Waspada Resiko Sharenting di Sosmed

Foto apa yang paling sering Anda lihat ketika menjelajah lini masa di Instagram? Ya, Anda benar: bayi, bayi, dan bayi. Ini sebenarnya tidak mengejutkan. Menurut sebuah studi, di Amerika Serikat saja, sebagian besar anak 2 tahun lebih dari 90% telah terpampang wajahnya di media sosial. Tentu saja pengunggahnya adalah orang tua mereka. Hal ini kemudian memantik fenomena yang bernama sharenting.

Baca Juga: Cara Mudah dan Ramah Bermedia Sosial

Sharenting, istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang tua yang senang membagikan hal-hal personal tentang anaknya di media sosial. Mulai dari informasi sesederhana “Anakku lagi susah makan :(” sampai foto-foto lucu. Ada yang menganggapnya wajar dengan alasan untuk kenang-kenangan, tapi ada juga yang melihatnya sebagai bagian dari narsisme. Bagaimana dengan Anda?

Baca Juga: Workshop Photo Story on Social Media

Sisi gelap sharenting

Membagikan informasi tentang anak beserta permasalahannya dapat membuat orang tua merasa memiliki teman dan pendukung. Anda tak hanya dibaca, tetapi juga didengarkan bahkan dipeluk. Tapi ingat, ketika Anda memasuki ruang media sosial yang seolah tak ada habisnya itu, Anda berpotensi mengorbankan keamanan anak serta melanggar privasi mereka dengan postingan online yang jejaknya akan bertahan sampai bertahun-tahun yang akan datang.

Menurut peneliti dan penulis “Raising Your Child in a Digital World” Dr Kirsty Goodwin, sharenting yang dilakukan secara berlebihan memiliki beberapa sisi gelap yang tak boleh Anda acuhkan.

“Beberapa masalah yang timbul termasuk pencurian identitas (privacy risks/risiko privasi), pengambilan foto anak (cyber-safety risks/risiko keamanan dunia maya), berbagi informasi personal tentang anak yang seharusnya tetap menjadi pribadi (psychosocial risks/risiko psikososial), dan mengungkapkan informasi memalukan yang mungkin disalahgunakan oleh orang lain (psychological risks/risiko psikologis),” jelas Goodwin, seperti dilansir Huffington Post.

Baca Juga: Seminar Social Media Influencer Universitas Pembangunan Jaya

Anda tentu pernah mendengar seseorang mengalami identity theft karena terlalu banyak sharenting, di mana seseorang mencuri foto seorang anak kemudian mengklaim dirinya sebagai orang tua anak tersebut. Tak hanya itu, foto-foto anak juga dapat berpindah ke tangan beragam situs web yang mungkin saja tak bertanggung jawab. Hal yang juga perlu diperhatikan ketika orang tua sharenting tanpa seizin anak adalah, anak bisa saja keberatan dan marah pada kemudian hari. Simak apa yang harus diwaspadai para orang tua saat  memposting foto anak-anaknya di social media: https://www.youtube.com/watch?v=IPVas9Xjifk

Situs Klikdokter.com menyarankan Anda untuk melakukan sharenting kepada mereka yang benar-benar mengenal Anda dan keluarga Anda. Anda mungkin bisa menyeting media sosial Anda dari public menjadi privacy. Hindari juga memberikan informasi mengenai lokasi Anda sekarang – jika memang ingin melakukannya, sertakan lokasi tersebut saat Anda sudah tidak lagi berada di sana.

Pause before you post (Pikir dua kali sebelum posting)

Tanyakan kepada diri sendiri, apa alasan Anda mengunggah foto anak? Coba pikirkan sebelum posting, apakah foto itu nantinya akan membuat anak bangga atau justru malu? Jangan sampai Anda terbawa sesal karena apa yang Anda lakukan di Internet, takkan bisa dihapus begitu saja. Jejak Anda bisa terekam bertahun-tahun, bahkan selamanya.

Sah-sah saja, kok, sharenting di media sosial. Asalkan Anda melakukannya dengan bertanggung jawab dan tidak berlebihan. Menjadi orang tua lebih dari mengajarkan anak mengenai benar dan salah, baik dan buruk. Namun juga bagaimana menghargai satu sama lain. Jadi, mari belajar lebih baik lagi untuk menghargai privasi anak Anda, sebagaimana Anda ingin dihargai.

(EGS)