Mengenal 4 Tokoh Pahlawan Nasional di Hari Nusantara 13 Desember 2017

Tahukah Anda bahwa hari Nusantara merupakan perwujudan dari Deklarasi Djuanda yang dianggap sebagai Deklarasi Kemerdekaan Indonesia kedua. Melalui deklarasi tersebut, Indonesia merajut dan mempersatukan kembali wilayah dan lautannya yang luas, menyatu menjadi kesatuan yang utuh dan berdaulat.

Melalui Keppres No.126/2001 dikukuhkan sebagai Hari Nusantara, artinya setiap tanggal 13 Desember mulai diperingati sebagai salah satu Hari Nasional.

Hari Nusantara yang diperingati setiap tanggal 13 Desember merupakan penegasan dan pengingatan bahwa Indonesia adalah Negara Kepulauan terbesar di dunia. Sayangnya, potensi sumberdaya kelautan Indonesia sebesar kurang lebih 3000 triliun rupiah/tahun belum tergarap secara maksimal. Laut belum dilihat sebagai sumber pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, dan pemecah masalah kemiskinan.

Kekuatan laut kita pun tidak kalah di masa penjajahan dulu. Pahlawan nasional dari Aceh yakni Laksamana Malahayati atau Keumalahayati merupakan panglima perang Kesultanan Aceh yang mampu menaklukkan armada angkatan laut Belanda dan Portugis pada abad ke-16.

Laksamana Malahayati (Dok: Okezone)

Keumalahayati, adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530–1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513–1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada tahun 1585–1604, dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Dia mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.

Saat meninggal dunia, jasad Malahayati dikebumikan di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.

Sebagai penghargaan, selain dinamakan sebagai nama jalan di berbagai wilayah di Indonesia, nama Malahayati juga banyak diabadikan dalam berbagai hal. Seperti pelabuhan laut di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar dinamakan dengan Pelabuhan Malahayati.

Salah satu kapal perang  jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali (fregat) kelas Fatahillah milik TNI Angkatan Laut yang dinamakan KRI Malahayati. Kapal perang ini dibuat di galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980, khusus untuk TNI-AL.

BACA JUGA  PSI UPJ Tuan Rumah Sumpah Profesi Psikolog Klinis Banten

Dalam dunia pendidikan, terdapat Universitas Malahayati yang terdapat di Bandar Lampung.

Sebuah serial film Laksamana Malahayati yang menceritakan riwayat hidup Malahayati telah dibuat pada tahun 2007.

Nama Malahayati juga dipakai oleh Ormas Nasional Demokrat sebagai nama divisi wanitanya dengan nama lengkap Garda Wanita Malahayati.

Atas jasa-jasanya Pemerintah Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.

Laksamana Malahayati  memang termasuk dari beberapa tokoh yang dikukuhkan pada tanggal 10 November lalu menjadi pahlawan nasional. Di samping beliau terdapat beberapa nama lain yakni TGKH M Zainuddin Abdul Madjid (tokoh asal Nusa Tenggara Barat), Sultan Mahmud Riayat Syah (asal Kepulauan Riau), dan Lafran Pane (asal Daerah Istimewa Yogyakarta).

Zainuddin Abdul Madjid merupakan pendiri ormas Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan. Gelar Tuan Guru yang diberikan kepada Zainuddin merupakan gelar bagi para pemimpin agama di provinsi NTB.

Selanjutnya, Sultan Mahmud Riayat Syah ialah sosok yang konsisten melawan penjajahan Belanda di Tanjung Pinang.

Sedangkan Lafran Pane, selain pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ia pernah menjadi tokoh muda perintis kemerdekaan.

Sultan Mahmud Riayat Syah (kiri atas), Lafran Pane (kiri bawah) dan Zainuddin Abdul Madjid (kanan) (Dok: berbagai sumber)

Dengan bertambahnya 4 pahlawan baru, total jumlah pahlawan nasional menjadi 173 orang, terdiri atas 160 laki-laki dan 13 perempuan.

Pahlawan nasional ialah gelar yang diberikan pemerintah kepada warga negara Indonesia yang semasa hidup melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, Hartono Laras, menjelaskan ada syarat umum dan syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum tokoh diputuskan memperoleh gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden.

Dikatakan, empat tokoh yang memperoleh gelar pahlawan yang ditetapkan tahun ini telah memenuhi seluruh persyaratan.

 

(EGS)

Tags

Baca Juga