Menghidupkan Kembali Taman Siswa (Dalam Rangka Hari Pendidikan Nasional)

Setiap tanggal 2 Mei Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, yaitu hari lahir bapak pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara, tahun 1889 di Yogyakarta. Lahir dari keluarga bangsawan sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, beliau membuka akses pendidikan – yang awalnya terbatas untuk anak kelahiran Belanda atau keluarga kaya – menjadi untuk semua orang dengan mendirikan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta.Taman Siswa memberlakukan sistem among, istilah bahasa Jawa dari kata mong atau ngemong yaitu pengasuh anak di mana guru tak menyuapi siswa dengan aneka instruksi, tetapi mengupayakan anak menjadi pembelajar aktif mencari pengetahuan, membangun keterampilan serta mengembangkan nilai kehidupan.

Yang dilakukan guru adalah tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tuladha – di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberikan daya kekuatan – sehingga guru aktif dan dinamis membangun pemahaman siswa yang aktif belajar Karena itulah beliau, yang menanggalkan nama ningrat agar dekat dengan rakyat, memakai kata Taman dalam Taman Siswa karena taman adalah tempat anak bermain.

Kini di tahun 2019, 130 tahun sejak kelahiran Ki Hadjar Dewantara, isu pendidikan sayangnya justru mundur. Hal ini dapat dilihat bahwa pemberitaan media seputar pendidikan sebatas berkisar Ujian Nasional, yang sarat kontroversi soal ujian HOTS (Higher Order Thinking Skills). Hal ini tak lepas dari kenyataan pahit – Indonesia terpuruk di posisi terbawah dari 40 negara peserta Program for International Student Assessment (PISA) yang digelar Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) karena pendidikan hanya berkuat di LOTS (Lower Order Thinking Skills)

Dokumentasi Quipper Indonesia

Masih bingung membedakan HOTS dan LOTS? Coba simak video berikut:

HOTS maupun LOTS berbasis pada teori taksonomi pendidikan yang membagi keterampilan berpikir ke dalam sejumlah tingkatan. LOTS mencakup kemampuan ‘rendah’ yakni sekedar mengingat, sebatas paham dan mampu menerapkan; sebaliknya HOTS ada di tingkat ‘tinggi’karena siswa mampu menganalisa, mengevaluasi sampai mencipta hal baru.

Sebagai contoh, siswa dengan keterampilan LOTS mampu mengingat materi, memahami sehingga bisa menyebutkan ulang apa yang ia pelajari serta menerapkan dalam konteks yang diberikan. Tetapi mereka dengan punya keterampilan HOTS sanggup maju lebih jauh lagi, yakni menguraikan materi yang telah ia pelajari ke dalam bagian-bagian kecil yang dapat ia rangkai kembali secara berbeda, mengevaluasi materi belajar secara kritis bahkan sanggup menyusun argumentasi pribadi.

Siswa dengan HOTS lebih terampil menghadapi situasi ketidakpastian, mampu mengatasi dilema, sanggup mengaplikasikan ilmu yang telah mereka miliki dalam berbagai konteks berbeda serta tak oleng saat berhadapan dengan masalah-masalah boleh jadi baru sama sekali.

Sementara di SD sampai SMA, guru berupaya mengubah proses pembelajaran dari LOTS ke HOTS, apa yang dapat orang tua lakukan untuk mendukung anak? Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan, sebagaimana direkomendasikan The Learning Community (2018):

Dalam percakapan sehari-hari, orang tua dapat menyodorkan beraneka pertanyaan ‘terbuka.’ Anak dipacu memberikan menjawab secara bebas. Pertanyaan ‘terbuka’ adalah penggalian yang tak memiliki jawaban ‘benar’ atau ‘salah.’ Respon kreatiflah yang diharapkan muncul dari pertanyaan terbuka.

Pada saat keluarga menonton film bersama di akhir pekan, orang tua dapat mengambil kesempatan untuk bertanya, “Apa pendapatmu tentang karakter yang diperankan oleh si aktor tadi? Mengapa kamu berpendapat demikian” Saat membaca buku bersama, di akhir cerita, ayah atau ibu bertanya, “Bagaimana jika kita ubah akhir cerita ini sesukamu? Bagaimana kamu akan menyudahi cerita ini?”

Baca Juga:

Tips Mengenalkan Buku Sejak Dini Kepada Anak
Belajar dari Dongeng atau Cerita Rakyat Indonesia
Edukasi Anti Korupsi dan Pelatihan Kreativitas Anak lewat Dongeng

Kesempatan membangun HOTS juga bisa dilakukan saat berlibur ke daerah atau negara yang belum pernah anak datangi. Saat berjalan-jalan, orang tua menyempatkan bertanya, “Menurutmu, apa yang menarik dari tempat ini? Adakah hal-hal yang bisa kita tiru di rumah? Hal-hal apa yang sama atau berbeda antara warga di daerah atau negara ini dengan kita?”

Peluang lain adalah melibatkan anak mengambil keputusan. Saat di rumah, orang tua mengajak anak, “Oke Nak, kini giliranmu memesankan makanan layan antar untuk seluruh keluarga. Apa yang akan kamu pesan? Mengapa kamu pesan itu?” Jika ada masalah dalam keluarga, misalnya pembantu harian tidak bisa datang padahal cucian bertumpuk, anak diminta berpendapat, “Menurutmu, apa yang sebaiknya kita lakukan ya?”

Membangun HOTS, orang tua pada dasarnya mengadopsi prinsip Ki Hadjar Dewantara tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tuladha. Tempatkanlah anak sebagai pembelajar aktif dan bangunlah keseharian sebagai taman tempat ia bermain dan bereksplorasi, sebagaimana Ki Hadjar Dewantara membangun Taman Siswa.

Penulis:

Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Mandhuri, G.V., Kantamreddi, V.S.S>N. Prakas Goteti,L.N.S. (2012).Promoting higher order thinking skills using inquiry-based learning. European Journal of Engineering EducationVol 37 2 Diakses dari https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/03043797.2012.661701

Rachman, D.A. (2018). Mendikbud pastikan HOTS tetap dipakai UN tahun depan. Dipublikasikan di Kompas, 28 Mei. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2018/05/28/08485331/mendikbud-pastikan-hots-tetap-dipakai-dalam-ujian-nasional-tahun-depan

Suparlan, H. (2015). Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan sumbangannya bagi pendidikan Indonesia. Jurnal Filsafat Vol. 25 No 1. Yogyakarta Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Diakses dari https://journal.ugm.ac.id/wisdom/article/view/12614

The Learning Community. (2018). Tips for parents: Thinking skills. Diakses dari http://www.thelearningcommunity.us/resources-by-format/tips-for-parents/thinking-skills.aspx

Wardani, K. (2010). Peran guru dalam pendidikan karakter menurut konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Proceeding of The 4th International Conference on Teacher Education. Joint Conference UPI and UPSI, Bandung, Indonesia, 8-10 November. Diaksed dari http://file.upi.edu/Direktori/PROCEEDING/UPI-UPSI/2010/Book_2/PERAN_GURU_DALAM_PENDIDIKAN_KARAKTER_MENURUT_KONSEP_PENDIDIKAN_KI_HADJAR_DEWANTARA.PDF

Leave a Reply