Tut Wuri Handayani di Era Revolusi Industri 4.0 (Dalam Rangka Hari Pendidikan Nasional)

Pada tanggal 2 Mei, Ki Hadjar Dewantara merintis sekolah untuk kaum pribumi agar bisa setara dengan penjajah Belanda. Saat ini, musuh terbesar bukan lagi penjajah, melainkan kesempatan pendidikan yang tidak merata. Seperti kita ketahui pendidikan merupakan aktivitas pemberian ilmu dari seorang pendidik kepada pelajar. Tujuannya untuk membantu  mengembangkan potensi diri yang ia miliki sehingga muncul sebuah perubahan positif, serta memberikan kesempatan masa depan yang lebih baik pada individu tersebut.

Menurut data BPS dilansir dari Katadata, meskipun masih rendah, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2011 yaitu sekitar 18.06%, meningkat pada tahun 2012 menjadi sekitar 18.85%. Terus meningkat pada tahun 2013 menjadi 23.06%, tahun 2014 dengan 25.76%, tahun 2015 meningkat menjadi 25.26% dan akan terus meningkat disetiap tahunnya dengan target pemerintah yang menargetkan APK akan mencapai 60-70% pada tahun 2045.

Akan tetapi dikutip dari Deutsche Welledi Negara ASEAN, Indonesia menduduki peringkat lima dari 10 negara dan sedangkan berdasarkan peringkat di seluruh dunia, saat ini Indonesia berada di posisi 108 di dunia. Indonesia saat ini masih kalah dibandingkan dengan negara-negara tetangganya seperti Malaysia, Singapura maupun Brunei Darussalam.

Data menunjukkan bahwa meskipun tingkat partisipasi pendidikan di Indonesia terus meningkat, mutu pendidikan yang didapatkan oleh setiap pelajar masih belum setara. Padahal, penyediaan kualitas pendidikan yang baik merupakan kunci menciptakan generasi berkualitas.

Rendahnya kualitas pendidikan dapat disebabkan oleh berbagai kendala. Salah satunya karena metode pembelajaran yang kurang sesuai untuk pelajar.Di Indonesia saat ini masih populer dengan pembelajaran konvensional atau yaitu pembelajaran yang dilakukan didalam kelas sehingga pelajar masih terbatas oleh dimensi ruang dan waktu untuk menjalankan kegiatan pembelajaran.

Pendidikan konvensional yang memaksa pelajarnya terikat dengan ruang dan waktu tersebut dinilai tidak efisien. Perkembangan zaman saat ini mendorong individu bergerak  cepat dan lincah dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Oleh karena itu, blended learning menjadi salah satu alternatif untuk memecah kebutuhan ini.

Blended learning adalah metode pendidikan yang mengkombinasikan aktivitas pembelajaran tatap muka yang biasanya dilaksanakan di kelas beserta pembelajaran dalam jejaring (online learning), baik secara independen maupun kolaborasi. Dapat dilihat bahwa blended learning mengoptimalkan kemajuan teknologi yang menjadi ciri Revolusi Industri 4.0.

Simak video tentang blended learning berikut ini:

Berbeda dengan pembelajaran konvensional dan pembelajaran online dimana peserta pembelajaran tersebut hanya terbatas pada mahasiswa di lingkup institusi tersebut, peserta pembelajaran blended learning juga bisa berasal dari lingkup luar seperti karyawan kantor. Seorang karyawan yang mayoritas menghabiskan waktunya untuk bekerja dikantor saat weekday, tetap dapat mempelajari pengetahuan baru di weekend dengan mengikuti pembelajaran blended learning.

Baca Juga: Tips Sukses Kuliah Sambil Kerja

Di sisi lain, perlu diperhatikan, karyawan yang menjalani hari-hari yang padat dengan berbagai jenis kegiatan kantor, perlu memiliki sikap yang bijak dan disiplin dalam mengatur waktu dan pola belajar selama mengikuti blended learning. Seorang mahasiswa yang gagal dalam melakukan self-regulation (pengaturan diri) akan berdampak terhadap perilaku penundaan (prokrastinasi), dan berujung pada gagalnya proses pembelajaran blended learning itu sendiri.

