Sen. Jan 20th, 2020

Tips Menghadapi Pelecehan Seksual

Baru-baru ini sebuah video viral dugaan pelecehan seksual seorang pasien wanita yang dilakukan perawat laki-laki beredar. Video tersebut menggambarkan pasien wanita duduk di ranjang menangis dan meminta pengakuan perawat laki-laki. Pasien tersebut menangis dan didampingi dua perawat. Diduga video itu berada di salah satu rumah sakit di Surabaya.

Kasus pelecehan seksual  di tempat-tempat umum banyak terjadi dan perempuan yang menjadi korban malah mirisnya sering disalahkan karena (misalnya) cara berpakaiannya, atau pulang terlalu malam. Bahkan anak-anak pun dapat menjadi korban pelecehan seksual.

Baca juga: https://www.infobintaro.com/hati-hati-paedofil-dapat-ada-di-sekitar-anda/

Tahukan Anda bahwa sejumlah perempuan telah menyusun buku panduan pencegahan pelecehan seksual. Judulnya “Pedoman Pencegahan Pelecehan Seksual di Tempat Kerja”.

Buku panduan, yang bisa diunduh melalui internet dan terus dibagikan hingga hari ini, memuat berbagai penjelasan terkait bentuk pelecehan seksual di tempat umum dan bagaimana perempuan menghadapinya.

Bentuk-bentuk pelecehan seksual

Pelecehan seksual dapat berupa pelecehan verbal maupu non verbal.

Verbal: gurauan porno (‘pulang jam segini, perempuan macem apa?’, ‘berapa mba satu jam?’), siulan nakal, julukan yang merendahkan (si bohay, tante montok), dan lainnya.

Non verbal: memandangi lekat- lekat dengan penuh nafsu, bergaya seolah menjilat dan memberikan ciuman dari jarak jauh, tindakan yang menyentuh korban seperti meraba, mencium, menggesekkan.

Yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Pelecehan Seksual

  1. Berbicara secara terus terang. Dalam banyak kasus pelecehan seksual, terutama yang melibatkan lingkungan kerja, pelaku pelecehan seksual biasanya tidak menyadari bahwa perilaku mereka adalah ofensif. Jika Anda adalah korban pelecehan, langkah pertama  yang harus dilakukan adalah dengan membiarkan pihak yang bersalah tahu bahwa Anda menemukan perilaku mereka sebagai perilaku ofensif. Dalam banyak kasus ini dapat menyelesaikan masalah. Jika hal ini tidak menyelesaikan masalah, setidaknya pelaku tahu bahwa Anda merasa perilakunya sangat menganggu.
  2. Memberi tahu pelaku untuk berhenti. Anda dapat mencoba untuk memberitahu pelaku untuk berhenti, meskipun hal ini mungkin sulit bagi Anda, Katakan dengan jelas bahwa Anda ingin pelaku berhenti melakukan pelecehan seksual kepada Anda. Ini juga langkah yang sangat penting jika Anda kemudian memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih formal kepada pelaku pelecehan.
  3. Jika pelaku mengabaikan permintaan lisan Anda untuk berhenti, atau jika Anda merasa tidak nyaman untuk bertatap muka dengan pelaku, tulislah surat singkat yang menyatakan bahwa perilaku mereka menyinggung Anda. Jika Anda khawatir akan keselamatan pribadi atau takut bahwa pelaku akan berperilaku tambah parah, maka laporkan ke atasan Anda segera.
  4. Memeriksa buku pedoman karyawan, kebijakan tertulis, dan sebagainya yang mencantumkan kebijakan pelecehan seksual. Kemudian ikuti langkah-langkah yang tertera dalam kebijakan. Selanjutnya, laporkan kepada orang yang ditunjuk sebagai atasan Anda untuk menerima pengaduan pelecehan seksual. Jika mereka tidak memperbaikinya, atau jika orang yang ditunjuk adalah pelaku pelecehan, maka pergilah ke orang berikutnya yang ditunjuk.
  5. Mencatat detail peristiwa pelecehan. Jika kebijakan kantor mengharuskan Anda untuk menelepon atau bertemu dengan seseorang, selalu tempatkan keluhan Anda secara tertulis. Deskripsikan secara detil mengenai komentar seksual, tindakan seksual, pornografi, lelucon atau email tidak pantas, dan apapun yang dialami atau disaksikan oleh Anda, yang memperlihatkan adanya perbedaan perlakuan dari laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya. Banyak pegawai yang melaporkan lingkungan yang tidak bersahabat, intimidasi atau pelecehan tanpa mengatakan bahwa hal itu didasari oleh gender. Dengan cara pelaporan seperti itu, Anda tidak akan terlindungi dari pembalasan dendam. Jadi, cara yang terbaik adalah menuliskannya dengan detil.
  6. Mendokumentasikan perilaku pelecehan. Sangat penting untuk mendokumentasikan apa yang terjadi pada Anda, dan apa yang Anda lakukan untuk mencoba menghentikannya. Anda harus memiliki bukti yang cukup untuk dapat melaporkannya ke penyidik perusahaan, instansi pemerintah, atau pengadilan. Mulailah dengan mengumpulkan bukti sedetail mungkin mengenai pelecehan. Pastikan untuk menyimpan surat, foto, kartu, atau pesan melecehkan yang Anda terima.
  7. Memproses ke pengadilan. Jika lembaga pemerintah mengeluarkan surat hak untuk menuntut, Anda dapat membawa gugatan perdata atas cedera yang Anda derita akibat pelecehan seksual. Anda tidak perlu menunjukkan luka fisik. Cedera yang paling umum dalam kasus pelecehan seksual adalah luka secara emosional yang diderita oleh korban.
BACA JUGA  Fotografi Ponsel Bisa Jadi Hobi yang Menghasilkan

Bagaimana bila Anda Jadi Korban Pelecehan Seksual di Jalan

Polda Metro Jaya mengimbau kepada masyarakat yang menjadi korban tindak asusila di jalanan agar tidak segan-segan melaporkan kepada polisi.  Hafalkan ciri-ciri pelaku dan daerah di mana kejadian terjadi. Dengan demikian polisi akan mengetahui daerah mana saja yang rawan, dan mencari pelakunya

Jangan ragu untuk berteriak arena kemungkinan besar warga sekitar akan membantu mengejar pelaku.

(EGS)

 

Baca Juga