Kalau membaca judul di atas pasti banyak di antara pembaca berpikir kesempatan apakah yang dimaksud. Artikel ini ditulis sebagai keprihatinan terhadap perilaku masyarakat menghadapi pandemi corona ini. Pada dasarnya setiap masalah atau fenomena sosial memang menimbulkan perubahan perilaku baik individu maupun masyarakat yang mengalami. Fenomena pandemi virus Corona ini juga jelas  mempengaruhi perilaku manusia. Mulai dari perilaku cemas, panik, egois bahkan perilaku belanja. Perilaku manusia memang dapat dijelaskan dengan teori stimulus-respon, di mana bila ada stimulus atau rangsangan dari luar dirinya, ia akan berespon. Namun tidak sekedar berespon, sebenarnya kita sebagai manusia juga diberi akal budi dan hikmat untuk memikirkan, menimbang, dan memilih respon yang paling tepat bagi kita. Mirisnya terkadang respon kita tidak menggambarkan kebijakan kita sebagai manusia.

Lho, kok begitu? Beberapa waktu yang lalu banyak pemberitaan berkaitan dengan penimbunan masker dan hand sanitizer. Bukannya untuk dibagikan kepada yang membutuhkan, malah beberapa oknum menjual berkali- kali lipat. Ah..ada corona ada keseempatan..kesempatan mencari untung.. Dalam bencana ini heran yang muncul adalah perilaku serakah dan bukan empati. Padahal bila orang di sekitar kita juga sakit, kita jelas menjadi renta.

Perilaku lain yang muncul adalah perilaku berprasangka. Kalau ada orang berwajah keturunan Tionghoa, ada yang menjadi takut dan menjauh. Rekan saya yang baru pulang dari luar negeri menjadi geram lantaran, setelah pulang ia dijauhi karena takut kena corona. Perilaku prasangka ini malah sudah muncul sejak Wuhan menjadi pusat pandemi corona. Semua orang mengasosiasikan budaya dan tradisi di sana sebagai penyebab. Bahkan tidak jarang juga malah menyalahkan dengan marah.

Di supermarket orang juga berbondong- bondong memborong berbagai barang dengan dalih takut “lockdown”. Kesempatan ini dipakai untuk berbelanja dan menimbun persediaan. Bahkan reaksi yang paling baru adalah banyak yang mempergunakan kondisi work from home dan belajar di rumah untuk tamasya. Lagi-lagi pandemik corona memberikan manusia kesempatan untuk liburan. Apakah salah apa yang mereka perbuat? Pada dasarnya apa yang mereka perbuat tidak sepenuhnya salah. Ada stimulus.. maka ada respon. Respon yang ada memang sangat bergantung pada banyak hal. Bisa pada tingkat pendidikan, bisa jadi pengalaman, atau memang rasa kurang peduli. Bisa jadi memang karena tidak terlalu memikirkan konsekwensi yang ada.

Moningka (2020) menjelaskan bahwa ada peristiwa yang memang sulit dipantau, seperti adanya penyebaran virus. Peristiwa ini memang sulit dikontrol dan sulit diprediksi. Terlebih banyak orang yang menganggap bahwa corona hampir sama dengan flu dan dengan daya tahan yang kuat bisa sembuh dalam hitungan hari. Namun dalam minggu ini penyebarannya di Indonesia cukup cepat dan mengkhawatirkan. Rasa tidak aman dan tidak nyaman membuat orang berperilaku yang membuat mereka merasa lebih baik atau aman termasuk perilaku membeli, memusuhi, bahkan ada pula perilaku acuh. Perilaku yang dimunculkan adalah tanda bahwa manusia berusaha mengontrol keadaan.

Manusia pada dasarnya selalu berusaha mencari rasa nyaman, aman – mencapai keseimbangan di dunia yang dianggap memiliki berbagai ancaman. Perilaku yang kita tunjukkan pada dasarnya adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan. Jadi tidak heran ada perilaku memusuhi, berprasangka, menjauhi, bahkan perilaku membeli seperti panic buying. Orang bahkan bersedia membayar begitu banyak untuk sebotol hand sanitizer atau masker. Di sisi lain, untuk mengurangi kecemasan orang juga “seakan-akan acuh” dan menganggap hal ini tidak penting untuk mengurangi rasa cemas. Ketidaknyamanan ini pada dasarnya memang memungkinkan adanya perilaku baru atau gaya hidup baru. Orang bisa saja menjauh atau bisa saja hidup lebih sehat. Lebih serng mencuci tangan, atau menjadi lebih bersih, bahkan mengkonsumsi vitamin, sayur dan buah dengan lebih rutin. Perubahan perilaku ini bisa saja bertahan, karena adanya trauma, atau perasaan tidak menyenangkan saat pandemi berlangsung.

Pada kondisi ini ada baiknya kita sebagai Warga Negara Indonesia dan juga bagian dari warga dunia mulai peka terhadap keadaan. Mulai tanggap terhadap situasi. Situasi saat ini memang tidak menyenangkan. Bahkan mungkin membuat cemas, namun ada baiknya kita berempati terhadap sesama dan membantu mencegah proses penularan lebih lanjut. Jangan membuat panik atau berbelanja berlebihan. Jangan juga menyebar kebencian dan hoax. Jangan kelewat berprasangka pada etnis tertentu atau pada individu yang baru kembali dari luar negeri.  Sementara gunakan waktu yang diberikan untuk bekerja dari rumah dengan sebaik-baiknya, belajar dengan baik dan menjaga keluarga kita.

Berespon boleh saja, namun kali ini gunakan kesempatan untuk saling membantu dan menjaga. Jadikan momen pandemi ini menjadi momen perubahan perilaku ke arah positif. Selamat mencoba!

 

Penulis:

Clara Moningka

Prodi Psikologi

Universitas Pembangunan Jaya

 

Referensi:

Moningka, C. (2020). Serba panik karena corona. Buletin Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara. Diunduh dari http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/564-serba-panik-karena-corona-perubahan-perilaku-belanja

Leave a Reply