Rab. Okt 16th, 2019

Tahukan Anda bahwa Gus Mus, Kiai Pertama Penerima Yap Thiam Hien Award?

Pada hari Rabu, 24 Januari 2018 diselenggarakan penyerahan Yap Thiam Hien Award 2017 kepada Gus Mus, antara lain, dihadiri oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H Laoly, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Laode M Syarif, serta perwakilan keluarga Yap Thiam Hien. Simak video penyerahan award tersebut di https://www.youtube.com/watch?v=Xlmqw-xnQF8

Yap Thiam Hien Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada pihak-pihak yang dinilai punya dedikasi luar biasa dalam penegakan HAM di Indonesia. Penghargaan ini mengambil nama sosok advokat Yap Thiam Hien (1913-1989) yang semasa hidupnya gigih memperjuangkan keadilan dan HAM. Penghargaan ini mulai diberikan pada 1992.

Ketua Yayasan Yap Thiam Hien Award, Todung Mulya Lubis mengatakan, Gus Mus memang tidak pernah dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia seperti Yap Thiam Hien atau Munir Said Thalib. Gus Mus lebih dikenal sebagai tokoh Nadhatul Ulama (NU), kiai, pimpinan pondok pesantren, dan budayawan.

“Namun buat saya, Gus Mus dengan semua karyanya, dengan semua sepak terjangnya, keterlibatannya, adalah seorang pejuang hak asasi manusia,” ujar Todung saat ditemui sebelum acara.

Todung menuturkan, saat ini masyarakat sangat membutuhkan sosok seperti Gus Mus di tengah menguatnya paham radikalisme dan sektarianisme. Kedua paham tersebut, kata Todung, sangat mengganggu situasi masyarakat yang beragam dan majemuk.

Gus Mus merupakan alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Cairo (Mesir, 1964-1970) untuk studi Islam dan bahasa Arab ini. Sebelumnya menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) 6 tahun (Rembang, 1950-1956), Pesantren Lirboyo (Kediri, 1956-1958), Pesantren Krapyak (Yogyakarta, 1958-1962), Pesantren Taman Pelajar Islam (Rembang, 1962-1964).

Dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944, Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) beruntung dibesarkan dalam keluarga yang patriotis, intelek, progresif sekaligus penuh kasih sayang. Kakeknya (H. Zaenal Mustofa) adalah seorang saudagar ternama yang dikenal sangat menyayangi ulama. Dinaungi bimbingan para kiai dan keluarga yang saling mengasihi, yatim sejak masih kecil tidak membuat pendidikan anak-anak H. Zaenal Mustofa terlantar dalam pendidikan mereka.

Buah perpaduan keluarga H. Zaenal Mustofa dengan keluarga ulama bahkan terpatri dengan berdirinya “Taman Pelajar Islam” (Roudlatuth Tholibin), pondok pesantren yang kini diasuh Gus Mus bersaudara. Pondok ini didirikan tahun 1955 oleh ayah Gus Mus, KH. Bisri Mustofa. Taman Pelajar Islam secara fisik dibangun diatas tanah wakaf H. Zaenal Mustofa, dengan pendiri dan pengasuh KH Bisri Mustofa sebagai pewaris ilmu dan semangat pondok pesantren Kasingan yang terkemuka di wilayah pantura bagian Timur waktu itu, dan bubar pada tahun 1943 karena pendudukan Jepang.

Bisri Mustofa sendiri adalah menantu KH. Cholil Harun, ikon ilmu keagamaan (Islam) di wilayah pantura bagian Timur. Ayah Gus Mus sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, lebih dari sekedar pendidikan formal. Meskipun otoriter dalam prinsip, namun ayahnya mendukung anaknya untuk berkembang sesuai dengan minatnya.

