Antara Karir dan Rumah Tangga, Mana yang Harus Dipilih?

Pertanyaan ini sering muncul dalam benak kelompok perempuan urban milenial, baik pada perempuan yang sudah menikah, baru menikah, atau akan memutuskan menikah. Tidak jarang mereka dipusingkan karena merasa ‘terbebani’ untuk memilih antara berkarir dan menapaki jenjang karir yang lebih tinggi, atau harus berkutat dengan urusan rumah tangga.

Banyak yang akhirnya memutuskan untuk mencoba menyeimbangkan keduanya, dengan konsekuensi bahwa jenjang karir tidak dapat terlampau tinggi karena masih ada tanggungjawab domestik. Tentunya hal ini juga bukan tanpa konsekuensi lainnya, yaitu kecenderungan perempuan untuk mengalami gangguan psikologis karena memiliki beban kerja berlebih.

Perempuan yang memiliki beban ganda akan mempersepsikan stress lebih besar dan memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah jika dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan pun memiliki kecenderungan untuk mengalami permasalahan kesehatan baik secara medis maupun psikologis dibandingkan dengan laki-laki.

Rasa-rasanya permasalahan ini masih sangat relevan untuk dibahas karena saat ini tingkat partisipasi perempuan di ranah pekerjaan semakin meningkat. Tentunya ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar tingkat partisipasi perempuan di ranah pekerjaan tidak menurun dan tingkat permasalahan psikologis yang dialami perempuan juga tidak semakin meningkat.

Bangun komitmen dengan semua anggota keluarga

Komitmen adalah kunci. Jika Anda ingin rumah dan seluruh anggota keluarga menjadi bahagia, hal ini-lah yang pertama-tama harus dibangun dan disepakati oleh semua anggota keluarga. Bagaimana segala sesuatunya dibagi, dikerjakan, dan dilakukan secara adil agar tidak ada beban berlebih di salah satu anggota keluarga. Komitmen ini juga penting untuk dibangun ketika Anda memiliki rencana untuk menikah. Pastikan bahwa Anda dan pasangan sudah siap dengan segala pembagian kerja rumah tangga dan karir yang akan ditekuni kelak.

Baca Juga:

Semua Berawal dari Rumah

Komunikasi efektif dengan anggota keluarga di rumah

Salah satu hal yang menjadi kunci adalah mengkomunikasikan segala sesuatunya dengan pasangan atau anggota keluarga di rumah, termasuk pembagian beban kerja yang lebih adil dan seimbang dalam satu rumah. Komunikasi ini juga penting dilakukan untuk menurunkan konflik yang dapat muncul karena adanya ekspektasi berlebih dari anggota keluarg, terutama ekspektasi untuk melakukan satu jenis pekerjaan tertentu. Bagi Anda yang belum berkeluarga, komunikasi ini juga bisa dilakukan dengan calon pasangan serta menentukan kesepakatan mengenai pembagian kerja rumah tangga yang akan dilakukan kelak.

Tidak perlu malu ketika laki-laki turun ke dapur

Masih ada anggapan bahwa laki-laki tidak akan boleh turun ke dapur apalagi melakukan pekerjaan rumah tangga. Padahal kenyataannya, pekerjaan rumah tangga bisa dan boleh dilakukan oleh laki-laki. Tentunya jika dalam sebuah rumah tangga, pekerjaan dilakukan secara bersama-sama dan bergantian tanpa melihat jenis kelamin akan banyak manfaatnya. Tidak hanya perempuan, laki-laki juga akan merasakan manfaatnya. Jadi tidak perlu malu jika anggota keluarga Anda yang laki-laki memutuskan untuk terlibat dalam pekerjaan rumah tangga.

Libatkan anak-anak dan tidak membedakan pekerjaan mereka

Keterlibatan anak-anak dalam melakukan pekerjaan rumah tangga juga menjadi salah satu cara agar beban kerja perempuan di rumah tidak menjadi berat. Anak-anak juga pada akhirnya belajar bagaimana menjadi mandiri dan bertanggungjawab. Mereka akan merasa kompeten dan berlatih bagaimana cara berkomunikasi serta bernegosiasi dengan orang lain. Tentunya pembagian kerja dengan anak-anak juga disesuaikan dengan usia dan kemampuannya.

Dari keempat cara tersebut, bisa dilihat bahwa pada dasarnya kolaborasi dari berbagai pihak memegang peranan penting agar kondisi psikologis perempuan tetap terjaga. Kolaborasi antara laki-laki, perempuan, anak-anak, dan masyarakat sekitar tentunya tidak hanya akan bermanfaat bagi perempuan saja tetapi juga semua pihak yang ikut terlibat didalamnya. Jadi, sudah menentukan akan memilih karir atau rumah tangga? Apapun pilihannya, Anda tetap hebat!

Penulis:

Jane L. Pietra
Staf Pengajar Program Studi Psikologi
Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Conley, Zina. (2015). Communication and Family Roles and Type. https://prezi.com/2rxkalbj8p6w/chapter-7-communication-and-family-roles-and-types/

Klein, Wendy & Graesch, Anthony & Izquierdo, Carolina. (2009). Children and Chores: A Mixed‐Methods Study of Children’s Household Work in Los Angeles Families. Anthropology of Work Review. 30. 98 – 109. 10.1111/j.1548-1417.2009.01030.x.https://www.researchgate.net/publication/227690648_Children_and_Chores_A_Mixed-Methods_Study_of_Children’s_Household_Work_in_Los_Angeles_Families

Nilsen, W., Skipstein, A., Østby, K. A., & Mykletun, A. (2017). Examination of the double burden hypothesis-a systematic review of work-family conflict and sickness absence. European journal of public health27(3), 465–471. doi:10.1093/eurpub/ckx054

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28486653

Sumra MK, Schillaci MA (2015) Stress and the Multiple-Role Woman: Taking a Closer Look at the “Superwoman”. PLoS ONE 10(3): e0120952. doi:10.1371/journal.pone.0120952

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25816317

Leave a Reply