Menemukan Kebaikan di Tengah Pandemi Corona?

Beberapa waktu yang lalu saya menanyakan pada mahasiswa saya apa yang mereka rasakan selama belajar di rumah. Karena pandemi virus corona, saya dan mereka harus bekerja dan belajar di rumah untuk membantu memutus rantai penularan.

Tentu saja banyak hal yang kami rasakan. Mahasiswa saya ada yang merasa cemas, takut. Bahkan untuk berdekatan dengan ayahnya yang terpaksa harus keluar, dia merasa cemas. Ada yang merasa bingung karena nafkah orang tua berkurang. Di satu sisi ada yang merasakan kebahagiaan karena orang tua memiliki waktu bersama mereka.

Baca juga:

Ada Corona, Ada Kesempatan?
Kenali Gejala Stress Anda
Tips Mengelola Stres Saat Diam Di Rumah Selama Pandemi

Pandemi ini pada dasarnya memang menimbulkan banyak luka dan kesedihan. Kita mendengar banyak karyawan di-PHK, bahkan tidak jarang usaha pun menurun omsetnya. Di beberapa tempat banyak ojol berkumpul menunggu adanya pesanan, padahal sudah ada larangan untuk berkumpul.

Belum lagi korban yang meninggal, bahkan ditolak untuk dimakamkan di daerahnya. Para petugas kesehatan harus mengalami resiko besar dan kesulitan bertemu sanak keluarga. Bila melihat berbagai fenomena tersebut sulit rasanya bisa mengambil hikmah atau efek positif dari peristiwa ini.

Rasa duka dan ketidakpastian yang ada karena keadaan ini pada dasarnya memiliki konsekuensi yang besar. Bisa menyebabkan stress bahkan depresi. Bukan hanya bagi yang berdampak langsung, namun juga bagi yang tinggal di rumah dan kebutuhan mereka cukup terpenuhi.

Bagaimana kita bisa memaknai keadaan ini dengan lebih baik? Ketika kita berusaha menghadapi kesusahan dalam hidup kita, khususnya saat pandemi corona berlangsung, kita juga dapat menyaksikan orang lain bergumul dengan kesulitan mereka. Entah dari berita, menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Hal ini merupakan adalah respon umum manusia untuk membandingkan dan membuat kesulitan kita terasa lebih ringan. Proses memahami dan memberikan arti pada penderitaan yang ada pada dasarnya dapat membuat kita merasa lebih baik. Viktor Frankl, seorang psikiatri yang selamat dari kamp konsentrasi Jerman menjelaskan dalam bukunya bahwa teman-temannya yang bisa selamat dari keadaan tersebut adalah yang mampu memberikan arti pada peristiwa tersebut.

Bagaimana sih memberi arti? Orang sedang susah, sedang riweh diminta memahami. Banyak ahli psikologi yang berusaha menjelaskan hal tersebut. Ada fenomena yang disebut post-traumatic growth atau pertumbuhan/perkembangan setelah pengalaman traumatis atau tidak enak. Individu pada dasarnya akan mengalami  hal yang positif setelah krisis atau suatu kejadian tidak enak berlalu.

Orang tersebut juga secara aktif akan berusaha bertahan dan mencari hal yang bisa membuat dia bertahan. Hal ini memang sangat bergantung pada karakteristik individu. Ada yang dengan cepat mencari cara bertahan, atau malah larut dalam kesedihan.

Tapi tahukah Anda bahwa kejadian tidak menyenangkan membuat kita merasa lemah dan merasa tidak menentu, tetapi banyak orang yang membangun kekuatan dari perasaan tersebut. Ada insting untuk bertahan dari diri setiap orang. Setiap kali kita mampu melewati hari demi hari karena berbagai peristiwa pada dasarnya kita menjadi semakin kuat.

Hal lain yang dapat kita pelajari adalah dengan adanya penderitaan bersama, dapat membuat kita semakin dekat dengan orang lain dan mampu membangun empati. Saat peristiwa lock down di Wuhan, banyak pihak mau membantu termasuk Jepang yang pada dasarnya kurang akur dengan Cina. Ada seorang penyair yang kemudian membuat kata-kata yang indah “Tanah berbeda namun memiliki langit yang sama”.

Pada saat bencana kita diingatkan bahwa kita semua adalah saudara, sesama manusia; berada di langit yang sama. Kata-kata ini mengingatkan kita untuk semakin merasakan penderitaan orang lain dan saling membantu.  Pandemi ini begitu menakutkan, namu mengajarkan bahwa kita bisa selamat bila kita mau bekerja sama. Saling berempati, memberikan bantuan bagi yang membutuhkan, memberikan dukungan bagi yang sedang merasa lelah.

Pandemi covid-19 ini juga mengajarkan kita untuk menghargai kehidupan. Saat berhenti sejenak dan menghargai apa yang diberikan Tuhan pada kita. Tragedi ini juga menunjukkan sisi terbaik dan terburuk dari manusia. Ada yang menjadi egois, menimbun barang, yang penting hanya dia yang merasa enak, di sisi lain ada cinta kasih dan kepekaan terhadap sesama. Mari kita menemukan sisi terbaik diri kita dalam keadaan ini…. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Baca Juga:

Luncurkan Inisiatif EBadah, Gojek Memudahkan Aktivitas Pengguna Selama Ramadan
Bantu Pekerja Informal Terdampak Covid-19, OVO, Tokopedia, Grab Kembali Luncurkan Patungan Untuk Berbagi THR
Prudential Indonesia Berikan Perlindungan Jiwa Pada Relawan Dan Tenaga Kesehatan Di Tengah Pandemi Covid-19

Penulis:
Clara Moningka
Prodi Psikologi – Universitas Pembangunan Jaya

Leave a Reply