Sel. Okt 15th, 2019

Masih segar dalam ingatan kita, film Keluarga Cemara yang tayang beberapa bulan lalu di bioskop. Film yang merupakan adaptasi dari novel dan seri televisi karya Arswendo Atmowiloto di era 90an. Film ini berkisah tentang ketangguhan sebuah keluarga yang belajar saling memahami dan menguatkan satu sama lain ketika menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada.

Foto: Mybaby.co.id

Selain menawarkan pembelajaran bagi keluargadi Indonesia, film ini juga memberikan kehangatan tersendiri akan makna keluarga. Tentunya kita bisa melihat bahwa ada pembelajaran penting di keluarga yang akan dibawa oleh anak-anak, dan nantinya akan diteruskan ke generasi selanjutnya.

Ketika berbicara mengenai keluarga, yang terlintas dalam pikiran kita adalah adanya ayah, ibu, anak, dan kehangatan keluarga. Ya, benar! Paling tidak, dalam keluarga minimal ada 2 orang yang terikat dalam sebuah hubungan perkawinan. Keluarga merupakan lembaga sosial dasar, dari mana semua lembaga atau pranata sosial lainnya berkembang.

Keluarga merupakan sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional serta sosial dari tiap anggota keluarga.

Dengan kata lain, keluarga merupakan tempat awal dari penanaman, pembelajaran, serta perkembangan individu termasuk juga tempat pembelajaran nilai-nilai serta budaya yang akan diteruskan oleh generasi selanjutnya, termasuk nilai-nilai peran gender yang selama ini masih dianggap kaku pembagiannya di masyarakat.

Misalnya ibu dan anak perempuan memiliki tugas utama untuk melakukan tanggungjawab domestik (pekerjaan rumah), sementara ayah dan anak laki-laki diberikan pilihan untuk melakukan pekerjan domestik atau tidak. Meskipun sebagian lagi sudah memilih untuk melakukan pembagian peran yang lebih cair, sehingga tidak membebankan tugas utama domestik kepada perempuan saja.

Sebagai akibatnya, perempuan lebih banyak diberikan peran domestik karena masih adanya anggapan bahwa peran gender adalah kaku dan tidak dapat berubah, sebagai hasil internalisasi nilai dan sistem budaya yang mengakar. Hal ini berlaku bagi perempuan yang bekerja sekalipun. Sehingga bisa dibayangkan betapa berat beban yang dimiliki oleh perempuan ketika pembagian peran gender masih dianggap sebagai peran yang kaku. Tentu saja hal ini bisa berdampak secara psikologis tidak hanya bagi perempuan tetapi juga bagi keluarga.

BACA JUGA  Ayo Berkebun! (Bagian 1)

Agar terjadi pembagian yang setara dalam melakukan pekerjaan domestik, tentunya diperlukan keterlibatan semua anggota keluarga. Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk mulai menanamkan nilai pembagian peran gender yang cair adalah sebagai berikut:

  • Ajak anak untuk beraktivitas secara beragam tanpa membatasi pilihan kegiatan berdasarkan gender
  • Membagi tugas rumah tangga secara setara, baik anggota keluarga laki-laki dan perempuan.
  • Ayah memberikan contoh melakukan tugas-tugas rumah tangga dan terlibat dalam pengasuhan serta kegiatan bersama dengan anak-anak. Simak video tugas seorang ayah di dalam keluarga: https://www.youtube.com/watch?v=DDDJ5-iRT6Q
  • Ibu mulai mengambil peran pengambilan keputusan, aktivitas berkarya di luar rumah dst.
  • Berani memperlihatkan kesetaraan pembagian peran baik kepada tetangga atau kerabat keluarga, sehingga menjadi contoh nyata.

Langkah-langkah tersebut, tentunya akan membuat ketahanan sebuah keluarga semakin baik lagi karena dapat mengurangi dampak negatif yang muncul sebagai akibat dari pembagian peran domestik yang kaku. Keharmonisan keluarga juga semakin mudah untuk dicapai, karena semua pihak merasa memiliki tanggungjawab dan peran yang adil di rumah.

Lebih lanjut, anak-anak juga akan belajar mengenai penanaman nilai yang adil gender dari ayah dan ibunya, sehingga kelak mereka juga bisa menerapkan hal yang sama ketika sudah dewasa.

Jadi, tunggu apa lagi? Karena semuanya berwal dari rumah, mari kita buat keluarga kita semakin tangguh dan harmonis, dimulai dari berbagi peran gender yang adil.

Penulis:

Jane L. Pietra
Staf Pengajar Program Studi Psikologi
Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi:

Bagong, Suyanto J. Dwi Narwoko. 2004. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Media Group
Duvall & Logan. 1986. Marriage & Family Development. New York: Harper & Row Publisher.
Sumra MK, Schillaci MA. 2015. Stress and the Multiple-Role Woman: Taking a Closer Look at the “Superwoman”. PLoS ONE 10(3): e0120952

Baca Juga

Tinggalkan Balasan