THR Sudah Habis Hari ini?

Rasanya belum lama THR turun, namun di antara kita sudah ada yang merasa bokek karena uangnya menipis. Ke mana larinya gaji dan THR? Mungkin ke gaya hidup konsumtif

Gaji kita pasti cukup untuk biaya hidup. Saat mengajukan penawaran upah kepada perusahaan, kita sudah memperkirakan berapa besar pengeluaran bulanan, investasi, cicilan, tabungan dan sebagainya. Sementara perusahaan juga punya perhitungan besaran upah yang layak untuk pegawai.

Masalahnya, apakah gaji kita cukup untuk membiayai gaya hidup? Jika kita terus mengikuti keinginan, maka mungkin gaji tidak akan pernah cukup. Sebab semakin besar pendapatan, maka semakin tinggi gaya hidup.
Kebanyakan pegawai terjebak dalam kehidupan dan pergaulan di kantor. Sebagai karyawan yang harus beradaptasi dengan lingkungan kerja, maka akan terpengaruh dengan gaya hidup orang lain. Ada saja pengeluaran tersier lain yang membuat kita memangkas pos investasi atau tabungan bulanan. Berikut beberapa gaya hidup konsumtif di kantor yang harus diwaspadai, yang disarikan dari Qerja.com

Sebagian pegawai kantoran bukanlah morning person. Mereka butuh kopi untuk membuat terjaga di pagi hari. Alih-alih membuat kopi di pantry, mereka malah memilih membeli kopi di coffee shop. Lagipula, kopi yang diracik barista tentu rasanya lebih enak dibanding kopi sachet yang diseduh office boy. Ada juga yang sebenarnya tidak suka kopi, tapi keren saja kalau pagi-pagi ke gerai kopi. Gaya hidup seperti ini membuat Anda harus mengeluarkan uang Rp 30-50 ribu setiap pagi.

Selain itu, beberapa orang memilih bekerja di kafe. Mereka merasa lebih bisa berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas di luar kantor. Sebab, mereka ingin menghindari bos yang selalu marah-marah atau rekan kerja yang berisik. Seseorang harus memesan minuman dan atau makanan ringan selama bekerja di kafe. Mungkin dia akan merogoh kocek Rp 100 ribu atau lebih.

Mungkin biasanya Anda tidak biasa nongkrong di kafe. Tapi, sejak bekerja di kantor, Anda sulit menolak ajakan untuk ngafe sepulang kerja. Berapa banyak uang yang Anda habiskan di kafe? Tergantung. Kafe seperti apa yang dipilih. Makanan dan minuman apa yang dipesan.

Kalau hanya ingin mendengarkan gosip terbaru, mungkin Anda hanya akan memesan segelas kopi ukuran reguler yang harganya sekitar Rp 45 ribu. Sementara kalau berniat duduk lebih lama bersama rekan kerja, tentu Anda harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli makanan ringan. Harga makanan ringan di kafe berkisar Rp 30 – 50 ribu

Terkadang, waktu nongkrong di kafe sepulang kantor bersamaan dengan jam makan malam. Sehingga Anda juga memesan makanan berat untuk mengisi perut. Mungkin Anda mau mencicipi hidangan istimewa di kafe yang dibanderol dengan harga Rp 50 ribu atau lebih. Bisa-bisa, dalam satu malam Anda menghabiskan Rp 100 ribu atau lebih untuk nongkrong saja. Bagaimana jika Anda nongkrong di kafe setiap hari setelah pulang kerja dengan alasan menghindari macet? Hitung sendiri biayanya.

Bos Anda selalu menginisiasi pesta atau kado untuk staf yang berulang tahun. Ada pula kantor yang punya kebiasaan memberikan hadiah perpisahan untuk pegawai yang akan resign. Maka, menjelang hari H, seseorang akan menyebarkan email yang menanyakan kesediaan pegawai lain yang ingin berkontribusi untuk mewujudkan kejutan tersebut.

Sebenarnya, budaya kantor seperti itu sudah sangat baik dan menyenangkan. Namun, ada biaya yang harus dikeluarkan untuk pesta atau hadiah kejutan. Nilainya bervariasi, tergantung harga dari kado yang akan diberikan. Terkadang isi email yang disebar tersebut hanya bilang “sumbangan sukarela”. Tapi, kalau semua rekan kerja menyumbang Rp 100 ribu, Anda merasa tidak mungkin memberikan nilai yang lebih kecil dari itu. Gengsi.

Selain kejutan ulang tahun, kantor Anda juga sering mengadakan acara makan malam. Mungkin seseorang punya ide untuk makan malam sebelum libur Lebaran. Memang pada saat Bulan Puasa, mungkin pengeluaran Anda lebih besar karena berbagai undangan acara buka puasa bersama. Ketika semua pegawai menyetujui gagasan tersebut, maka mau tidak mau, Anda juga akan ikut meramaikan acara.

Jika Anda mengikuti semua gaya hidup konsumtif tersebut, maka berapa biaya yang dihabiskan? Sekarang, mulailah menyalakan kalkulator dan menghitung berapa besar pengeluaran tersier yang berhubungan dengan gaya hidup konsumtif di kantor. Apakah nilainya sangat besar? Jika angkanya terlalu tinggi, maka Anda mesti mengurangi kegiatan yang tidak perlu.

Anda juga harus menanyakan pada diri sendiri: apakah uang yang Anda keluarkan untuk mengikuti gaya hidup konsumtif di kantor membuat Anda bahagia? Sebuah penelitian yang dilakukan Nationwide Current Account pada 2000 pegawai kantoran di Inggris membuktikan ternyata para pria tidak suka menghabiskan uang untuk kegiatan seperti pesta Natal di tempat kerja. Sementara wanita merasa tertekan untuk mengeluarkan uang untuk membeli barang yang berhubungan dengan pekerjaan. Bagaimana dengan Anda?

(BON)