Memasuki Tahun Baru dengan Merawat Harapan dan Optimisme

Tahun 2019 baru saja berakhir. Banyak peristiwa dan pengalaman yang telah kita lalui sepanjang tahun lalu, baik pengalamanyang menyenangkan maupun mengecewakan. Refleksi, evaluasi diri atau menetapkan resolusi merupakan langkah awal yang positif dalam menyambut tahun baru.

Namun, di tengah perubahan dan tantangan yang semakin cepat dan kompleks,diperlukan aspek pendukung lain agar refleksi, evaluasi atau resolusi yang kita canangkan sebelumnya dapat kita jalankan secara konsisten dan membuahkan hasil yang kita inginkan. Aspek pendukung yang penting (namun sering kita anggap remeh) yang dapat menuntun, mengarahkan dan memotivasi kita tersebut yaitu optimisme dan harapan (hope).

Mengapa Kita Harus Optimis dan Merawat Harapan?

Mari kita melihat sekeliling dan menilai dengan jujur apa yang sedang kita alami sekarang! Dunia berubah sedemikian cepatnya. Tuntutan dan tantangan bisa berasal dari mana saja. Persaingan semakin ketat. Kemampuan kita untuk mengkontrol faktor-faktor eksternal semakin terbatas, sedangkan toleransi terhadap kesalahan juga semakin menipis. Membuat perencanaan  yang baik serta menetapkan goals yang realistis dan terukur sepertinya tidak lagi cukup.

Hal ini hampir berlaku untuk berbagai konteks kehidupan mulai pekerjaan, perusahaan, pendidikan, keluarga, lingkungan sosial, dsb. Menghadapi itu semua, aspek psikologis apa yang setidaknya harus kita munculkan dan perkuat dari dalam diri sendiri? Tetap optimis dan menjaga harapan adalah salah satu jawaban untuk melangkah ke masa depan.

Baca Juga:

Orang Indonesia Paling Optimis Dalam Meraih Kesuksesan Hidup

Dalam artikel yang berjudul “Hope and Optimism”, Bailis dan Chipperfield (2012) mengidentifikasi beberapa konsekuensi positif yang akan kita peroleh bila kita mampu mengembangkan optimisme dan terus memiliki harapan.  Konsekuensi-konsekuensi tersebut antara lain:

Meningkatkan upaya dan persistensi untuk mencapai tujuan

Individu yang memiliki optimisme dan harapan tidak akan mundur dan terus berusaha secara persisten/ulet dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Seseorang yang memiliki optimisme dan harapan tinggi akan berusaha jauh lebih keras daripada orang yang lebih rendah optimisme dan harapannya, sehingga orang dengan optimisme dan harapan tinggi menunjukkan performance dan hasil yang labih baik.

Menimbulkan perasaan positif dan menurunkan perasaan negatif

Ketika seseorang mengharapkan hasil yang positif, ia cenderung memiliki mood yang baik terhadap situasi yang sedang dihadapinya, bahkan jika situasi tersebut sangat menantang. Perasaan-perasaan negatif cenderung lebih rendah dirasakan oleh orang-orang yang memiliki harapan dan optimisme. Selain itu, mereka bisa menunjukkan level frustrasi, stress dan depresi yang lebih rendah ketika menghadapi berbagai kesulitan. Lebih lanjut, perasaan positif yang dimiliki oleh orang-orang dengan optimisme dan harapan tinggi (seperti perasaan bahagia, antusias, minat) akan membuat mereka mempertahankan usaha dan gigih dalam mencapai tujuan.

Baca Juga:

Seminar Psikologi Positif bagi Siswa Sekolah

Strategi coping yang adekuat

Saat menghadapi stres dan tekanan, orang-orang yang mempunyai harapan dan optimisme akan mengembangkan cara coping masalah yang lebih efektif. Meraka akan menggandakan usaha dan mempertahankan keseimbangan emosinya ketika berada dalam situasi-situasi yang menantang dan menimbulkan stres. Selain itu mereka juga menerapkan strategi-strategi untuk mengatasi tekanan, baik strategi yang berorientasi pemecahan masalah atau melalui pendekatan yang berorientasi pengelolaan emosi.

Kondisi fisik dan psikologis yang lebih sehat

Beberapa  hasil riset terkini menunjukkan bahwa harapan dan optimisme memiliki efek yang besar pada kesehatan fisik dan psikologis yang kemudian dapat memperpanjang dan meningkatkan kualitas hidup seseorang.

Dalam artikelnya di laman Psychology Today, Polly Cambell (2019) menyatakan bahwa harapan dapat membantu kita mengelola stres dan kecemasan serta mengatasi kesulitan. Harapan berkontribusi pada kesejahteraan (well-being) dan kebahagiaan serta memotivasi kita untuk melakukan tindakan (action). Orang-orang yang penuh harapan percaya bahwa mereka dapat mempengaruhi dan membentuk tujuan mereka, bahwa upaya yang mereka lakukan dapat memiliki dampak positif.

Mereka juga cenderung membuat pilihan-pilihan yang lebih sehat (seperti mengkonsumsi makanan yang lebih baik atau berolahraga), atau melakukan hal-hal lain yang akan membantu mereka bergerak menuju apa yang mereka harapkan.

Suatu ketika Winston Churchill, seorang negarawan dan mantan Perdana Menteri Inggris yang terkenal pada masa Perang Dunia II pernah mengatakan, “Seorang pesimis melihat kesulitan dalam setiap kesempatan; sedangkan orang optimis melihat peluang dalam setiap kesulitan.”Harapan dan optimisme memang menyiratkan bahwa ada kemungkinan masa depan yang lebih baik ketika muncul sesuatu hal yang buruk dan sulit di hadapan kita. Kedua aspek ini akan membuat kita terus berjalan untuk meraih tujuan, tidak mudah menyerah ketika menemui hambatan dan berpikir lebih positif terhadap masa depan.

Penulis:

Supriyanto, S.Psi. M.Si – Staf Pengajar di Prodi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya – Bintaro

Referensi:

Bailis, D. S. dan Chipperfield , J.G. (2012). Hope and optimism. Dalam Ramachandran, V.S. (Ed.), Encyclopedia of Human Behavior (Edisi 2), halaman 342-349. Oxford: Elsevier.

Cambell, P. (2019). Why Hope Matters. Diunduh dari: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/imperfect-spirituality/201902/why-hope-matters

Mahasneh, A.M., Al-Zoubi, Z.H. dan Batayeneh, O.T. (2013). The relationship between optimism-pessimism and personality traitsamong students in the Hashemite University. International Education Studies; Vol. 6, No. 8; halaman 71 – 82. https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1068632.pdf

Peterson, C., & Seligman, M. E. P. (2004). Character Strengths and Virtues: A Handbook and Classification. New York: OxfordUniversity Press.http://ldysinger.stjohnsem.edu/%40books1/Peterson_Character_Strengths/character-strengths-and-virtues.pdf

Scheier, M.F.,  Carver, C.S. dan Bridges, M.W. (1994). Distinguishing optimism and neuroticism (and trait anxiety, self-mastery, and self-esteem): A reevaluation of the life orientation test. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 67, No. 6, halaman 1063 – 1078.https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7815302

Scioli, A. (1997). A Prospective study of hope, optimism, and health. Psychological Reports, Vol. 81, Halaman 723-733.https://www.researchgate.net/publication/13830221_A_prospective_study_of_hope_optimism_and_health

Leave a Reply