Training Pertolongan Pertama Pada Orang Yang Mengalami Henti Napas di Sekolah Kreasi Anak Bangsa

Resusitasi jantung paru-paru atau CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) adalah tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali. CPR sangat dibutuhkan bagi orang tenggelam, terkena serangan jantung, sesak napas karena syok akibat kecelakaan, terjatuh, dan sebagainya.

Namun yang perlu diperhatikan khusus untuk korban pingsan karena kecelakaan, tidak boleh langsung dipindahkan karena dikhawatirkan ada tulang yang patah. Biarkan di tempatnya sampai petugas medis datang. Berbeda dengan korban orang tenggelam dan serangan jantung yang harus segera dilakukan CPR.

Mengingat pentingnya pengetahuan tersebut bagi para orang tua siswa, pada hari Sabtu, 29 Juli 2017 diselenggarakan CPR Training di Sekolah Kreasi Anak Bangsa, Pondok Jagung di kawasan Graha Raya.

Training selama 3 jam ini diperlukan untuk mengantisipasi keadaan darurat. Misalnya saat anak-anak mendadak tersedak karena makanan atau benda asing yang mengganjal jalan nafas. Dalam kondisi ini, waktu penanganan yang tepat sangat diperlukan. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah kematian sang anak. Juga mencegah kecacatan yang lebih berat serta menunjang penyembuhan.

Antuasiasme para orang tua siswa sangat besar. Ada sekitar 30 orang tua siswa yang menghadiri training ini. Bahkan ada oma opa yang datang untuk mengetahui tentang praktek pertolongan di masa darurat.

Yang menjadi fokus utama training ini adalah BHD atau Bantuan Hidup Dasar yang merupakan pertolongan yang diberikan kepada korban pertama kali. Ini berupa nafas buatan dan pijatan jantung luar pada pasien henti nafas dan atau henti jantung tanpa menggunakan alat-alat kesehatan.

Tahukah Anda bahwa tersedak dapat menyumbat jalan nafas sang anak, dan otak dan jantung yang tidak mendapat suplai oksigen dalam waktu 4 menit akan berakibat kematian dalam waktu singkat? Keterlambatan BHD dalam 1-3 menit, kemungkinan berhasil menjadi 98 dari 100 kasus. Dan bila terlambat 3-10 menit, kemungkinan berhasil menjadi 50 dari 100 kasus. Namun bila terlambat lebih dari 10 menit, kemungkinan berhasil hanya 1 dari 100 kasus.

Mari belajar 6 tahapan pemberian bantuan hidup dasar (BHD):

  1. Kenali adanya tanda bahaya. Anda sebagai penolong wajib mengkaji bahaya yang ada yang sumber daya yang Anda miliki serta jenis pertolongan yang Anda perlukan. Serta pastikan keadaan aman kemudian lakukan pertolongan.
  2. Cek reaksi/respon apakah sang anak sadar atau tidak, caranya dengan memanggil namanya dan menepuk bagian bahu. Jika tidak bereaksi, panggil bantuan, posisikan korban
  3. Minta pertolongan ke sekitar Anda
  4. Circulation (sirkulasi darah). Anda dapat meraba denyut nadi sang korban selama kurang dari 10 detik di leher (pada orang dewasa) dan di ketiak (pada anak-anak). Bila tidak ada denyut nadi, saatnya Anda memberikan pijatan jantung luar/kompresi dada yakni menekan dada sang korban dengan kedua tangan Anda. Adegan ini biasanya sering terlihat di film-film di mana petugas kesehatan melakukan kompresi (menekan) dada pasien. Untuk pasien dewasa, pijatan dilakukan dengan kedua tangan Anda di posisi ½ bagian bawah dari tulang dada (sternum) dengan tekanan sedalam 4-5 cm. Anda dapat memijat sebanyak 30 kali. Sedangkan untuk anak di bawah 10 tahun, pijatan dilakukan dengan satu tangan saja. Bila pasien merupakan bayi, orang tua dapat menolong dengan melingkarkan kedua telapak tangan di bagian dada bayi seperti posisi tangan Anda mengukur lingkar kepala bayi.Tekan bagian dada bayi dengan kedua jempol tangan Anda.
  5. Airway (Jalan napas). Anda dapat melakukan head tilt (teknik tengadah kepala) dan chin lift (topang dagu) dan teknik jaw thurst (dorong rahang).
  6. Breathing (Pernafasan). Anda dapat mengecek 3 hal yaitu melihat apakah ada pergerakan dada yang turun naik karena sang korban bernafas. Kedua, mendengar apakah ada suara nafas korban yang keluar dan terakhir merasakan hembusan nafas sang korban. Jika tidak ada, Anda dapat memiringkan tubuh korban untuk melancarkan peredaran darahnya.

Training kali ini tidak hanya berupa teori namun para orang tua juga dapat mempraktekkan teori-teori yang diberikan. Satu per satu orang tua mempraktekkan teori dengan boneka yang sudah disiapkan sebagai sarana praktek. Semua praktek diawasi langsung oleh tim training center dari RS Omni Alam Sutera. Instruktur memberikan petunjuk dan memberikan koreksi bila terjadi kesalahan.

Menurut Ibu Andin, orang tua siswa yang tinggal di daerah Kunciran, materi training ini cukup jelas dan mudah dimengerti. Dengan melakukan praktek, kita dapat belajar apakah langkah-langkah kita benar atau salah,” ujarnya. Ini akan sangat membantu apabila suatu saat terjadi keadaan darurat. Ibu Andin sering mendengar kisah anak yang tersedak benda asing. Orang tua biasanya menjadi panik karena tidak tahu langkah-langkah pertolongannya.

Dengan adanya training ini diharapkan para orang tua mampu mengatasi keadaan darurat di mana anak yang tersedak dapat terselamatkan nyawanya.

Untuk informasi lebih lanjut:
Sekolah Kreasi Anak Bangsa
Jl. Pd. Jagung No.8, Pd. Jagung Tim., Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten 15326
Telp: (021) 5383378

 

(EGS)

Leave a Comment