Menikah dengan Hj. Siti fatmah (1971), mereka dikaruniai 7 anak (6 putri, 1 putra bernama M. Bisri Mustofa), dan 13 cucu. Yang semakin langka dalam keluarga masa kini, namun nyata berlangsung dalam keluarga Gus Mus adalah hubungan saling menghormati, saling menyayangi di antara sesama anggota keluarga. Sebagai ilustrasi, kiprah sang ayah di dunia politik (Anggota Majelis Konstituante, 1955; Anggota MPRS, 1959; Anggota MPR, 1971), tidak dengan sendirinya membuat Gus Mus tertarik kepada dunia politik.

BACA JUGA  Lotte Corporation Dukung Pendidikan Indonesia melalui Lotte Beasiswa Juara 2019

Jika akhirnya Gus Mus terjun juga ke dunia politik (1982-1992 anggota DPRD Jawa Tengah; 1992-1997 Anggota MPR RI) itu lebih karena pertimbangan tanggung jawab yang tak bisa dielakkannya, mengingat kapasitas-kapasitasnya. Dengan mengambil sikap-sikap politik yang sulit, Gus Mus sangat memperhitungkan restu keluarganya, terutama ibundanya Hj. Ma’rufah, selain istri dan anak-anaknya.

Disiplin dalam menulis

Bisri Mustofa penulis Tafsir al-ibris yang masyhur, di zamannya termasuk ulama ‘nyeleneh’ karena bekerja sebagai penulis. Beliau dikenal kemampuannya menerjemahkan kitab-kitab klasik berbahasa Arab menjadi bacaan indah sekaligus mudah difahami.

Produktivitas menulis keluarga ulama ini, khususnya produktivitas kepenulisan KH. Bisri Mustofa dan KH. Misbach Mustofa (keduanya putra H. Zaenal Mustofa) baik dalam bahasa Indonesia, Jawa maupun bahasa Arab mendorong inovasi diadakannya pelatihan menulis dalam bahasa Indonesia dan menerjemahkan kitab dalam bahasa Indonesia bagi para santri Taman Pelajar Islam (1983) yang diprakarsai adik Gus Mus KH M. Adib Bisri. Ketika itu kemampuan menulis dalam bahasa Indonesia rata-rata santri sangatlah minim.

Gus Mus sendiri bersama kakaknya KH M. Cholil Bisri, sejak muda mempunyai kebiasaan menulis sajak dan saling berlomba untuk dipublikasikan. Gus Mus yang suka membaca sejak masa kanak-kanak, tulisannya sejak remaja sudah banyak dimuat berbagai media masa termasuk Kompas (Kompas Minggu, 9 Januari 1997). (Untuk menghindarkan diri dari ‘bayang-bayang’ nama besar ayahnya, Gus Mus pernah menggunakan nama M. Ustov Abi Sri sebagai pseudonimnya). Untuk mengenang almarhumah sang istri, Gus Mus membuat puisi berjudul Sidik Jari. Meskipun istrinya telah tiada, namun keberadaannya masih terasa di sisi Gus Mus. Simak pembacaan puisinya yang sangat menyentuh di https://www.youtube.com/watch?v=6n6w3tSPUV8.

Disiplin dalam Berorganisasi dan Berpolitik

Sejak muda Gus Mus adalah probadi yang terlatih dalam disiplin berorganisasi. Sewaktu kuliah di Al Azhar Cairo, bersama KH Syukri Zarkasi (sekarang Pengasuh Ponpes Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur), Gus Mus menjadi pengurus HIPPI (Himpunan Pemuda dan Pelajar Indonesia) Divisi Olah Raga. Di HIPPI pula Gus Mus pernah mengelola majalah organisasi (HIPPI) berdua saja dengan KH. Abdurrahaman Wahid (Gus Dur).

Tidak berbeda dengan para kiai lain yang memberikan waktu dan perhatiannya untuk NU (Nahdlatul Ulama), sepulang dari Cairo Gus Mus berkiprah di PCNU Rembang (awal 1970-an), Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah (1977), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, hingga Rais Syuriyah PBNU (1994, 1999). Tetapi mulai tahun 2004, Gus Mus menolak duduk dalam jajaran kepengurusan struktural NU. Pada pemilihan Ketua Umum PBNU 2004-2009, Gus Mus menolak dicalonkan sebagai salah seorang kandidat.

