Wila Kertia, Layanan Autisme dan Gangguan Perkembangan yang Berlokasi di Bintaro

“From nothing to be something. From disability to be ability”, itulah harapan Dewi Semarabhawa pendiri Wila Kertia yang merupakan salah satu pusat layanan autisme dan gangguan perkembangan anak yang berlokasi di Bintaro.

Didirikan tahun 2011 pusat layanan ini  menggunakan pendekatan floor time, ABA, sensory integrasi, terapi perilaku, terapi wicara dan terapi okupasi dengan mengacu pada profil unik setiap anak untuk  mendukung perkembangan kognisi motorik, emosi dan sosial. Wila Kertia dapat menerima anak didik dengan rentang usia 2-17 tahun. Semakin muda anak tersebut dilatih, semakin mudah bagi pusat layanan autisme ini memberikan terapinya.

Saat ini ada 35 anak yang ditangani oleh Wila Kertia. Para pengajar di sana ada 6 orang. Di antaranya adalah Mbak Iin yang merupakan lulusan D3 jurusan Psikoterapi UKI dan Mas Budi, lulusan UPN Jakarta. Adalah tugas bagi pengajar Wila Kertia untuk menemukan bakat dari masing-masing anak. Budi menjelaskan bahwa meskipun anak didik tersebut merupakan anak berkebutuhan khusus, Tuhan tetap mengaruniai setiap individu dengan bakat masing-masing. Sebagai contoh, ada anak didik di Wila Kertia yang pintar bernyanyi dan pintar bermain alat musik.

Menurut Dewi Semarabhawa, saat ini kita patut bersyukur karena sudah ada beberapa sekolah formal di Bintaro dan BSD yang mau menerima anak berkebutuhan khusus (ABK). “Justru satu hal yang memprihatinkan bagi kami adalah sekolah negeri di Jakarta yang sekarang cenderung tidak menerima ABK, “ ujar Dewi.

Selanjutnya Dewi Semarabhawa  menjelaskan beberapa terapi yang biasa dilakukan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK):

Pendekatan Floor Time

Floor-time diperkenalkan oleh Stanley I. Greenspan dan Serena Wieder sebagai pendekatan interaktif yang berlandaskan kekuatan relasi dan struktur keluarga; dan mempergunakan relasi yang sistematik untuk membantu anak melewati tahapan perkembangan emosi. Anak-anak dengan kebutuhan khusus kadang-kadang meloncati tahap tersebut sehingga mengalami kesulitan untuk bisa mencapai tahap berikutnya. Bila terjadi demikian, floor-time akan mengajak anak kembali ke tahap perkembangan yang terloncati lalu maju perlahan-lahan.

Pendekatan ABA

Metode ABA banyak dipakai untuk menangani anak-anak autistik dikarenakan metode ini memiliki beberapa kelebihan yaitu : terstruktur (teknik mengajar yang jelas), terarah (panduan program yang dapat dijadikan acuan), terukur (keberhasilan / kegagalan dapat diketahui dengan pasti).

Adanya kejelasan dari metode ABA tersebut di atas, metode ini sekarang banyak dipakai sebagai intervensi dini dalam penanganan perilaku untuk anak-anak autistik di Indonesia.

Sensory Integrasi

Terapi Sensori Integrasi (“SI”) sebagai salah satu bentuk terapi okupasi dan treatment pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang juga seringkali digunakan sebagai cara untuk melakukan upaya perbaikan, baik untuk perbaikan gangguan perkembangan atau tumbuh kembang atau gangguan belajar, gangguan interaksi sosial, maupun perilaku lainnya. Sensori Integrasi merupakan suatu proses mengenal, mengubah, membedakan sensasi dari sistem sensori untuk menghasilkan suatu respon berupa “Perilaku Adaptif Bertujuan”.

