Menyambut Lebaran dengan Menahan Diri dari Godaan Belanja Impulsif

Idul Fitri adalah hari kemenangan, hari raya paling besar untuk umat Muslim di seluruh dunia. Tak hanya kental dengan aspek religi, inilah festival budaya dunia paling besar yang membuat berbagai tempat di dunia penuh warna.

Oleh karenanya, sudah lumrahketika menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat berbelanja. Mereka membeli barang-barang baru, mulai dari baju, sepatu, handphone,make up, hingga mobil baru. Bahkan hanya untuk sekadar memiliki sesuatu yang baru di hari raya kemenangan ini, orang sampai nekat meminjam uang dari sanak saudara hingga ke rentenir.

Memanfaatkan momentum Lebaran, banyak pusat perbelanjaan yang menggelar harga diskon

Pusat-pusat perbelanjaan itu pun menjadi penuh sesak oleh padatnya pengunjung. Ada yang memang berbelanja karena terdorong oleh kebutuhan nyata untuk menyambut Lebaran, tapi tidak sedikit mereka yang berbelanja hanya karena gengsi atau hasrat untuk tak boleh kalah dari tetangga di sebelah rumah.

Baca juga: THR Sudah Habis Hari ini?

Bagi mereka yang punya duit (orang kaya) dan memiliki anggaran khusus buat Lebaran, berbelanja adalah suatu kegembiraan.Sebaliknya, bagi mereka yang tak cukup anggaran, tapi berhasrat besar untuk memiliki barang-barang baru karena dorongan gengsi atau tak mau kalah dari tetangga sebelah rumah, keterbatasan dari segi ekonomi adalah sebuah masalah besar.

Jika seseorang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu untuk berbelanja, maka timbul dorongan-dorongan untuk melakukan segala cara agar keinginannya terpenuhi.Dengan modal nekat, mereka akhirnya harus meminjam dari sana-sini, termasuk dari para rentenir, korupsi, menipu, atau bahkan mencuri. Inilah jalan pintas untuk memenuhi hasrat besar mereka.

Biasanya yang nekat ini adalah mereka yang terlena budaya instant, yaitu mereka ingin cepat memiliki sesuatu tanpa kerja keras atau ketika usaha untuk memenuhi keinginannya sudah tidak ada jalan lagi, maka dia akan terus berusaha untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.

Orang-orang seperti ini biasanya kecenderungan untuk impulse buying (pembelian Impulsif). Pembelian yang terjadi ketika konsumen melakukan pembelian dengan sedikit pertimbangan atau bahkan tidak ada sama sekali dikarenakan adanya perasaan mendesak secara tiba-tiba yang memunculkan keinginan untuk memiliki atau merasa membutuhkan benda tersebut dikenal dengan sebutan impulse buying.

Perilaku belanja impulsif memiliki beberapa elemen: 1) adanya keinginan secara tiba-tiba untuk membeli, 2) keinginan tersebut menyebabkan individu berada dalam kondisi ketidakseimbangan psikologis yaitu kondisi sementara di mana konsumen kehilangan kontrol emosi, 3) konsumen tersebut berjuang mempertimbangkan kepuasan dirinya dengan konsekuensi jangka panjang dari pembelian, 4) konsumen sering kali mengabaikan proses evaluasi tentang produk atau jasa tersebut, 5) konsumen tidak mempertimbangkan konsekuensi di masa depan akibat perilaku tersebut.

Mereka yang berbelanja seperti ini bukan karena terdorong oleh kebutuhan melainkan untuk memenuhi hasrat atau keinginan. Pemandangan seperti ini sudah jamak, tak terkecuali saat-saat Hari Raya Lebaran.

Penyebab kemunculan kondisi seperti ini adalah stimulus lingkungan yang membangkitkan dan mengoptimalkan fungsi hasrat. Pembelian yang didasari oleh hasrat akan menghilangkan pengendalian diri sehingga terjadinya pembelian yang tidak seharusnya dilakukan.

Hal ini juga terjadi saat hari raya Lebaran. Hari raya membuat orang-orang seperti memiliki perasaan mendesak dalam berbelanja karena mengejar diskon yang diharapkan. Dengan demikian mereka tidak lagi mempertimbangkan banyak hal saat membeli barang tersebut.

Menyadari adanya perilkalu belanja impulsif ini, hendaknya kita semua bisa menyambut Lebaran dengan lebih bijak. Tentu saja kita boleh membeli barang-barang baru saat menjelangLebaran. Namun kita tidak lagi mudah tergoda pada diskon besar-besaran dan lebih mempertimbangkan pembelian agar tidak memaksakan diri bernafsuberbelanja saat lebaran.

Pada saat Lebaran lebih baik kita menebarkan kembali senyuman diwajah dan kebahagiaan di hati seluruh umat manusia. Kita tegakkan kembali Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang bagi seluruh alam). Itulah hakikat Idul Fitri, meraih dan menaburkan keindahan jiwa dan semangat yang baru, bukan barang-barang baru.

PENULIS

Melia Ikkiu dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

DAFTAR PUSTAKA

Adelia, D. & Soerjoatmodjo, G.W.L. (2018, 8 September). Perilaku belanja impulsif dan self esteem. http://www.infobintaro.com/perilaku-belanja-impulsif-dan-self-esteem/

Anin, A., Rasimin, B. S., Atamimi, N. (2008). Hubungan Self Monitoring Dengan Impulsive Buying Terhadap Produk Fashion Pada Remaja. Jurnal Psikologi Volume 35. Diambil dari https://jurnal.ugm.ac.id/jpsi/article/view/7951/6149

Hendrietta, P. (2012). Impulsive Buying Pada Dewasa Awal Di Yogyakata. Jurnal Psikologi. Diambil dari https://www.neliti.com/publications/139366/impulsivebuying-pada-dewasa-awal-di-yogyakarta

Herabadi, A.G & Verplanken, B. (2003). Individual Differences in Impulse Buying Tendency: Feeling and No Thinking. EuropeanJournal of Personality S71-S83. Diambil dari : https://www.researchgate.net/publication/227911258

Septila, R., & Aprilia, E. D. (2017). Impulse buying pada mahasiswa di Banda Aceh.

Psikoislamedia Jurnal Psikologi, 2(2), 170-183. Diambil dari  http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Psikoislam/article/view/2449

Prihatin, I.U., & Winarno, H. H. (2016). Diskon dan Kartu Kredit Bikin Warga Konsumtif. Diambil dari https://www.merdeka.com/khas/diskon-dan-kartu-kredit-bikin-warga-konsumtif.html

Tambunan, R. (2001). Remaja dan perilaku impulse buying. Diambil dari http://epsikologi.com/remaja/191101.htm.

Leave a Reply