Apakah Anda Generasi Milenial Hypebeast? (Dalam Rangka Hari Konsumen Nasional 20 April)

Pernahkah Anda mendengar kata hypebeast? Hypebeast diartikan sebagai slang bagi mereka yang terobsesi (beast) dengan segala sesuatu yang kekininan (hype), khususnya untuk urusan penampilan (fashion).

Hypebeast sebenarnya dikaitkan dengan tren berpakaian yang mengenakan brand-brand ternama dan harus original seperti merek streetwear yang digemari remaja di urutan teratas yaitu Supreme yang didirikan pada tahun 1994 oleh James Jebbia dengan toko pertamanya di Lafayette Street, New York. Lalu, A Bathing Ape atau lebih dikenal dengan singkatannya BAPE yaitu brand asal Jepang yang didirikan oleh Nigo pada tahun 1993 dan pertama kali diluncurkan di Harajuku.

Brand ini juga menjadi buruan kaum milenial karena desain yang sederhana namun unik, Selain itu, masih banyak merek streetwear lain yang identik dengan hypbeast seperti Off-White, Stone Island dan Anti Social Social Club (ASSC).

Hypebeast yang sangat digemari oleh milenial atau anak muda sehingga menyebabkan impulse buying (pembelian impulsif). Padahal mengikuti tren hypebeast bisa membuat kantong merana karena brand yang tergolong hypebeast harganya jutaan hingga miliaran!

Hal ini karena berbelanja dulunya hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saat ini belanja menjadi gaya hidup, sehingga belanja adalah untuk menunjukkan status sosial seseorang.

Tak hanya itu, godaan dari mall maupun toko online yang menjamur dan terus membombardir menciptakan stimulus lingkungan yang membangkitkan hasrat. Pembelian yang terjadi ketika konsumen melakukan pembelian dengan sedikit pertimbangan atau bahkan tidak ada sama sekali. Keiningin mendadak untuk memiliki atau merasa membutuhkan benda tersebut dikenal dengan sebutan impulse buying. Karakteristik belanja impulsif adalah yaitu tidak direncanakan, pembelian berasal dari manipulasi lingkungan toko dan pembelian diputuskan secara on the spot.

Baca Juga: Permudah Belanja Bulanan, Ini 4 Keuntungan Belanja Online

Pembelian impulsif ini ditandai dengan hilangnya pengendalian diri sehingga terjadinya pembelian yang tidak seharusnya dilakukan. Terdapat dua dimensi pembelian impulse buying yaitu kognitif dan afektif.Dimensi kognitif yang dimaksudkan adalah kekurangan pada unsur pertimbangan dan unsur perencanaan dalam pembelian yang dilakukan. Pembelian yang dilakukan mungkin tidak direncanakan atau dipertimbangkan dengan matang untuk berbagai macam alasan. Misalnya ketika pembayaran tak terencana, hal tersebut dilakukan dalam waktu yang panjang atau dalam kasus pengulangan pembayaran atau kebiasaan pembayaran.

Sedangkan dimensi afektif meliputi dorongan emosional yang secara serentak meliputi perasaan senang dan gembira setelah membeli tanpa perencanaan lebih lanjut menambahkan. Belanja dilakukan secara tiba-tiba akibat munculnya perasaan atau hasrat untuk melakukan pembelian berdasarkan keinginan hati. Dorongan emosi tersebut dapat bersifat berkali-kali atau kompulsif alias tidak terkontrol. Perasaan yang muncul antara lain kecewadan penyesalan karena telah membelanjakan uang hanya untuk memenuhi keinginannya.

Baca Juga: 5 Kategori Belanja Terpopuler Di Asia Tenggara Dalam 6 Bulan Pertama Di Tahun 2018

Hal inilah yang terjadi pada gaya hypebeast yang sedang marak. Banyak remaja berlomba untuk mengoleksi barang-barang yang populer ini untuk menunjukkan status sosial mereka. Pembelian terkadang dilakukan secara tiba-tiba dan dengan sedikit pertimbangan. Karakteristik yang menunjukkan bahwa suatu pembelian suatu pembelian dapat dinyatakan sebagai impulse buying.

Ternyata hal ini kerap terjadi pada generasi milenial. Generasi milenial kerap dinilai sebagai generasi yang kreatif dan berani mengambil resiko. Mereka memiliki banyak ide-ide menarik dan memiliki karakter yang sangat produktif. Namun di sisi lain, mereka juga tergolong impulsif. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan pemasaran yang meliputi tampilan dan penawaran produk, situasional yang meliputi ketersediaan waktu dan uang, personal yang meliputi mood, identitas diri dan kepribadian.

Baca Juga: 6 Tips Belanja Online Secara Hemat dan Cermat Selama Ramadan

Mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah informasi bagi Anda. Di satu sisi, Anda boleh saja mengikuti tren hypebeast agar tampil fashionable. Namun di sisi lain ada baiknya Anda memahami perilaku tersebut dan dampaknya yang mungkin terjadi.

PENULIS:

Melia Ikkiu dan Gita Soerjoatmodjo
Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

DAFTAR PUSTAKA

Anin, A., Rasimin, B. S., Atamimi, N. (2008). Hubungan Self Monitoring Dengan Impulsive Buying Terhadap Produk Fashion Pada Remaja. Jurnal Psikologi Volume 35. Diambil dari https://jurnal.ugm.ac.id/jpsi/article/view/7951/6149

Hendrietta, P. (2012). Impulsive Buying Pada Dewasa Awal Di Yogyakata. Jurnal Psikologi. Diambil dari https://www.neliti.com/publications/139366/impulsivebuying-pada-dewasa-awal-di-yogyakarta

Herabadi, A.G & Verplanken, B. (2003). Individual Differences in Impulse Buying Tendency: Feeling and No Thinking. EuropeanJournal of Personality S71-S83. Diambil dari : https://www.researchgate.net/publication/227911258

Septila, R., & Aprilia, E. D. (2017). Impulse buying pada mahasiswa di Banda Aceh.

Psikoislamedia Jurnal Psikologi, 2(2), 170-183. Diambil dari  http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Psikoislam/article/view/2449

Tambunan, R. (2001). Remaja dan perilaku impulse buying. Diambil dari http://epsikologi.com/remaja/191101.htm.

(2019). Berapa harga outfit lo? Part 7|Sneakerbless 2019.(Video File). Diakses pada 14 April 2019, dari https://www.youtube.com/watch?v=PvUvzrI43OE