Sen. Feb 24th, 2020

Soft Skill Yang Perlu Dipelajari dan Ditingkatkan di Tahun 2020

Saat ini dunia sedang memasuki tahap revolusi industri yang keempat. Sebuah periode yang sering disebut dengan era industri 4.0. yang ditandai dengan pemanfaatan secara maksimal teknologi tingkat tinggi (advanced technology), digitalisasi dan komputerisasi di segala lini kehidupan.

Teknologi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), otomatisasi, robotic, pemanfaatan big data, bioteknologi akan semakin familiar ditemui dan diterapkan di dunia industri, pekerjaan, layanan pendidikan (sekolah), layanan kesehatan, industri kreatif dan berbagai bidang lainnya. Suka tidak suka, siap atau belum siap, era disrupsi teknologi yang akan mengubah cara hidup manusia ini, sudah hadir persis di depan mata kita. Sulit bagi kita untuk menghindari atau menolaknya.

Baca juga: Softskill yang Wajib Dimiliki Entrepreneur Muda

Implikasi dari revolusi industri keempat ini, akan melibatkan perubahan sistemik di banyak sektor dan aspek kehidupan manusia. Ini secara fundamental akan mengubah cara bagaimana kita hidup, bekerja, berperan, berinteraksi, belajar dan mendapatkan informasi. Selain menawarkan berbagai peluang yang dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup manusia, revolusi industri 4.0 juga mensyaratkan tuntutan-tuntutan dan tantangan yang harus dijawab dan direspon secara adaptif oleh kita.

Bagaimana mempersiapkan diri pada era Industri 4.0?

Hardskill dan penguasaan teknis pada bidang tertentu masih tetap penting, karena hal tersebut merupakan keahlian dan modal dasar bagi kita.  Namun, hanya dengan mengandalkan keahlian dasar kita untuk berpartisipasi, bertahan dan berkomptisi di revolusi industri 4.0 tidaklah cukup. Para pelajar dan profesional pada era ini dituntut tidak hanya pintar dan menguasai teori saja, mereka juga harus memiliki kemampuan belajar (learning ability) tinggi untuk mengikuti perubahan yang sedemikian cepatnya.

Bila hanya mengandalkan keahlian profesional dan kemampuan teknis saja, sebuah organisasi tidak dapat mencapai target dan tujuan. Organisasi membutuhkan individu-individu yang mampu memadukan dengan baik antara pengetahuan dan skill berbasis ilmu pengetahuan yang mereka miliki dengan berbagai soft skill tambahan yang relevan dengan kebutuhan organisasi.

Salah satu contoh perusahaan yang menuntut penguasaan soft skill pada karyawannya yaitu Google,  perusahaan teknologi tinggi yang paling diidam-idamkan oleh fresh graduate Amerika sebagai tempat bekerja. Pada saat merekrut calon karyawan baru, Google tidak sekedar memprioritaskan kemampuan teknis dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, keteknikan dan matematika (Science, Technology, Engineering dan Math/STEM).

Skor STEM bukanlah poin utama penilaian dan menduduki peringkat terakhir dari delapan skill yang menjadi persyaratan. Tujuh skill penting yang dibutuhkan oleh Google terhadap karyawannya justru kemampuan-kemampuan interpersonal yang kuat, diantaranya: 1) mampu menjadi coach, 2) kemampuan berkomunikasi dan mendengarkan, 3) social awareness, 4) empati dan support pada kolega kerja, 5) berpikir kritis, 6) memecahkan masalah, serta 7) kemampuan untuk menganalisis dan menghubungkan ide-ide yang kompleks.

BACA JUGA  Yuk, Belajar Science

Menghadapi era disrupsi digital dimana beberapa bidang pekerjaan akan berubah dan menghilang digantikan oleh teknologi “pintar” (smart technology), maka dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan lengkap, baik hard skill maupun soft skill. Kreativitas merupakan salah  satu soft skill penting yang harus dimiliki oleh individu pada tahun 2020 selain berpikir kritis dan kemampuan mengelola emosi.  Forum Ekonomi Dunia telah mengidentifikasi dan menetapkan 10 jenis soft skill yang harus dimiliki dan dikuasai oleh para profesional pada tahun 2020:

  1. Kemampuan memecahkan masalah kompleks (complex problem solving)
  2. Berpikir kritis (critical thinking)
  3. Kreativitas (creativity)
  4. Kemampuan mengelola orang lain (people management)
  5. Kemampuan berkoordinasi (coordinating with others)
  6. Kemampuan mengelola emosi (emotional intelligence)
  7. Penilaian dan pengambilan keputusan (judgment dan decision making)
  8. Pelayanan (service orientation)
  9. Kemampuan negosiasi (negotiation skill)
  10. Berpikir lentur dan fleksibel (cognitive flexibility)

Konsep softskill mengacu pada kompetensi tidak langsung berhubungan pada tugas dan pekerjaan tertentu, namun  kompetensi ini diperlukan dalam posisi apa pun di organisasi karena sebagian besar kompetensi ini merujuk pada hubungan dengan orang lain di organisasi. Sedangkan hard skill mengacu pada kemampuan-kemampuan spesifik yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan tertentu. Yang penting untuk dipahami yaitu, sama halnya dengan hard skill, soft skill bisa dipelajari, dilatih dan ditingkatkan sepanjang waktu oleh individu, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.

Tidak ada alasan bagi kita untuk menunda dan mempelajari berbagai soft skill seperti yang dirujuk oleh World Economic Forumdi atas. Alvin Toffler, seorang pengusaha, penulis dan futurolog Amerika yang dikenal pemikiran-pemikirannya tentang teknologi, masa depan dan revolusi digital suatu ketika pernah mengatakan bahwa pada abad 21, mereka yang buta huruf (illiterate) bukanlah orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, namun mereka yang tidak mau belajar (learn), menanggalkan pelajaran sebelumnya (unlearn) dan belajar kembali (relearn).

Penulis:

Supriyanto, S.Psi. M.Si – Staf Pengajar di Prodi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya – Bintaro

Referensi:

Elmore, T. (2018). The Seven Top Skills Google Now Looks for in Graduates. Diunduh dari: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/artificial-maturity/201807/the-seven-top-skills-google-now-looks-in-graduates

BACA JUGA  Memilih Sekolah dan Jurusan

Gray, A. (2016). The 10 skills you need to thrive in the Fourth Industrial Revolution. Diunduh dari: http://www.wildespark.com/the-10-skills-you-need-to-thrive-in-the-fourth-industrial-revolution

Majid, S., Zhang Liming, Z.,  Tong, S dan Raihana, S. (2012). Importance of soft skills for education and career success. International Journal for Cross-Disciplinary Subjects in Education (IJCDSE). Volume 2 Issue 2, 2012.https://pdfs.semanticscholar.org/797c/f7e83148968b38c525fe7131027dce564b40.pdf

Schwab, K. (2016).The Fourth Industrial Revolution: what it means, how to respond. Diunduh dari: https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-fourth-industrial-revolution-what-it-means-and-how-to-respond/

Welianto, A. (2019). Pengertian Industri 4.0 dan Penerapannya di Indonesia. Diunduh dari:

https://www.kompas.com/skola/komentar/2019/12/16/160000169/pengertian-industri-4.0-dan-penerapannya-di-indonesia?page=all

Widiarini, A.D. (2018). Milenial, Siap-siap Sambut Revolusi Industri 4.0. Diunduh dari: https://edukasi.kompas.com/read/2018/10/03/17521731/milenial-siap-siap-sambut-revolusi-industri-40

Baca Juga

Tinggalkan Balasan