat Compiler via telpon. Hal ini dikarenakan, waktu yang dibutuhkan untuk proses Broco Torch dengan kualitas yang baik tidaklah cepat. Pemesanan bisa dilakukan 1 hari sebelumnya atau pada pagi hari di hari kedatangan pelanggan. Dari 3 pilihan proses akhir ini, menurur Arief, Pan Seared merupakan pilihan favorit dari pengunjung.

Untuk menjamin kualitas dari steaknya, Meat Compiler hanya menggunakan daging sapi impor dari Australia. Selain daging sapi dari Australia, Meat Compiler juga memiliki pilihan menu steak spesial yang menggunakan daging sapi berjenis Wagyu dan sapi Selandia Baru. Wagyu merupakan sapi unggulan yang berasal dari bibit sapi Jepang, namun dibesarkan di Australia. Daging sapi Wagyu ini sangat lembut, Arief menggambarkan, karena lembutnya daging sapi Wagyu ini bisa dikunyah tanpa menggigitnya. Tentu saja, untuk steak yang berbahan daging sapi Wagyu ini harganya relatif lebih mahal. Untuk menikmati menu khusus ini, pelanggan tidak bisa mengorder saat kedatangan, pengorderan dapat dilakukan sehari sebelumnya.

Tidak hanya steak daging sapi, Anda juga dapat memilih steak daging domba dan bebek. Dan sebagai teman saat menikmati steak, Meat Compiler menyajikan kentang goreng (french fries) yang diproduksi sendiri. French fries ini berbeda dari french fries yang disajikan oleh banyak restoran, proses yang dilakukan sampai siap saji adalah 3 tahap sehingga french fries-nya lembut dengan bumbu yang meresap.

Yang juga membedakan Meat Compiler dari resto-resto yang menyajikan steak adalah side-dishes atau sayuran pelengkap steak, merupakan sayuran yang diolah sendiri, bukan sayuran kalengan yang banyak dijual di super market. Meat Compiler menggunakan buncis, tomat dan jamur yang dimasak langsung saat pemanggangan steak. Sehingga side dishes-nya lebih segar dan bebas bahan pengawet.

Sebagai penutup, Meat Compiler juga memiliki pilihan menu appetizer dan dessert yang akan membuat acara makan steak Anda menjadi sempurna. Secara keseluruhan, kelezatan berbagai menu yang disajikan oleh Meat Compiler akan membuat Anda kembali lagi ke sini.

meat_compiler_menu2_info_bintaro

Reservasi : 0817 6328 000
Website : http://www.meatcompiler.id
Facebook Fan Page : Meatcompiler
Instagram : @meatcompiler
Twitter : @meatcompiler
Line : Meatcompiler

 

(ES)

Leave a Reply