Sel. Des 10th, 2019

Waspada Resiko Sharenting di Sosmed

Foto apa yang paling sering Anda lihat ketika menjelajah lini masa di Instagram? Ya, Anda benar: bayi, bayi, dan bayi. Ini sebenarnya tidak mengejutkan. Menurut sebuah studi, di Amerika Serikat saja, sebagian besar anak 2 tahun lebih dari 90% telah terpampang wajahnya di media sosial. Tentu saja pengunggahnya adalah orang tua mereka. Hal ini kemudian memantik fenomena yang bernama sharenting.

Baca Juga: Cara Mudah dan Ramah Bermedia Sosial

Sharenting, istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang tua yang senang membagikan hal-hal personal tentang anaknya di media sosial. Mulai dari informasi sesederhana “Anakku lagi susah makan :(” sampai foto-foto lucu. Ada yang menganggapnya wajar dengan alasan untuk kenang-kenangan, tapi ada juga yang melihatnya sebagai bagian dari narsisme. Bagaimana dengan Anda?

Baca Juga: Workshop Photo Story on Social Media

Sisi gelap sharenting

Membagikan informasi tentang anak beserta permasalahannya dapat membuat orang tua merasa memiliki teman dan pendukung. Anda tak hanya dibaca, tetapi juga didengarkan bahkan dipeluk. Tapi ingat, ketika Anda memasuki ruang media sosial yang seolah tak ada habisnya itu, Anda berpotensi mengorbankan keamanan anak serta melanggar privasi mereka dengan postingan online yang jejaknya akan bertahan sampai bertahun-tahun yang akan datang.

Menurut peneliti dan penulis “Raising Your Child in a Digital World” Dr Kirsty Goodwin, sharenting yang dilakukan secara berlebihan memiliki beberapa sisi gelap yang tak boleh Anda acuhkan.

“Beberapa masalah yang timbul termasuk pencurian identitas (privacy risks/risiko privasi), pengambilan foto anak (cyber-safety risks/risiko keamanan dunia maya), berbagi informasi personal tentang anak yang seharusnya tetap menjadi pribadi (psychosocial risks/risiko psikososial), dan mengungkapkan informasi memalukan yang mungkin disalahgunakan oleh orang lain (psychological risks/risiko psikologis),” jelas Goodwin, seperti dilansir Huffington Post.

Baca Juga: Seminar Social Media Influencer Universitas Pembangunan Jaya

Anda tentu pernah mendengar seseorang mengalami identity theft karena terlalu banyak sharenting, di mana seseorang mencuri foto seorang anak kemudian mengklaim dirinya sebagai orang tua anak tersebut. Tak hanya itu, foto-foto anak juga dapat berpindah ke tangan beragam situs web yang mungkin saja tak bertanggung jawab. Hal yang juga perlu diperhatikan ketika orang tua sharenting tanpa seizin anak adalah, anak bisa saja keberatan dan marah pada kemudian hari. Simak apa yang harus diwaspadai para orang tua saat  memposting foto anak-anaknya di social media: https://www.youtube.com/watch?v=IPVas9Xjifk

BACA JUGA  Kembangkan Ranah Lifestyle, Garmin Hadirkan Seri Smartwatch Terbaru - Venu, Vívomove, dan Vívoactive 4

Situs Klikdokter.com menyarankan Anda untuk melakukan sharenting kepada mereka yang benar-benar mengenal Anda dan keluarga Anda. Anda mungkin bisa menyeting media sosial Anda dari public menjadi privacy. Hindari juga memberikan informasi mengenai lokasi Anda sekarang – jika memang ingin melakukannya, sertakan lokasi tersebut saat Anda sudah tidak lagi berada di sana.

Pause before you post (Pikir dua kali sebelum posting)

Tanyakan kepada diri sendiri, apa alasan Anda mengunggah foto anak? Coba pikirkan sebelum posting, apakah foto itu nantinya akan membuat anak bangga atau justru malu? Jangan sampai Anda terbawa sesal karena apa yang Anda lakukan di Internet, takkan bisa dihapus begitu saja. Jejak Anda bisa terekam bertahun-tahun, bahkan selamanya.

Sah-sah saja, kok, sharenting di media sosial. Asalkan Anda melakukannya dengan bertanggung jawab dan tidak berlebihan. Menjadi orang tua lebih dari mengajarkan anak mengenai benar dan salah, baik dan buruk. Namun juga bagaimana menghargai satu sama lain. Jadi, mari belajar lebih baik lagi untuk menghargai privasi anak Anda, sebagaimana Anda ingin dihargai.

(EGS)

 

Baca Juga

You may have missed

Dalam rangka merayakan Hari Belanja Nasional (Harbolnas), Bukalapak meluncurkan kampanye bertajuk Kalap 12.12. Kampanye yang berlangsung 1-15 Desember 2019 ini mengajak masyarakat di seluruh Indonesia untuk kalap berbelanja di Bukalapak karena diskon yang diberikan mencapai total Rp 50 Miliar, ditambah beragam promo, mulai dari diskon langsung, voucher diskon, gratis ongkir, Flash Deal Rp 12, Cashback 99%, hingga kesempatan untuk mendapatkan barang-barang luar biasa seperti Mobil Toko, Ruko, hingga Kos-Kosan seharga Rp 12.000 saja di program Serbu Seru Kalap. “Setiap orang pada dasarnya butuh pelampiasan untuk menyalurkan emosi dan keinginan, termasuk di dalamnya keinginan dan napsu belanja. Oleh karena itu, di momen Harbolnas ini, momen yang sudah menjadi tradisi di dunia belanja online dan selalu ditunggu-tunggu, kami memberikan kesempatan pada seluruh masyarakat Indonesia untuk melampiaskan napsu belanjanya hingga kalap, karena asik menikmati semua promo dan penawaran spesial di Kalap 12.12”, ujar Erick Wicaksono, VP of Marketing Bukalapak. “Untuk menambah semangat agar semakin kalap, Kalap 12.12 juga menghadirkan Serbu Seru Kalap mulai tanggal 10 Desember, di mana para pengguna Bukalapak bisa menyerbu Mobil Toko, Ruko, hingga Kos-Kosan yang tidak hanya luar biasa dan berbeda dari tahun sebelumnya, tapi juga bisa mendorong para penyerbu yang berhasil untuk memulai usaha dan meningkatkan kualitas hidup mereka”, tambah Erick. Informasi lebih lanjut mengenai promo KALAP 12.12 bisa dilihat di bukalapak.com.