Generasi Milenial, Hindari Belanja Kompulsif (Dalam Rangka Hari Konsumen Nasional 20 April)

Pada momen pemilu kemarin terdapat pesta diskon yang  menanti para pemilih setelah pemungutan suara Pemilu Legislatif dan Presiden 2019. Sebanyak 250 brand menyiapkan potongan harga sebesar 10%—50%. Pesta diskon ini bertujuan untuk meningkatkan minat masyarakat menggunakan hak suaranya. Dampaknya pusat perbelanjaan pun penuh setelah jam makan siang.

Memang saat ini berbelanja tak lagi sebatas membeli kebutuhan pokok sehari-hari. Belanja dipengaruhi oleh budaya yang berkembang di masyarakat, baik yang baik maupun yang buruk. Nilai budaya yang mengubah perilaku belanja adalah konsumerisme.

Pengamat digital lifestyle Ben Soebiakto memotret budaya digital dan penggunaan internet sebagai hal yang berpengaruh cukup signifikan pada masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial (CNN Indonesia, 2018). Data menunjukan bahwa dari 262 juta jiwa masyarakat Indonesia, 143,26 juta jiwa di antaranya pengguna internet.. Sekitar 50% dari pengguna internet tersebut termasuk generasi milenial

Generasi milenial adalah mereka yang berada pada usia produktif, saat ini berumur 15-37 tahun, serta lahir antara tahun 1981-2003.Menurut Sweeney, karakteristik generasi milenial adalah cenderung lebih menyukai cara belajar yang eksploratif (learning by doing),  bertindak secara fleksibel, memiliki banyak preferensi pribadi, cenderung kurang sabar, berorientasi hasil, dapat mengerjakan beberapa hal secara bersamaan (multitasking), menyukai cara berkomunikasi yang nomadik, menyukai kerja kolaboratif, mengejar keseimbangan hidup, cenderung kurang suka membaca, dan yang terakhir adalah mudah beradaptasi dengan teknologi.

Tak heran, teknologi dan internet menjadi makanan sehari-hari bagi generasi milenial. Kesempatan ini disambar berbagai perusahaan e-commerce yangmempromosi produk maupun jasa lewat internet –yang juga menjadi salah satu faktor penyebab para generasi milenial berbelanja online. Data menunjukan hampir 80% konsumen belanja online terdiri dari generasi milenial, 65% di antaranya perempuan.

Alasan mereka adalah belanja online menghemat waktu, dapat berbelanja dimana saja dan kapan saja, banyak penawaran dan potongan harga yang menarik, terpengaruh konten media sosial dan terakhir ikut teman

Membaca potret perilaku belanja generasi milenial di atas, kita perlu waspada pada apa yang disebut sebagai belanja kompulsif. Hal ini tercermin dari obsesi berbelanja dengan melakukan pembelian terus-menerus barang-barang yang sesungguhnya tidak begitu diperlukan melebihi kebutuhan dan sumber daya yang dimiliki.

Schiffman dan Kanuk (2010) menjelaskan perilaku konsumtif kompulsif sebagai keinginan yang kuat, cenderung kecanduan, untuk mengkonsumsi barang, dimana individu yang bersangkutan mengalami kesulitan untuk mengendalikan diri serta berpeluang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Agar generasi milenial tidak berperilaku konsumtif kompulsif, terdapat beberapa cara untuk mencegah. Hal-hal tersebut antara lain adalah menentukan batas pengeluaran, membuat daftar belanja untuk menghindari pembelian barang yang tidak penting, langsung menyisihkan uang untuk ditabung, hindari membuka situs belanja online secara berlebihan atau terlalu lama, dan menghitung pengeluaran dengan cermat.

Penulis:
Gabrialle Angela Neve dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Amalia, E. I. (2018, Februari 19). Pengguna internet Indonesia naik, kebanyakan milenial. Diakses dari http://teknologi.metrotvnews.com/news-teknologi/yNLQnlWb-pengguna-internet-indonesia-naik-kebanyakan-milenial

CNN Indonesia. (2018, April 19). Alasan generasi milenial lebih konsumtif. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180418215055-282-291845/alasan-generasi-milenial-lebih-konsumtif

Gilang, G. (2018, Januari 12). Milenials waspada kecanduan online shopping, belanja online bisa bikin kecanduan, ini penjelasan psikolog. Diakses dari https://www.brilio.net/creator/-millenials-waspada-kecanduan-online-shopping-121952.html

Islami, H. R., & Satwika, Y. W. (2018). Hubungan antara harga diri dengan perilaku pembelian kompulsif pada mahasiswi psikologi universitas negeri Surabaya. Jurnal Psikologi Pendidikan, 5(1). 1-6.

Palupi, E. P. D. (2018). Mengurangi perilaku konsumtif dengan menggunakan Terapi Kognitif Perilaku (CBT) dengan mengusung nilai budi pekerti budaya Jawa. Prosiding SNBK (Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling), 2(1). 254-159. Diakses dari http://prosiding.unipma.ac.id/index.php/SNBK/index

Schiffman, L. G., & Kanuk. L. L. (2010). Consumer behavior. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Setiawan, S. A., & Puspitasari, N. (2018). Preferensi struktur organisasi bagi generasi millenial. Jurnal Borneo Administrator, 14(2). 101-118. Doi: 10.24258/jba.v14i2.336

Tashandra, N., & Anna, L. K. (2018, Maret 22). 80 Persen Konsumen Belanja Online Orang Muda dan Wanita. Diakses dari https://lifestyle.kompas.com/read/2018/03/22/155001820/80-persen-konsumen-belanja-online-orang-muda-dan-wanita

Wulandari, K. (2018). Pengaruh kecanduan internet dan materialisme terhadap perilaku pembelian kompulsif online. E-jurnal Manajemen Universitas Udayana, 7(2). 1021-1049. Doi: https://doi.org/10.24843/EJMUNUD.2018.v7.i02.p17