I Will Stay: Bagaimana Mempertahankan Karyawan

Pemberitaan mengenai virus Corona menyebabkan orang menjadi lebih siaga; bersiap-siap menghadapi situasi terburuk terinveksi virus Corona. Berbagai cara dilakukan, termasuk  menempatkan thermal scanner di berbagai tempat. Pada dasarnya apa yang dilakukan oleh pemerintah dari berbagai belahan dunia tersebut adalah untuk mencegah virus tersebut merebak lebih luas dan menjangkiti orang lain. Lalu apa hubungan virus Corona dengan mempertahankan karyawan? Pada dasarnya mempertahankan karyawan penting bagi suatu industri atau organisasi. Kalau untuk virus Corona thermal scanning dilakukan, maka organisasi perlu melakukan organizational scanning terhadap potensi karyawan untuk bertahan di perusahaan.

Beberapa organisasi menganggap bahwa karyawan bukanlah aset atau sesuatu yang penting untuk dipertahankan. Kemajuan teknologi pada dasarnya memang membuat manusia dapat “tergantikan” perannya, namun di sisi lain ada beberapa kualitas dalam diri manusia yang tidak dapat digantikan teknologi, seperti pemahaman, empati, ide kreatif atau opini yang faktual yang dapat membuat organisasi lebih berkembang. Karyawan pada dasarnya adalah aset yang berguna bagi organisasi. Karyawan bahkan dapat menjadi sumber keunggulan organisasi dibanding organisasi lain/pesaing.

Para ahli atau ilmuwan psikologi sendiri sudah melakukan studi mengenai sikap kerja yang merupakan “screening” terhadap kepuasan dan komitmen di organisasi.  Pada dasarnya individu yang cenderung merasa puas akan memiliki sikap kerja yang cenderung baik, bahkan cenderung memiliki komitmen yang tinggi alias loyal (dikutip dari Aamodt, 2010). Kepuasan memang kompleks dan cenderung subjektif, ketika satu individu puas terhadap satu hal, bisa saja ia tidak puas terhadap hal lain. Biasanya orang akan mengaitkan kepuasan dan komitmen dengan uang atau gaji dan fasilitas kerja, namun kurang memberikan perhatian pada situasi kerja atau budaya dan kebijakan perusahaan.

Seberapa penting budaya dan kebijakan untuk membuat karyawan bertahan? Pada dasarnya organisasi merupakan suatu lingkungan yang jelas akan memberikan pengaruh pada karyawannya. Ada kalanya bila ada karyawan yang keluar, kita kerap mengatakan bahwa karyawan tersebut memang tidak cocok bekerja di perusahaan tersebut. Pendapat tersebut akan menjadi perlu dipertanyakan jika ternyata yang keluar dari perusahaan tersebut cukup banyak bahkan sampai individu yang dianggap berkualitas baik.

Jika hal tersebut terjadi, ada baiknya screening dilakukan dengan lebih ketat. Mengapa hal tersebut terjadi dan ada apa dengan organisasi kita saat ini? Apakah memang orang tersebut “pantas” keluar? Bisa jadi… dan bila analisis tersebut tepat, membiarkan individu yang bersangkutan untuk keluar dari organisasi kemungkinan akan menjadi keputusan yang tepat. Kemungkinan lain adalah bisa saja organisasi kehilangan “asset” pentingnya. Kalau begitu, bagaimana screening seharusnya dilakukan?

Screening bisa dilakukan oleh pekerja dan organisasi atau perusahaan. Sebagai pekerja atau karyawan, kita memang seharusnya introspeksi/mengevaluasi mengenai kinerja kita. Pada dasarnya tidak ada pekerjaan atau lingkungan kerja yang sempurna. Apakah kita juga sudah berusaha mengembangkan organisasi atau perusahaan kita, bahkan apakah kita cukup mencintai pekerjaan atau profesi kita?

Di sisi lain, perusahaan juga harus menjadi agen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dipersepsi secara adil dan dapat menjadi tempat karyawan untuk tumbuh dan berkembang. Screening bisa didapat dari Focus Group Discussion (FGD), dari banyaknya keluhan karyawan, ataupun critical events seperti peristiwa-peristiwa yang terjadi, misalnya: demonstrasi, pengunduran diri dan lain-lain. Dengan menambah dan meningkatkan kepekaan mencermati fenomena yang ada, maka kita sudah melakukan upaya deteksi dini atas potensi keluar/perginya karyawan dari organisasi yang kita miliki. Semoga artikel ini bisa menjadi perenungan bagi pekerja dan pihak pemberi kerja.

Penulis:

Clara Moningka, Prodi Psikologi dan Teguh Prasetio, Prodi Manajemen
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi:

Aamodt, M.G. 2010. Industrial/Organizational Psychology: An Applied Approach. Belmont, BA: Wadsworth. https://www.academia.edu/34373727/Industrial_Organizational_Psychology_Michael_G._Aamodt_6th_Edition

Leave a Reply