Waspadai Karsinogenik, Zat Penyebab Kanker

Baru baru ini heboh diberitakan bahwa semua gerai kopi di negara bagian California, Amerika Serikat wajib mencantumkan peringatan kanker dalam minuman ini. Pemicunya adalah zat kimia yang diproduksi saat proses menyangrai biji kopi bersifat karsinogenik atau memicu kanker. Simak beritanya di https://www.youtube.com/watch?v=HSLU2ZlhzdA.

Dalam 8 tahun terakhir memang terjadi perdebatan hukum antara kelompok nonprofit dan gerai kopi raksasa tentang bahaya zat kimia yang disebut acrylamida tersebut. Dewan Pendidikan dan Riset mengenai zat toksik meminta industri kopi menghilangkan acrylamida dalam proses sangrai kopi. Hal tersebut juga dilakukan oleh produsen keripik yang juga digugat kelompok ini beberapa tahun lalu. Jika tidak mau menghilangkan acrylamida, paling tidak disebutkan dalam kemasan bahayanya, terutama sebagai pencetus kanker.

Pihak industri kopi, yang dipimpin oleh Starbuck Corp, mengatakan bahwa kadar zat kimia dalam kopi tidak berbahaya dan risikonya terhadap kesehatan melebihi manfaatnya. Selain itu, mereka menolak menghilangkan acrilamyda karena bisa merusak cita rasa kopi.

Patut diketahui bahwa kopi instan pun tidak terbebas dari bahaya acrylamida. Simak 10 brand kopi instan yang mengandung acrylamida: https://www.youtube.com/watch?v=5A1HRA_25tI

Mengenal Karsinogen
Karsinogen adalah zat yang menyebabkan penyakit kanker. Zat-zat karsinogen menyebabkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) dalam sel-sel tubuh, dan hal ini mengganggu proses-proses biologis.

Karsinogenik adalah sifat mengendap dan merusak terutama pada organ paru-paru karena zat-zat yang terdapat pada rokok. Sehingga paru-paru menjadi berlubang dan menyebabkan kanker. Pengobatannya yaitu dengan menghentikan konsumsi nikotin dan menggunakan obat tradisional. Karsinogen kimiawi yang pertama kali diidentifikasi adalah senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik.

Apa saja contoh-contoh karsinogen?

Karsinogen telah diklasifikasikan menjadi 3 kelompok oleh The International Agency for Research on Cancer. Klasifikasi tersebut terdiri dari agen dan kelompok agen, campuran, dan paparan lingkungan. Pada intinya, karsinogen ini dapat ditemukan pada bahan kimia yang ada di lingkungan sekitar Anda, radiasi lingkungan (seperti dari cahaya matahari), radiasi dari peralatan medis, virus, obat-obatan, dan faktor gaya hidup.

Karsinogen-karsinogen ini tidak pasti dapat menyebabkan kanker pada semua orang yang terpaparnya. Kemampuan karsinogen dalam menyebabkan kanker antar individu berbeda-beda, tergantung dari jumlah paparan, lamanya paparan, kesehatan individu yang terpapar, dan faktor lainnya. Kerentanan tiap orang yang terpapar karsinogen dalam menyebabkan kanker juga tergantung dari faktor keturunan. Faktor keturunan memainkan peranan penting sebagai penyebab kanker. Dalam banyak kasus, kejadian kanker disebabkan karena banyak faktor yang bekerja sama.

Karsinogen pada makanan

Hati-hati, makanan tertentu yang biasa Anda makan bisa jadi juga mengandung senyawa karsinogen. Baru-baru ini terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa daging olahan mengandung senyawa karsinogen, yang artinya dapat menyebabkan kanker, terutama kanker kolorektal dan kanker perut.

Daging olahan yang dimaksud adalah daging yang telah melalui proses penggaraman, pengawetan, fermentasi, pengasapan, atau proses lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan rasa dan daya simpan. Contoh dari daging olahan adalah bacon, ham, sosis, salami, kornet, dan lain sebagainya.

Pengolahan daging, seperti pengawetan (yang menambahkan zat nitrat atau nitrit pada daging) atau pengasapan, dapat memicu pembentukan senyawa karsinogen, seperti N-nitroso-compound (NOC) dan polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH). Apa itu PAH? Klik https://www.youtube.com/watch?v=fjgvmL61e5k

Hal ini diperburuk dengan kandungan zat besi heme dalam daging, yang dapat mendukung produksi NOC dalam daging.

Memasak daging pada temperatur tinggi, seperti digoreng atau dipanggang, juga dapat memicu produksi senyawa karsinogen, seperti heterocyclic amine (HCA) dan PAH. HCA terbentuk ketika kreatin dan asam amino pada daging bereaksi terhadap panas yang dihasilkan dari proses memasak. HCA merupakan salah satu agen yang dapat menyebabkan kanker.

Oleh karena itu, sebaiknya pilih daging merah yang masih segar dan dimasak sendiri dibandingkan dengan daging olahan yang dimasak di pabrik. Anda juga dapat mengolah daging merah tersebut dengan cara direbus atau dikukus daripada digoreng atau dibakar yang menghasilkan panas lebih tinggi. Cara ini dapat membuat daging yang Anda makan lebih sehat.

Selain itu, seimbangkan pola makan Anda dengan mengonsumsi sayur dan buah-buahan.  Sayur dan buah dapat mengurangi tingkat kerusakan DNA dan oksidasi dari senyawa karsinogen, sehingga dapat mengurangi risiko Anda terkena kanker.

Ayo, masukkan sayur dan buah-buahan ke dalam menu harian Anda. Selamat mencoba.

(EGS)