Tertarik Menjadi Entrepreneur? Simak Tahapan Yang Perlu Dilalui

Bekerja adalah salah satu kebutuhan yang harus dilakukan oleh setiap individu, khususnya yang telah memasuki fase dewasa. Selain untuk memenuhi kebutuhan fisik seperti sandang, pangan dan papan, bekerja juga dapat memenuhi individu akan rasa aman, tenteram, dan kepastian terhadap hari-hari yang akan datang. Jenis pekerjaan di Indonesia sendiri pun sangat beragam, tidak selalu harus dilakukan sebagai karyawan di kantor. Bahkan fenomena beberapa tahun belakangan ini, bekerja sebagai entrepreneur mulai dilirik oleh generasi muda.

Pekerjaan sebagai entrepreneur di Indonesia masih terbilang minim jika dibandingkan dengan jumlah entrepreneur di negara tetangga. Kementerian Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah Republik Indonesia (2017) menyebutkan bahwa data dari BPS 2016 mengenai jumlah penduduk yang berwirausaha di Indonesia mencapai 7,8 juta orang atau sekitar 3,1 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat kewirausahaan Indonesia telah melampaui 2 persen dari populasi penduduk. Ini merupakan syarat minimal suatu masyarakat akan sejahtera.

Contoh nyata yang dapat diamati adalah banyaknya jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mulai bermunculan sebagai implikasi dari sikap kewirausahaan yang dimiliki oleh masyarakat. UMKM sendiri berperan penting dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, serta menopang kekuatan ekonomi negara, termasuk Indonesia. Namun, jumlah tersebut masih lebih sedikit apabila dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Rasio wirausaha Singapura sebesar 7 persen. Sedangkan Malaysia dan Thailand masing-masing sebesar 6 persen dan 5 persen dari jumlah penduduknya.

Baca Juga:
http://www.infobintaro.com/gerakan-ayo-umkm-jualan-online-sinergisitas-tingkatkan-daya-saing/
http://www.infobintaro.com/pemasaran-digital-dukung-ukm-indonesia-tingkatkan-ekspor/
http://www.infobintaro.com/kominfo-dorong-umkm-jualan-online-mumpung-ramadan/
http://www.infobintaro.com/pembukaan-gbk-go-food-festival-maksimalkan-potensi-umkm-kuliner-indonesia

Terdapat 4 alasan mengapa menjadi seorang karyawan (dan bukan menjadi entrepreneur) itu baik. Pertama, wirausaha bukan untuk semua orang, di mana menjadi seorang entrepreneur bukan merupakan suatu hal yang mudah karena harus memiliki banyak kemampuan seperti manajemen, kepemimpinan, serta ketahanan mental yang baik. Kedua, stabilitas yang membuat hati tenang, di mana penghasilan yang didapat sebagai seorang karyawan bersifat stabil baik dari segi jumlah maupun tempo pembayaran. Faktor selanjutnya adalah menjadi seorang karyawan juga dapat menjadi kaya. Maksudnya adalah dengan menjadi karyawan, seseorang juga dapat mendapatkan pendapatan yang tidak sedikit, terutama jika diiringi dengan melakukan investasi baik berupa saham, tanah dan sebagainya. Faktor terakhir adalah panggilan hidup tiap orang berbeda-beda. Hal ini berkaitan dengan passion dan tekad yang kuat apakah seseorang benar-benar ingin menjadi entrepreneur atau tidak.

Persepsi-persepsi di atas merupakan beberapa hal yang membuat masyarakat lebih tertarik untuk mencari pekerjaan sebagai karyawan atau pegawai dibanding menjadi seorang entrepreneur. Patut dicermati bahwa salah satu penyebab banyaknya pengangguran bukan hanya karena kurangnya lapangan pekerjaan, namun juga karena faktor internal calon tenaga kerja. Sebagian besar para calon tenaga kerja tidak memiliki bekal pendidikan kewirausahaan, sehingga mereka cenderung mencari atau mengharapkan pekerjaan dari orang lain dan bukan berupaya mengembangkan potensi dirinya dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Namun, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan entrepreneurship atau kewirausahaan, dan apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi seorang entrepreneur? Ilmu pengetahuan mendefinisikan entrepreneurship sebagai studi yang mempelajari bagaimana entrepreneur menemukan atau mengembangkan peluang untuk menciptakan sesuatu yang baru (misal: produk & jasa baru, pangsa pasar baru, proses produksi baru, dan sebagainya), dan kemudian dengan berbagai cara menggunakan atau mengembangkan peluang tersebut sehingga menghasilkan berbagai dampak. Salah satu dampak yang dihasilkan adalah timbulnya lapangan pekerjaan baru bagi masyaarakat.

Penting untuk dipahami bahwa entrepreneurship seharusnya dipandang sebagai sebuah proses yang berkembang dan berkelanjutan. Artinya, proses entrepreneurial tidak dapat dipandang hanya pada satu peristiwa saja seperti peristiwa jual beli barang. Dalam proses entrepreneurial penting untuk dilihat dan dipelajari adalah bagaimana proses entrepreneurial bekerja dan berkembang terus menerus. Seseorang dapat disebut sebagai entrepreneur apabila ia telah melakukan dan melewati tahapan-tahapan dalam proses entrepreneurial.