Sebagai konsekuensinya, Gus Mus tidak sekedar ‘kehilangan’ kesempurnaan memimpin NU –dalam arti struktural– namun juga dialamatkannya tudingan bahwa ia sekadar tokoh ‘lemah’, ‘ragu-ragu’, ‘tidak tegas’, ‘tidak serius’ terhadap –bahkan ‘cuci tangan’ dari persoalan-persoalan NU. Sementara bagi Gus Mus, dengan ‘berada di luar orbit’, ia justru bisa ‘menjadi kiai umat tanpa membedakan latar belakang, warna pakaian dan politik’. “Saya harus bisa mengukur diri sendiri. Mungkin lebih baik saya tetap berada di luar, memberikan masukan dan kritikan dengan cara saya,” jelasnya. “Kalau saya biasanya mendoa, ya saya akan mendoa. Kalau semua orang misalnya mau mengukur dirinya sendiri, insya Allah baik bagi dirinya, baik juga bagi umat”.

BACA JUGA  Les Privat dengan 3 Gaya Belajar : Les Privat To Be

Disiplin dalam melukis

Sewaku kuliah di Al Azhar (Cairo), Gus Mus dikenal sebagai atlet bulu tangkis dan sepak bola yang andal. Selain bulu tangkis dan sepak bola, melukis dan menulis adalah kegemaran Gus Mus sejak muda. Kenang Gus Mus, “…saya itu kalau ngaji, kitabnya suka saya gambari. Ketahuan ayah saya, tapi malah saya diajak ke perkampungan para pelukis di Sokaraja iyu. “ Gus Mus juga bercerita tentang guru melukisnya yang lain: “ …ada pelukis keliling, dia gambar wajah orang pakai kertas dan konte (sejenis pensil). Dia itu kakinya lumpuh. Sayalah yang mendorongnya keliling kota Rembang ini… hanya saking tertariknya saja. Saya ingin melihat dia melukis. Itulah antara lain cara saya belajar. Jadi saya tidak belajar secara khusus.” Sewaktu menjadi santri di Krapyak, Gus Mus sering jalan-jalan ke rumah-rumah seniman Yogya. Salah satunya rumah Affandi. Sampai ketika Affandi ke Mesir, Gus Mus selalu “nempel’ Affandi.

Mengapa ia sampai kini melukis, Gus Mus menyatakan: “Saya punya kebiasaan, kalau ada dorongan dari dalam itu, kalau tidak saya tuangkan dalam tulisan atau oret-oretan, rasanya masih seperti ada ganjalan. Apa yang saya lakukan itu merupakan dorongan dari dalam. Baik menulis maupun melukis, itu dorongan dari dalam yang tidak bisa dibendung, bahkan oleh saya sendiri. Karena sakit kalau tidak saya tuangkan. “

Gus Mus kini mantan perokok menjadi inovator sebagai pelukis pertama di atas amplop surat dengan memanfaatkan klelet (residu rokok) sebagai medium lukisannya. Sejumlah lukisan klelet karyanya itu digelar dalam sebuah pameran tunggal bertajuk “99 Lukisan Amplop” di Gedung Pameran Senirupa Depdikbud Jakarta (1997). Dirjen Depdikbud RI pada waktu itu, Edi Setyawati, mengapresiasi Gus Mus sebagai ‘manusia pelaku perubahan yang mewarisi gagasan-gaasan modernisasi dalam bidang kesenian’. Lukisan amplop Gus Mus menurut Edi Sdyawati merupakan ‘karya-karya seni rupa yang spesifik, baik bentuk, teknik, maupun pemaknaannya’. Mantan Mendikbud RI Fuad Hassan dalam sambutannya saat membuka pameran, menyatakan bahwa karya Gus Mus itu ‘sangat unik, bukan saja karena ciptaseni seorang Kiai, juga karena karyanya pantas dianggap tunggal dalam wujud dan gayanya”.

Disarikan dari http://gusmus.net

(EGS)

 

Baca Juga