Membangun Karakter Anak Melalui Film Superhero

Avengers: Endgame yang dijadwalkan tayang 24 April mendatang disambut gegap gempita. Pembelian tiket online sudah dibuka sejak beberapa waktu lalu, bahkan beberapa jaringan bioskop bersiap memuat film keluaran Marvel Studio ini selama 24 jam (Warta Kota, 21 April 2019). Banyak penonton mulai dari anak hingga dewasa pun sudah berdebar-debar menunggu dengan tiket di tangan.

Foto: Dokumentasi Marvel Studio

Sudah nonton trailernya dong? https://www.youtube.com/watch?v=TcMBFSGVi1c

Adakah pengaruh menonton film superhero seperti Avengers: Endgame ini pada anak? Salah satu alasan mengapa anak mengidolakan pahlawan super menurut Jiwani, seorang psikolog perkembangan anak di Human Relations Institute, Dubai, dalam artikel online di Kumparan.com milik Sugiri (2018), adalah karena anak mampu menyalurkan energi mereka dalam tokoh-tokoh itu. Mereka dapat merasa seakan mereka menjadi pemimpin dalam dunia imajinasi mereka. Pahlawan super disukai anak-anak karena rasa kontrol dan kekuatan yang dapat ditunjukkan oleh mereka.

Sebetulnya hal ini bukanlah hal baru. Menurut Bandura dan Walters dalam Miller (2011), anak berkembang dengan cara mengamati orang lain yang sedang melakukan atau memiliki perilaku tersebut. Sosok itu bisa berupa orangtua atau kerabat dekat mereka, hal ini berlaku dari masa ke masa.

Namun, sejak memasuki era digital, di mana sudah merupakan hal yang lazim jika anak berusia tujuh tahun sudah mengerti bagaimana kerja dunia maya di gadget yang diberikan oleh orang tua mereka. Dengan gadget mereka bisa mencari komik, kartun, buku fiksional, dan sebagainya di internet.

Alhasil, karakter fiksi yang mereka jumpai di media pun dapat menjadi sosok role model bagi si anak. Seorang anak dapat memiliki perilaku yang sama dengan karakter mereka sukai, baik dari perilaku karakter ini ketika berbicara atau gaya hidup si karakter. Pada anak masa kini, dengan berkembang pesatnya industri komik pahlawan super, tidak mengejutkan bila sosok role model mereka adalah karakter fiksi dengan kekuatan super.

Dalam penelitian milik Sari, Nariyah, dan Wihayati (2019) yang membahas mengenai terbentuknya perilaku imitasi pada anak TK Al-Muhibbin karena menonton film Upin dan Ipin, mereka menyimpulkan bahwa anak-anak meniru karakter dalam film Upin dan Ipin karena gaya bahasa dalam film itu yang menurut mereka menarik, selain itu perilaku anak yang merupakan hasil tiruan dari film Upin dan Ipin.

Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa meski anak dapat mendapatkan perilaku baik dari role model fiksi mereka, mereka juga bisa saja mendapatkan perilaku yang kurang disukai oleh orangtua mereka. Ada yang positif dari menonton film superhero, namun ada pula yang negatif.

Menurut Bandura, ketika anak melihat tindakan agresif di telivisi atau layar lebar akan meningkatkan agresitivas pada diri anak. (Miller, 2011). Dalam konteks film pahlawan super, anak bisa saja belajar dari tokoh pahlawan super kalau aksi kekerasan itu diperbolehkan selama ada alasan yang pasti (Coyne et. al. 2017).

Dengan begitu, ada kemungkinan anak menjadi lebih agresif setelah menonton. Artinya orang tua atau pendamping anak harus melakukan pengawasan lebih terhadap anak-anak. Oleh karenanya batas usia yang ditetapkan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) juga penting untuk diperhatikan orang tua.

Di sisi lain, memiliki pahlawan super sebagai role model memiliki dampak baik bagi anak-anak. Dalam hasil penelitian Betzalel dan Schehtman (2017), anak-anak yang tidak memiliki orang tua dan tinggal di panti perawatan anak asuh akan merasa lebih positif dan memiliki tujuan yang lebih jelas dalam menjalankan hidup ketika mereka membaca komik atau cerita dengan unsur pahlawan super.

Anak-anak menjadi lebih termotivasi dalam mengejar mimpi mereka seperti sukses di sekolah, menjadi tentara, lancar dalam berolahraga, dan untuk mendaftarkan diri dan nantinya diterima dalam beberapa institusi akademi.