Baca juga: Kuliah Sambil Kerja, Mengapa Tidak?

Self-regulation merupakan kemampuan mengembangkan, mengimplementasikan, dan secara fleksibel mempertahankan perilaku yang direncanakan untuk mencapai tujuan seseorang. Terdapat 3 faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan self-regulationyaitu: individu, perilaku dan lingkungan. Diperlukan dukungan sosial sebagai persepsi atau pengalaman seorang bahwa ada individu lain yang mencintai dan memperhatikan dirinya, menghargai dan mengganggapnya bernilai. Juga penting menjadi bagian kelompok sosial tertentu yang saling berbagi dukungan dan tanggung jawab.

Wawancara yang dilakukan oleh penulis pada 2 mahasiswa blended learning mendapatkan bahwa mereka pada awalnya merasa sangat kesulitan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran blended learning. Kegiatan kantor yang cukup banyak pada weekday harus kemudian dilanjutkan dengan mengikuti pembelajaran blended learning di weekend.

Salah satu hal yang menurut mereka paling sulit untuk seimbang adalah di satu sisi mereka dituntut mengerjakan tugas kantor dengan baik. Di sisi lain mereka harus meluangkan waktu untuk menyimak presentasi atau video dari pembelajaran blended learning dan kemudian harus dapat mengerjakan tugas yang diberikan serta mengumpulkannya tepat sesuai deadline yang diberikan oleh dosennya.

Ketika ditanya apa alasan yang membuat mereka untuk tetap memiliki kekuatan untuk tetap dapat melaksanakan pendidikan blended learning, keduanya menjawab karena mereka sudah memiliki rencana dan tujuan yang sangat kuat sehingga mereka tetap semangat untuk mengikuti blended learning.

Selain hal tersebut, keduanya juga melanjutkan mereka masih bisa semangat dikarenakan keduanya mendapat dukungan dan semangat dari orang-orang terdekatnya khususnya dukungan yang sangat kuat dari keluarganya masing-masing.

Dari temuan ini dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial memiliki dampak pada self-regulation yang memampukan para peserta blended learning untuk menempuh proses belajar mengajar. Kesuksesan seseorang menempuh pendidikan memang butuh dukungan dari banyak pihak yang bermakna bagi dirinya.

Kembali ke Ki Hajar Dewantara yang disebutkan di awal tulisan, Taman Siswa puluhan tahun pun sudah. Hal tersebut tercermin pada prinsip tut wuri handayani – yaitu memberikan dorongan dan arahan. Prinsip tersebut masih relevan di era industri dalam pola pembelajaran blended learning.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Penulis:

Fawwaz Akhmad Dienullah dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Adicondro N. dan Purnamasari A. (2011). Efikasi Diri, Dukungan Sosial Keluarga dan Self Regulated Learning pada Siswa Kelas VIII. HUMANITAS: Indonesian Psychological Journal. 8(1):17-27. p-ISSN 1693-7236 e-ISSN 2598-6368. diakses melalui http://journal.uad.ac.id/index.php/HUMANITAS/issue/view/58

anonim. (2017). Rangking Pendidikan Negara-negara ASEAN. Diakses melalui https://www.dw.com/id/rangking-pendidikan-negara-negara-asean/g-37594464

anonim. (2018). Meski Masih Rendah, Angka Partisipasi Perguruan Tinggi Menunjukkan Peningkatan. diakses melalui https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/07/13/meski-masih-rendah-partisipasi-perguruan-tinggi-menunjukkan-peningkatan

Aprianti I. (2012). Hubungan Antara Perceived social support Dan Psychological Well-Being Pada Mahasiswa Perantau Tahun Pertama Di Universitas Indonesia. Skripsi. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20320186-S-Indah%20Aprianti.pdf

Brown, J. M., Miller, W. R., dan Lawendowski, L. A. (1999). The Self-regulation Questionnaire. In L. VandeCreek, and T. L. Jackson (Eds.), Innovations in clinical practice: A source book (Vol. 17, pp.281-289). Sarasota, FL: Professional Resource Press.

SoerjoatmodjoG. W. L (2019).  Self-Regulation dan Blended Learning. Buletin Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN) diakses melalui http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/378-self-regulation

Leave a Reply