Proses entrepreneurial sendiri beragam, artinya tidak ada pakem atau aturan khusus mengenai hal apa yang pertama kali harus dilakukan untuk memulai proses tersebut. Namun secara garis besar, tahapan utama pada proses entrepreneurial dibagi ke dalam tiga fase yakni:

  • fase prelaunch
  • fase launch
  • fase postlaunch

Fase prelaunch adalah periode di mana entrepreneur melakukan berbagai aktivitas entrepreneurial dari mulai sebelum hingga saat akan meluncurkan usaha barunya. Pada fase ini entrepreneur biasanya melakukan berbagai kegiatan dari mulai mengenali dan mengevaluasi peluang, mencari ide usaha, melakukan market research dan mengumpulkan resource yang dibutuhkan. Pengetahuan yang dimiliki oleh entrepreneur terkait dengan bidang usahanya akan mempermudah ia melakukan kegiatan pada fase ini. Misalnya, seorang entrepreneur yang memiliki latar belakang teknik otomotif yang ingin membuat usaha untuk memproduksi kendaraan akan lebih mudah menyelesaikan kegiatan di tahapan ini karena memiliki pengetahuan otomotif.

Fase selanjutnya adalah launch atau startup. Fase launch atau startup adalah periode di mana entrepreneur melakukan kegiatan yang berkaitan dengan peluncuran usaha barunya serta periode awal dari usaha tersebut. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh entrepreneur pada fase ini di antaranya launching produk, membuat hak paten atas usahanya, serta mengembangkan strategi marketing guna memasarkan produk.

Fase postlaunch adalah tahapan yang dilakukan setelah melewati fase launch. Pada fase ini, biasanya entrepreneur sudah tidak lagi mengurus permasalahan teknis. Misalnya mencari resource untuk membuat produk. Entrepreneur telah mendelegasikan orang lain (bawahannya) untuk mengurus semua urusan terkait teknis usaha. Pada fase ini, entrepreneur harus belajar mengenai bagaimana fungsi manajerial yang efektif. Beberapa kegiatan yang dilakukan entrepreneur pada fase postlaunch adalah membuat strategi dan perencanaan untuk meningkatkan jumlah konsumen, meningkatkan dan mempertahankan karyawan yang berkualitas, serta memikirkan tentang exit strategy. Exit strategy sendiri merupakan prosedur untuk mentransfer atau menjual kepemilikan usaha kepada orang lain.

Perlu diingat bahwa fase-fase di atas berjalan secara berkelanjutan. Artinya ketika entrepreneur sudah berada pada fase postlaunch, bisa saja ia kembali lagi ke fase prelaunch karena melihat ada peluang baru pada usahanya, seperti peluang untuk membuat produk atau jasa baru. Selain itu, jarak (lama waktu) antara satu fase dengan fase yang lain dapat bervarisai, tergantung dari variabel-variabel yang berpengaruh pada fase tersebut. Jadi untuk menjadi seorang entrepreneur, Anda tidak boleh cepat puas karena sudah mencapai suatu tahap tertentu. Anda harus terus menerus melihat kemungkinan munculnya peluang usaha agar kegiatan usaha yang Anda lakukan dapat terus berkembang dan bersaing dengan kompetitor.

Penulis:
Ahmad A. Aziz (Mahasiswa)  dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo (Dosen)
Program Studi Psikologi
Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Baron, R. A., (2007). Entrepreneurship: a process perspective. Dalam Baum, J, R., Frese, M., & Baron, R. A., The psychology of entrepreneurship (19-39). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Inc.

Biya, C. I. M. J., & Suarya, L. M. K. S. (2016). Hubungan dukungan sosial dan penyesuaian diri pada masa pensiun pejabat struktural di Pemerintahan Povinsi ABC. Jurnal Psikologi Udayana. Vol. 3, No. 2.

Kementerian Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah Republik Indonesia. (2017). Ratio wirausaha Indonesia naik jadi 3,1 persen. Retrieved from: http://www.depkop.go.id/content/read/ratio-wirausaha-indonesia-naik-jadi-31-persen/

Mustofa, A., (2018). 4 alasan mengapa jadi karyawan (dan bukan entrepreneur) itu baik. Retrieved from: https://id.techinasia.com/alasan-menjadi-karyawan-itu-baik

Sani, S., (2017). Entrepreneurship vs kerja kantoran, mana yang lebih enak?. Retrieved from:                 http://www.gogirl.id/news/life/career-timeline-entrepreneurship-vs-corporate-job-k35740.html

Usniah, S., & Alhifni, A., (2017). Karakteristik entrepreneur Syariah pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bogor. Jurnal Syarikah. 3(1). Halaman 372-390.

Wasisto, E., (2017). Pendidikan kewirausahaan melalui pembinaan karakter bagi siswa sekolah kejuruan di kota Surakarta. Probank: Jurnal Ekonomi dan Perbankan. Vol. 2, No. 1.

Wicaksono, P. E., (2017). Jumlah pengusaha RI meningkat tapi masih kalah dari Malaysia. Retrieved from: https://www.liputan6.com/bisnis/read/2882604/jumlah-pengusaha-ri-meningkat-tapi-masih-kalah-dari-malaysia