Sebagai tambahan, hasil penelitian yang sama juga menemukan bahwa anak-anak menjadi tidak terlalu mengharapkan memiliki rumah baru, untuk memiliki orang tua, dan untuk mengharapkan orang tua yang telah cerai untuk kembali rujuk. Hal ini berarti pahlawan super dapat meningkatkan efficacy atau sifat optimis anak-anak.

Dalam artikel karya Mrunal (2018), ia berpendapat kalau anak yang menyukai superheroes dapat menjadi pribadi yang gemar menolong, mengerti lebih jauh mengenai moral yang baik, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dan membuat anak merasa lebih kuat. Meski ada beberapa dampak negatif pula dari pahlawan super, dengan pengawasan orang tua yang baik, dampak negatif dapat dikurangi.

Terdapat satu penelitian yang relevan tentang hal ini. Dalam buku Heavy Metal Parents terbitan Octopus Publishing Yogyakarta, Yuka Dian Narendra dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo  mengupas para orang tua yang ketika remaja menikmati musik heavy metal yang dikenal keras dan dipersepsikan negatif. Ternyata pada saat mereka tumbuh dewasa jadi orang tua dan kini bertugas membesarkan anak, musik tersebut justru menginspirasi nilai-nilai yang mereka turunkan ke anak yakni kemandirian dan kebebasan berpendapat serta kemerdekaan membangun identitas.

Apa makna temuan ini? Inspirasi menjadi individu positif dapat datang dari mana saja, termasuk dari budaya populer, mulai dari musik hingga film.

Baca Juga: Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an

Dapat disimpulkan, superhero yang sekarang marak ada pada kehidupan anak-anak dapat memiliki banyak dampak positif pada sifat anak. Anak dapat mengamati karakteristik positif dari tokoh superhero favorit mereka dan mencoba untuk menjadi seseorang yang memiliki pengaruh positif seperti tokoh yang mereka idolakan itu.

Anak juga bisa saja memiliki ide untuk membayangkan bagaimana mereka akan terlihat jika mereka adalah seorang pahlawan super yang tangguh. Tentu saja, semua ini harus dengan pengawasan orang tua untuk menghindari dampak negatif dari para tokoh fiksi ini.

Jadi apa yang bisa dilakukan oleh orang tua saat menonton Avengers: Endgame bersama anak-anak? Manfaatkanlah kebersamaan setelah menonton untuk berdiskusi bersama anak tentang hal-hal positif yang dapat dipetik dalam film. Mari bersama jadi ‘superhero’ dalam keseharian.

Penulis

Fathia Rachma Aurelia Zahra Natadisastra dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Betzalel &Shechtman. (2017). The impact of bibliotheraphy superheroes on youth who experience parental absence.School Psychology International 2017, Vol. 38(5) 473–490. doi:10.1177/0143034317719943. Diakses pada: 16 Maret 2019 https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0143034317719943

Coyne, S. M., Stockdale, L., Linder, J. R., Nelson, D. A., Collier, K. M., Essig, L.W. (2017). Pow! Boom! Kablam! Effects of viewing superhero programs on aggressive, prosocial, and defending behaviors in preschool children. J Abnorm Child Psychol (2017) 45:1523–1535. doi:10.1007/s10802-016-0253-6. Diakses pada: 12 Maret 2019 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28070754

Miller, P. (2011). Theories of developmental psychology. New York, NY: Worth Publishers.

Mrunal. (2018, December 14). Surprising effects of superheroes on children. Parenting Firstcry. Diakses pada: 16 Maret 2019 https://parenting.firstcry.com/articles/effects-of-superheroes-on-children/

Sari, A. L., Nariyah, H., & Wihayati, W. (2019). Studi fenomenologi film animasi Upin dan Ipin di MNC TV dalam membentuk perilaku imitasi pada anak di TK Al-Muhibbin Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon. Jurnal Signal. 7 (1). Diakses pada: 11 Maret 2019 http://jurnal.unswagati.ac.id/index.php/Signal/article/view/1915/1189

Sugiri, P. (2018, September 3). Anak suka karakter superhero, baik enggak sih? Kumparan.com Diakses pada: 16 Maret 2019 https://kumparan.com/@kumparanmom/anak-suka-karakter-superhero-baik-enggak-sih-1535862428600970599

Warta Kota (2019, April 21). Tiket ‘Avengers: Endgame’ masih tersedia di bioskop. Warta Kota.com Diakses pada 21 April 2019. http://wartakota.tribunnews.com/2019/04/21/tiket-avengers-endgame-masih-tersedia-di-bioskop