Sel. Okt 15th, 2019

Waspada Pelecehan Seksual Pada Anak!

Beberapa waktu lalu tersiar kabar bahwa pelecehan seksual pada anak terjadi kembali,  modus child grooming saat ini banyak dilakukan melalui game online. Hal ini didorong oleh semakin awamnya penggunaan gawai (gadget) di kalangan anak-anak.

Seperti kita ketahui bersama banyak anak yang sudah bisa main smartphone dan tertarik dengan game-game online. Game online itu dikendalikan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk membujuk, merayu anak-anak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Polda Metro Jaya menangkap seorang pelaku child grooming yang melancarkan aksinya via aplikasi game online ‘Hago’. Dalam aksinya pelaku memaksa korban untuk melakukan aksi porno hingga merekamnya. Tersangka berinisial AAP alias Prasetya Devano alias Defans alias Pras. Pria berusia 27 tahun itu ditangkap di kawasan Jakarta Barat pada 25 Juli 2019 lalu.Simak videonya di: https://www.youtube.com/watch?v=SAEgcAwt90I

Baca Juga: https://news.detik.com/berita/d-4646878/rawan-child-grooming-polri-minta-orang-tua-proteksi-anak

Bila dilihat dari segi hukum, pelaku dapat dijerat pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun. Kasus tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak kasus pelecehan seksual pada anak di Indonesia.

Komisioner KPAI Jasra Putramenyebutkan bahwa KPAI menemukan 218 kasus pelecehan seksual pada anak di tahun 2015. Lalu, tahun 2016 KPAI mencatat ada 120 kasus pelecehan seksual pada anak. Terakhir di tahun 2017, tercatat sebanyak 116 kasus.

Apa itu Pelecehan Seksual Pada Anak?

Menurut buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) pelecehan seksual pada anak adalah tindakan seksual apa pun yang melibatkan anak dengan maksud untuk memberikan kepuasan seksual kepada orang tua, pengasuh, atau orang lain yang bertanggung jawab atas anak tersebut.

Pelecehan seksual pada anak mencakup kegiatan seperti membelai alat kelamin anak, penetrasi, inses, pemerkosaan, sodomi, dan tindakan tidak senonoh lainnya. Pelecehan seksual juga mencakup eksploitasi anak secara paksa oleh orang tua atau pengasuh misalnya, menipu, menarik, mengancam, atau menekan anak untuk berpartisipasi dalam tindakan kepuasan seksual tanpa kontak fisik langsung (seperti mengirim gambar berbau pornografi) antara anak dan pelaku.

Selain itu, Kremer dan Marks juga menambahkan bahwa pelecehan seksual dapat pula berbentuk verbal seperti bujukan  seksual yang tidak diharapkan, gurauan atau pesan seksual yang terus menerus, pesan yang menghina atau merendahkan, komentar sugestif atau cabul, serta permintaan pelayanan seksual yang dinyatakan secara langsung maupun tidak langsung.

BACA JUGA  Masalah-Masalah Akademik Yang Umum Dihadapi Siswa SMP dan SMA

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pelecehan seksual pada anak terjadi antara lain peristiwa traumatik yang pernah dialami pelaku pelecehan, pola asuh orang tua, dan self-esteem seseorang yang rendah.

Dampak Pelecehan Seksual Pada Anak

Dampak yang ditimbulkan pun sangat meresahkan untuk anak diantaranya munculnya perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri, bayangan kejadian ketika anak menerima pelecehan seksual, mimpi buruk, insomnia, masalah self-esteem, disfungsi seksual, sakit kronis, kecanduan, keinginan bunuh diri, keluhan somatik, dan depresi.

Dampak-dampak di atas dapat memunculkan gangguan post-traumatic stress disorder (PTSD) pada anak. PTSD merupakan gangguan kecemasan dimana seseorang yang telah mengalami suatu peristiwa traumatik atau membahayakan dirinya akan mengalami gejala-gejala seperti rasa kaku pada anggota tubuh, menghidupkan kembali peristiwa traumatik yang telah dialami, dan peningkatan stimuli fisiologis.

Lantas, Bagaimana Cara Pencegahan dari Pelecehan Seksual Ini?

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi kasus pelecehan seksual pada anak di Indonesia, seperti menetapkan pelecehan seksual pada anak sebagai pelanggaran HAM berat dan melakukan revisi batas maksimal hukuman pidana bagi pelaku pelecehan seksual anak. Hal ini membutuhkan kerjasama dari semua pihak.

Pemerintah atau lembaga perlindungan anak perlu melakukan monitoring dan evaluasi terhadap seluruh penanganan kasus pelecehan seksual anak di seluruh wilayah Indonesia, memberikan materi pendidikan tentang kesehatan reproduksi secara bertahap dan berkala melalui lembaga pendidikan baik pada tingkat formal, informal, dan nonformal. Sementara itu, orang tua harus melakukan pendampingan dan memastikan bahwa lingkungan sekitar tempat anak bermain serta belajar merupakan tempat yang aman bagi anak.

Apabila semua pihak bisa ikut berperan untuk menciptakan lingkungan yang aman, anak nyaman berada di lingkungan bermain tanpa harus diliputi oleh rasa takut.

Tim Penulis:

Azzhara Owena Livia (Mahasiswa) dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo (Dosen)
Program Studi PsikologiFakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Baca Juga

Tinggalkan Balasan