Terapi Wicara & Terapi Okupasi

Walau sampai saat ini belum ada metode terapi yang 100% dapat menyembuhkan autism, anak-anak dengan autism spectrum disorder (ASD) atau anak autis seringkali dirujuk kepada terapis wicara. Seorang speech-language pathologist (SLP) dapat mengevaluasi anak untuk menentukan kemampuan komukasi dan interaksi sosialnya. Metode terapi yang digunakan bervariasi tergantung karakteristik anak dan tipe ASD-nya. Sebagai contoh, anak dengan Asperger’s syndrome dan anak dengan low-functioning autism.

Terapi okupasi dan wicara mutlak penting bagi anak-anak autis, karena sebagian besar dari mereka mengalami masalah dalam koordinasi motorik dan berkomunikasi.

Terapi okupasi bertujuan  agar anak menguasai keterampilan motorik halus dan motorik kasar dengan baik. Keterampilan motorik halus adalah kemampuan melakukan sesuatu dengan otot-otot kecil pada tangan, misalnya menggenggam dan menggunting.

Sedangkan keterampilan motorik kasar merupakan gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, misalnya berlari, melompat dan sebagainya. Terapi okupasi ini hanya bisa dilakukan jika anak sudah tenang dan mendapat terapi perilaku terlebih dahulu.

Jam belajar

Di Wila Kertia siswa didik belajar dari hari Senin hingga Jumat, pukul 8 pagi hingga 4 sore. Jam belajar tersebut diisi dengan aneka kegiatan seperti bersosialisasi/ berinteraksi dengan teman, berlatih life skill/bantu diri yang bertujuan agar anak-anak menjadi mandiri dan dapat mengerjakan pekerjaan rumah tangga sederhana. Misalnya merapikan tempat tidur, menyapu, mengepel, memasak yang mudah seperti telor. Di samping itu anak-anak juga berlatih motorik kasar dan motorik halus. Serta tak ketinggalan adalah belajar dari segi akademik seperti membaca, menulis dan berhitung.

Kegiatan ektra kurikuler

Setiap pagi dan sore, anak didik dilatih bercocok tanam pada sebidang tanah yang ada di Wila Kertia. Secara bergiliran mereka  bertugas menyiram tanaman di pagi dan sore hari. Selanjutnya hasil panen dari kebun di Wila Kertia digunakan sebagai bahan belajar memasak sederhana seperti menumis sayur-sayuran. Dan selanjutnya setiap Sabtu menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh siswa didik Wila Kertia. Mengapa? Mereka dapat berenang di Klub Permata Bintaro setiap akhir pekan. Tentu dengan pengawasan para guru Wila Kertia.

Di samping anak-anak yang belajar full day di Wila Kerta, pusat layanan autis ini juga menyediakan one-on-one therapy di mana terapis akan melakukan terapi secara individual selama 1 jam per sesi. Terapi ini berlaku bagi anak yang menyandang autisma, ADD (Attention Deficit Disorder) dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), sindrom asperger, terlambat perkembangan mental, PDD (Pervasive Developmental Disorder). Guru pun dapat datang ke rumah anak didik setiap sore. Biasanya ini untuk mendampingi para ABK yang bersekolah di sekolah formal dalam mengerjakan PR mereka.

Di samping terapi individu, Wila Kertia juga menyediakan terapi berkelompok bagi 3-5 orang anak. Dalam pelatihan secara berkelompok ini, anak-anak akan belajar bersosialisasi/berinteraksi dengan teman, belajar kemandirian dalam life skills dan tugas serta menguasai ketrampilan bermain dalam kelompok yang konstruktif serta memiliki kontrol diri. Di dalam terapi kelompok ini, anak didik akan mempelajari bagaimana mengembangkan emosi, berbagi dan saling bantu secara alamiah. Sebagai contoh di Wila Kertia, ada anak yang terlatih untuk memberi obat bagi rekannya seorang penderita epilepsi yang suka kejang.

Info lebih lanjut:

Wila Kertia
Jalan Maleo V Blok JB2 NO. 5
Bintaro Jaya Sektor 9
Tangerang Selatan 15229
Telp. : 021 – 745 2976

 

(EGS)